MotoGP Fanfictions (6th) Be More Beautiful: Love, Love, Love

love,love,love

Cast:

Dani Pedrosa

Kichida Almaira

Genre:

apa aja dah genre nya… kalo bisa kasih usul yaak… abis author nya bingung ^^v *peace* ahahhaa

Author:

anak SMA yang pengen banget ketemu idolanya -,-” *iniapaanbgt(?)*

Rating:

PG-13

Soundtrack:

dengerin aja lagu yang udah ada di blog ini… penuh penghayatan dan kemudian galau deh wkwkwkwk *canda* dengerin aja instrumen nya sambil baca ff ini 😀

Disclaimer:

ini cerita gak akan co-pas. but remember this >>> cerita ini hanyalah FF belaka, jika ada kesamaan tempat, nama dan juga cerita adalah hanya kebetulan semata dan tidak ada unsur kesamaan 😀 *sinetronbangat* semoga kali ini gak ada yang typo lagi yaa ^^v RCL nya juga jangan lupa yaak… jangan jadi silent readers, okay?? 🙂

Hope You Like 😀

~HAPPY READING~

Dani’s POV

 

Entah kenapa bayangan wajah Alma tiba-tiba menghantui pikiran ku. Terakhir saat aku tau bahwa Alma sudah menjadi pacar Alvaro, aku berusaha untuk melupakannya. Ya, mungkin perasaan itu sempat hilang tapi rasa itu datang lagi tanpa alasan yang pasti. Beberapa hari yang lalu disaat sedang bosan tak sengaja aku melihat berita di TV kalau Alma dan Alvaro telah mengakhiri hubungannya. Siapa sih yang gak kenal sama cewek cantik ini???? Runner-up ajang pencarian bakat di Spanyol yang rating acaranya sangat tinggi???? Kichida Florentina Almaira. Sontak berita itu membuat aku kaget. Setelah berita itu tersiar, perasaan ku biasa saja. Tapi, kok rasanya aku ingin sekali bertemu dengan Alma. Aku ingin melepas rindu dengannya. Kalau bisa, aku juga ingin bertemu teman-teman lama ku sewaktu masih di Senior High School. Aku mencoba mengirim text lewat Direct Message. Ternyata, username twitter Alma masih aktif digunakan. Aku juga tak menyangka kalau Alma menerima ajakan ku untuk bertemu. Berdua, ya hanya berdua saja.

Aku ini orang yang terkenal sangat telat. Sewaktu di Senior High School juga aku mendapat angket ter-telat. Walau begitu, aku tetap bangga dengan angket angkatan itu. Aku dan Alma akhirnya setuju untuk bertemu di salah satu restaurant di Madrid. Yap, aku sengaja mencari tempat yang tidak terlalu jauh dari rumah. Apalagi kalau bukan agar tidak telat lagi.

 

“jangan telat lagi ya daniiiii….” Ucapnya lewat Direct Message.

 

Aku tidak tau apa yang aku rasakan sekarang. Senang, bahagia, takut dan yang lainnya semua menjadi satu. Awalnya agak susah menentukan kapan waktu untuk bertemu. Akhirnya, Alma memilih hari Minggu. Yaa, untuk orang se-tenar Alma yang jadwalnya padat, sibuk. Kalau kemana-mana pasti susah. Belum lagi harus didampingi pengawal yang berbadan besar itu.

 

“kamu yakin, keluar rumah tanpa pengawal-pengawal mu?” Tanya ku seraya bercanda.

 

“berlebihan deh. Biasa aja kali.” Jawabnya enteng.

 

Aku ragu, fans nya Alma itu gak sedikit. Sama seperti ku. Tragedi pipi ku yang merah karena dicubit fans. Uhh, rasanya itu hal yang paling menyebalkan. Sakitnya sampai 3 hari. Oke, kembali ke topik.

 

Dani’s POV end

 

***

Alma’s POV

 

*phone ringing*

 

Hah! Gak tau apa orang lagi capek. Aku sedang beristirahat di atas kasur ku yang nyaman ini. Kalau kalian pikir jadi entertainer itu menyenangkan, ahahaha salah banget. Iya sih, dulu aku juga mikirnya kalau jadi orang terkenal itu enak. Kemana-mana di kenal orang. Makanya bibi Pat menyarankan aku untuk mengikuti ajang pencarian bakat itu. Apalagi, karena bibi Pat tau, darah seni yang mengalir dari tubuh ibu ku ikut mengalir dalam tubuh ku juga. Dari mulai audisi 1, 2, 3 sampai grand final. Dan akhirnya aku menjadi runner-up nya. Tapi sekarang tidak lagi. Aku tidak bisa mengikuti beberapa show yang diadakan Essentric Entertaiment. Karena keadaan fisik ku sekarang ini tidak memungkinkan untuk melakukan aktivitas yang berlebihan. Aku kangen diriku yang dulu dan bukan yang sekarang. Sudah lah, aku tidak ingin membahas soal keadaan ku sekarang.

 

“hola! Alma.” Aku kaget. Daniiiii….. iyaaa…. Dani yang mengirim kan ku sebuah pesan melalui Direct Message. Aku juga baru sadar kalau akun twitter milik ku itu belum aku non-aktifkan.

 

“astaga. Ini benar dani bukan sih?” tanyaku bingung. Gimana enggak, Dani itu kan rider MotoGP yang terkenal. Terkenal dengan julukan Rider imut, kece, ganteng sepanjang masa. Ingat! Itu julukan, bukan aku yang ngomong.

 

“iya ini aku dani. Akun twitter mu masih aktif?” Tanya nya yang semakin membuat rasa penasaran ku menjadi-jadi.

 

“iya masih aktif. Tapi cepat atau lambat aku akan me non-aktifkan nya. Hahahha.” Jawab ku sedikit bercanda.

 

“aku ingin bertemu dengan mu. Kau yang menentukan harinya.” Lanjut nya.

 

Hmm, orang ini berterus terang sekali. Baru saja mengirim Direct Message. Eh, sekarang malah ngajak ketemuan. Oh, aku bingung menentukan waktunya. Untuk keluar rumah saja butuh perjuangan mendapatkan izin dari Paman Vale dan Bibi Pat. Tapi, ide itu muncul secara tiba-tiba. Minggu. Ya, hari itu benar-benar kosong tanpa jadwal check-up atau yang lainnya. Tapi, bibi Pat pasti melarang keras kalau aku pergi sendiri. Ya, akhirnya aku memutuskan untuk bertemu Dani hari Minggu. Tepatnya jam 2 siang. Masalah bibi Pat, aku akan bilang kalau aku pergi bersama teman-teman Essentric Entertaiment. Mudah kan? Walaupun minta izin keluar rumah sama bibi Pat itu sehidup-semati. Enggak juga sih, itu berlebihan. Ya pokoknya minta izin sama bibi Pat itu susah. Dia terlalu tegas. Tapi, Never give up. Aku gak akan bikin Dani kecewa.

 

Alma’s POV end

 

***

Dani’s POV

 

Hari Minggu. Raul menelfon ku.

 

“hari ini ada pemilihan mesin baru dan yang lainnya. Pokoknya semua rider Repsol Honda harus hadir. Tanpa terkecuali, tanpa alasan apapun!!”

 

Oh My God. Terus gimana sama janji aku bertemu dengan Alma???? Apa untuk bertemu dia saja aku harus bikin dia kecewa??? Gak mungkin kan???? Aku sudah janji akan menepati janji ku tanpa telat sedikit pun. Suuussssaaaahhhh…. Aku dan dia sama-sama sibuk. Oke, aku janji. Aku gak akan bikin Alma nunggu lama. Aku memasuki kamar mandi dan segera bersiap-siap menuju pusat tempat pemilihan mesin. Aku langsung menuju mobil dan mengendarainya dengan cepat. Ya, tau sendiri Alma itu orangnya kayak gimana. Pendiam, tapi kalau sudah marah cerewet nya itu kayak petasan banting. Oke, tiba di tempat. Raul langsung menghampiri ku. Jujur saja, saat pengarahan tentang mesin dan apapun itu yang masih ada sangkutannya dengan MotoGP, aku benar-benar gak konsen sama sekali. Yang ada di pikiran aku Cuma Alma, Alma, Alma lagi.

 

“hey, kau bilang semua rider repsol Honda harus datang tanpa terkecuali. Mana marc? Bukannya dia masih di Indonesia?” Tanya ku yang baru menyadari kalau si bocah ajaib itu tidak hadir.

 

“ahahaha… aku juga lupa kalau marc masih di Indonesia. Ya karena hanya ada kau disini, yasudah lah.” Jawab nya enteng.

 

“hey, kenapa kayak gitu??? Raul, aku punya janji sama orang lain. Aku janji gak akan telat buat ketemu sama dia.” Aku agak terbawa emosi. Tapi, aku berusaha agar tidak mengeluarkan amarah ku di depan orang banyak.

 

“siapa? Seorang gadis kah??? Apa dia itu pacar mu????” Tanya nya yang terus saja meledek.

 

“heh, ini bukan waktunya buat bercanda ya. Aku gak bisa lama-lama disini. 5 menit lagi aku harus pergi.” Jawab ku kesal.

 

“iya. Kau ingin pergi menemui gadis itu kan??? Iya aku mengerti.”

 

Untuk kali ini aku lagi gak pengen berdebat yang gak penting sama orang. Apalagi Cuma karena hal sepele. Sudah. Aku sudah minta izin dengan orang-orang di tim-ku untuk pulang lebih dulu. Aku langsung mengendarai mobil ku dengan kecepatan tinggi. Walaupun aku tau sangat berisiko melaju dengan kecepatan tinggi di jalan raya seperti ini. Tapi, itu semua demi kau. My Sweatheart.

 

Dani’s POV end

 

***

Alma’s POV

 

Jam 4.00 pm. Satu hal yang aku benci dari Dani sejak dulu. Ia selalu gak bisa on time. Dia pikir mudah menunggu selama dua jam dengan keadaan yang terik seperti ini? Aku berusaha supaya gak bikin kamu kecewa Dani. Tapi, kamunya???? Kita memang sama-sama sibuk kan??? Tapi, untuk sehari dan sekali aja kamu on time. Aku juga sibuk, tapi aku tetap berusaha ngasih yang terbaik. Aku gak mau kamu nunggu lama. Apalagi panas-panasan. Tapi, kenyataan nya malah aku yang nunggu lama sambil panas-panasan.

 

Udah panas, bikin tambah emosi aja lagi. Dan dia….. Alvaro….. Why??? Why??? Why did you have to comeback???? Sengaja aku ngelupain semua tentang Alvaro. Aku agak terkejut saat dia menghampiri.

 

“hai.” Alvaro menyapa dan membuat aku sedikit kaget.

 

“ka…ka…kamuu??” sahut aku yang saat itu benar-benar bingung. Aku kaget, kenapa Alvaro tiba-tiba bisa ada di belakang kursi yang saat itu sedang aku tumpangi. Tapi di sisi lain aku masih memikirkan keadaan Dani.

 

“iya. Kita udah lama gak ketemu kan? Kira-kira udah berapa lama ya?” Tanya nya yang mulai sok kenal sok deket. Ihh, apa-apaan sih orang ini. Aku bener-bener gak pengen liat mukanya lagi. Kalau melihat mukanya itu, apalagi membayangkan nya dengan wanita gelap nya. Ihh, rasanya ingin ku cambuk mukanya itu dengan pisau platinum.

 

“sedang menunggu seseorang? Siapa? Sepertinya dari tadi kau sendirian saja?” orang ini pengen tau banget urusan orang sih. Duh, makin bikin hancur mood aja.

 

“uhm,i..iya..iya… menuggu…yaa…menunggu.” Jawab ku terbata-bata. Ihh, liat mukanya aja males apalagi ngejawab. Ya, jawab apa adanya aja lah ya. Tak lama setelah Alvaro datang, Dani pun ikut datang menghampiri ku.

 

Aku langsung memarah-marahi  nya. Bodo amat lah walaupun itu di tempat umum sekali pun. Habisnya aku kesal. Dari zaman Senior High School pun Dani juga sering terlambat masuk kelas. Makanya, gak heran kalau dia selalu jadi perhatian guru sama temen-temen waktu di sekolah. Untungnya dia cerdas, baik, ramah, berprestasi pula.

 

“heh,bagus ya! Kau suruh aku menunggu 2 jam disini. Kau pikir mudah menunggu 2 jam dengan keadaan terik seperti ini?” aku terus mengomel di depan nya. Tapi, dia malah menggandeng tangan ku dan masuk ke dalam mobil.

 

Dani langsung minta maaf dan menjelaskan semua nya. Ternyata dia harus mengikuti apalah itu namanya. Aku mana tau, pokoknya tentang mesin-mesin gitu deh. Aku berusaha mengerti. Walaupun sebenarnya masih agak kesal. Kalau telatnya 30 menit atau 1 jam, mungkin masih bisa aku maafkan. Tapi, gimana kalau 2 jam??? Dan itu keadaannya terik banget???? Hah, ya udah lah. Toh, gak ada gunanya lagi marah-marah. Aku ngerti dan aku paham kok. Aku maafkan. Tapi, ku harap kejadian seperti ini jangan terulang lagi ya.

 

Alma’s POV end

***

Dani’s POV

 

Gawatttt!!!gawaaatttt!!! udah telat 2 jam. Pasti cewek cerewet itu bakal ngomel-ngomel nih. Duh, salah ku juga sih. Emang dasar nih si Raul. Ku pikir Marc juga ikut datang ke pertemuan itu. Bodoh nya lagi, kenapa aku gak sadar kalau Marc itu masih di Indonesia??? Kalau tau begitu kan, aku juga gak akan ikut pertemuan itu. Pasti aku langsung melarikan diri. Sampai di tempat. Katanya Alma sedang menunggu di bangku. Sejauh mata memandang, kayaknya gak ada bangku.

 

Aku berusaha terus mencari Alma. Ah, itu dia. Tapi, kenapa ada si Alvaro????? Apa mereka balikan lagi???? Duh, pikiran ku ini makin mengada-ngada aja. Baru saja aku datang, Alma sudah ngomel-ngomel karena kesal menunggu ku terlalu lama. Iya, kali ini aku bikin dia kecewa. Aku langsung menggandeng tangannya dan masuk ke dalam mobil. Aku coba jelasin semuanya dan syukurlah Alma mau mengerti. Walaupun keliatannya dia masih agak kesal. Dari raut wajah nya. Aku tau betul sifat Alma. Apalagi karena aku sayang sama dia, jadi aku terus berusaha membuat dia yakin kalau semua ini bukan murni kesalahan ku. Jalanan yang macet membuat kami harus menunggu cukup lama. Tidak ada percakapan yang terjadi antara aku dan Alma. Ya, mungkin dia masih kesal dengan kejadian yang tadi. Tapi, aku berusaha mengerti.

 

*****

            Restaurant ini memang selalu ramai. Sampai-sampai kami berdua tidak kedapatan tempat duduk. Tapi aku lihat ada sepasang tempat duduk yang kosong. Saat ku beri tau Alma dia langsung menggandeng tangan ku. Ya Tuhan, ini mimpi bukan sih???? Oh, ini kenyataan. Senang sekali rasanya. Saat Alma menyentuh tangan ku saja, aku senang apalagi menggandeng nya. Ahahaha…. Benar-benar kejadian yang gak akan terlupakan. Okay, aku coba memulai percakapan dengan Alma. Daritadi dia hanya terdiam. Seperti ada sesuatu yang sedang ia pikirkan.

 

*****

            Hmm, seperti nya ini waktu yang tepat buat nyatain perasaan ku sama Alma. Baiklah, akan ku coba.

 

“alma, aku mau ngomong sesuatu.”

 

“apa?apa?” Tanya nya penasaran.

 

“gak jadi deh.” Jawab ku ragu.

 

“duh, dani kebiasaan. Dari dulu kalo ngomong pasti setengah-setengah. Apaan sih?”

 

“yakin mau tau? Tapi jangan marah ya?” sekali lagi aku meyakinkan Alma agar tidak marah.

 

“iya. Iya. Gak akan marah. Apaan sih?”

 

“hmm, aku cuma mau bilang. Aku suka sama kamu.”

 

“dani lagi bercanda nih? Aduh, ini cowo ya dari dulu kerjaan nya bercanda terus.” Alma sepertinya gak yakin sama omongan aku.

 

“aku ngerti kok, mana waktu buat bercanda sama enggak. Kamu pikir, buat nyatain perasaan aku ke perempuan yang selama ini aku suka, itu bercanda?”

 

*****

            Alma terus melempar beberapa pertanyaan. Dan akhirnya, entah ini Cuma mimpi di siang bolong atau bagaimana. Dia menerima ku. Yap, mulai sekarang aku dan Alma telah menjadi sepasang kekasih. Dan aku berharap ini akan berlanjut. Ingat! Hanya maut yang bisa memisahkan kita. Bukan yang lain.

 

Dani’s POV end

***

Alma’s POV

 

Aku gak ngerti sama apa yang dipikirin Dani. Dia mau bikin aku kena serangan jantung atau bagaimana??? Dia suka sama aku???? Aku masih gak percaya. Tapi kalau ini memang kenyataan, terima kasih Tuhan….. Kau telah mengabulkan doa ku. Aku juga udah lama suka sama Dani. Tapi, gak mugkin kan kalau perempuan duluan yang nyatain perasaan nya???? Setelah aku putus sama Alvaro, aku berharap akan dapat pasangan yang lebih baik. Dan aku yakin Dani lah orang nya. Akhirnya kami saling melemparkan janji-janji kita dalam menjalani hubungan ini. Ahahaha….bukan janji sih, tapi perlu bukti juga.

 

*****

            Dani mengantar ku pulang. Senang sekali rasanya hari ini. Kejadian yang gak akan di lupain. Yang masih membuat ku senang adalah Dani. Dani akhirnya kamu peka juga yaa. Dari dulu di kode-in di modus-in tapi gak peka-peka juga. Sampe sekarang akhirnya kamu bisa peka juga. Ya Tuhan, ini keajaiban banget. Hah, ya udah lah. Aku capek. Aku mau istirahat dulu atau mungkin tidur. Semoga mimpi-in kamu lagi Dani.

 

Alma’s POV end

 

Advertisements

One thought on “MotoGP Fanfictions (6th) Be More Beautiful: Love, Love, Love

  1. Pingback: MORE FANFICTIONS | MY FANFICTIONS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s