MotoGP Fanfictions (8th) Be More Beautiful: Stuck With You

random

Cast:

Dani Pedrosa

Kichida Almaira

Marc Marquez

Kichida Caroline

Alex Marquez

Patricia Yora

Valentino Rossi

Julian Marquez

Rosser Alenta

Genre:

Romance, Drama, Family, Comedy, dan se-species nya deh yaa 😀

Rating:

PG-13

Author:

kenal gak sama author nya??? 🙂 gak kenal???-___-” tak kenal maka tak sayang loh:D kenalan dulu yuuk 🙂 nama ku Siti Azhara Saraswaty..kepanjangan yaa??? panggil ara aja;)

Soundtrack:

kalo aku sih suka nya pake instrumen2 nya dari Yiruma 😀 selamat mendengar…

Disclaimer:

Cerita ini hanyalah FF belaka.. gak ada unsur keseriusan… khayalan yang berlebihan dapat mengakibatkan efek samping seperti galau, sendu, dan semua itu tidak di tanggung oleh author…. no co-pas and no bashing 🙂 sekali lagi, semua kejadian yang ada di cerita ini cuma hasil imajinasi author… 😀 so, don’t take it serious^^ RCL nya di tunggu!!! 😉

Hope You Like 🙂

~HAPPY READING~

Perjalanan yang cukup melelahkan. Hampir seharian penuh hanya duduk dan diam di kursi pesawat.

“hey, my queen heart. Rumah mu masih jauh kah dari sini?” Tanya Marc.

“ya begitulah. Masih harus sekali naik bus lagi. Why?” Aline berbalik Tanya.

“aline, listen to me. Ini udah larut malem. Kamu gak mungkin aku biarin pulang sendiri. Biar aku antar.” Jawab Marc.

“duh, perhatian banget ini si marc sama pacarnya. Coba sama adiknya, mana pernah perhatian.” Timpa Alex.

“diem sih, lex. Gak usah kayak jomblo mengenaskan gitu deh.” Sahut Marc dengan wajah kesal. Alex hanya menundukkan kepalanya sambil komat-kamit gak jelas.

Aline hanya mengikuti apa yang diperintahkan Marc. (“benar juga. Ini udah malam, aku juga takut pulang sendiri.”) benak Aline. Bus berhenti tepat di depan Marc dan Aline.

*****

“marc, ayo masuk. Aku buatkan teh hangat untuk mu.” Ajak Aline.

“nah iya, ayo masuk marc. Kapan lagi coba di buatin teh hangat  pas lagi malem-malem dingin gini.” Alex senyum-senyum gak jelas.

“apa-apaan sih,lex?” bentak Marc.

“gracias my queen heart. Bukannya aku mau nolak, tapi ini udah malem. Aku harus pulang ke rumah. Mungkin besok.” Lanjut Marc.

“oh begitu, ya sudah. Gracias juga ya udah nganterin aku sampe rumah. Kamu sama alex hati-hati ya pulang nya.”

“iya pasti.” Sambung Alex.

“konbanwa.” Kata Marc dengan bahasa jepang yang seadanya. Marc langsung mencium kening Aline. “te amo aline.” Ucap Marc berbisik. Aline hanya tersenyum manis.

“ya ampun. Selalu aja ada pemandangan kayak gini.” Gerutu Alex.

“hahahaha….” Aline tertawa terbahak-bahak. “makanya, lex. Cepat dapat jodoh ya. Ahahaha… ya udah sana pulang. Nanti kemalaman loh.” Sambung Aline. Lambaian tangan saling bersahutan.

*****

            Suasana di dalam rumah sudah sepi. Kemana paman Vale, bibi Pat, dan Alma? Mungkin sudah tertidur. Aline perlahan masuk dan mengunci pintu.

“bukannya bahaya tertidur dan meninggal kan rumah tanpa terkunci?” aline bertanya-tanya. “belum lagi kalau ada orang jahat yang tiba-tiba ingin merampok.” Sambung Aline. Ruang tamu dan ruang keluarga sudah gelap. Tidak ada sama sekali lampu yang menyala kecuali. Lampu kamar Alma.

Dengan hati-hati dan takut tersandung, Aline melangkah menuju kamar Alma. Suara decitan engsel pintu kamar terdengar cukup keras, tapi tidak membangunkan alma yang sedang tertidur pulas. Aline meletakkan tas dan kopernya di samping meja rias milik Alma. “wah, alma kok tambah cantik sih? Apa karena aku udah lama gak liat wajahnya lagi??? Swear, cantik parah. Maksimal.” Bisik Aline terpaku melihat wajah Alma yang masih tidur.

“AAAAAAHHHHHHH…..” teriak Alma kaget saat membuka matanya dan ternyata Aline sudah berada tepat di wajah nya.

“ALMAAAAAAA…..” sahut Aline teriak dan langsung memeluk Alma.

“IIIISSSSSHHHHH…..” alma melepaskan pelukan Aline.

“hih, aline. Apa-apaan sih dateng-dateng main masuk kamar orang sembarangan. Ketok pintu kek, ngasih salam kek. Gak sopan banget.” Alma terus mengomel sambil mengelus-elus dada nya yang masih berdetak kencang akibat ulah Aline.

“ya ampun, alma. Dengar ya. Aku masuk ke dalam rumah aja udah hati-hati banget. Supaya paman sama bibi gak bangun. Terus, asal kamu tau ya. Pintu itu gak ada yang di kunci sama sekali. Untung aku yang masuk. Coba kalo rampok yang masuk? Isi rumah ini bakal abis. Termasuk nyawa mu. Ya aku minta maaf kalo emang……” alma langsung memotong omongan Aline.

“ssssstttttt…. Udah lah. Iya,iya. Aku tadi lupa ngunci pintu. Aku Cuma ngasih tau doang. aku itu kalo kaget, pasti napas nya sesak. Kamu tau itu kan?” Alma masih terengah-engah. Mereka berdua saling menatap dan akhirnya di sambut oleh senyuman manis.

“alineeee, I miss you. How are you?” Tanya Alma sambil memeluk Aline.

“almaaaa, aku baik-baik aja. Aku juga kangen sama kamu. Apalagi sama paman Vale dan bibi Pat. Sayangnya mereka masih tidur.” Jawab Aline. Alma tak kuat lagi membendung air mata yang sekarang jatuh di pipi nya. Secepat mungkin Alma mengusap pipi nya. Ia tidak mau terlihat sedih di depan adiknya yang baru pulang dari Indonesia.

“buat surprise untuk paman Vale dan bibi Pat besok pagi.” Kata Alma menepuk pundak Aline.

“aline, Indonesia yang sekarang udah berubah belum? Kamu kan 10 bulan di Bali, ada yang berubah gak dari Bali?” Tanya Alma yang penasaran sambil memaju mundurkan pundak Aline.

“apa nya yang berubah sih al. masih sama kayak dulu. Tapi pantai kuta nya itu makin bagus aja. Apalagi kalo dipinggiran pantai sambil candle light dinner.” Jawab Aline senyum-senyum malu.

“candle light dinner???? Ahh, aline pasti udah pernah candle light dinner di pinggiran pantai kuta sama marc yaa???” Tanya Alma menggoda adiknya.

“ih, apaan sih al. hmm, ya pernah lah beberapa kali. Dan itu romantis banget. Kamu harus nyobain candle light dinner disana al.” ujar Aline kemudian terdiam. “tapi alma mau candle light dinner sama siapa ya?? Alma kan gak punya…..” sambung Aline memanjangkan kalimatnya.

“gak lagi.” Sahut Alma singkat.

“gak lagi? Maksudnya? Kamu udah gak jomblo? Emang udah jadian sama siapa? Udah berapa lama jadiannya?” Tanya Aline ingin tahu.

“ihh, pengen tau aja sih. Sama orang lah. Orang nya keceeeee parah.” Jawab Alma masih merahasiakan.

“pelit banget ya orang ini. Kayak nya aku tau deh siapa orangnya.” Aline berfikir sejenak. Alma masih senyum-senyum sendiri menunggu jawaban dari adiknya itu. “DANI PEDROSA…. I guess.”

“yee, sok tau nih bocah.” Alma menjulurkan lidahnya.

“oh bukan? Terus maksudnya foto di meja rias itu apa?” Tanya Aline menggoda. Alma kaget dan langsung menoleh ke belakang. “muahahahha….. iya ya.. kok aku aneh ya??” Tanya Alma menyeringai pada dirinya sendiri.

“hahahahaha… udahlah, gak usah bohong. Udah berapa lama jadiannya?” Tanya Aline lagi. “minggu depan baru sebulan.” jawab Alma senyum-senyum gak jelas.

“udah gih sana tidur. Udah malam. Aku juga ngantuk. Udah ah!” sambung Alma yang langsung menarik selimutnya dan kembali tertidur. “heh? Aku kan belum beres-beres. Ya udahlah, pinjam kamar mandinya alma aja.”

*****

            Meja makan sudah siap dengan sarapan ala western food. Paman Vale, bibi Pat, dan Alma sudah siap untuk menyantap sarapan hari ini.

“huuuuuaaaaaahhhhhh….” Aline perlahan-lahan menuruni tangga. Rasa kantuk nya belum juga hilang sampai pagi ini. Seperti hantu yang bergentayangan dan tidak mau hilang.

“MORNIIIIINNNNNNGGGGGG…….” Teriak Aline yang masih mengusap matanya.  Berusaha melawan kantuk nya yang kolosal.

“astaga….. alineeee….. “ bibi Pat berlari menuju Aline dan langsung saja memeluknya. Tak lupa memberikan kecupan di pipi Aline yang chubby. “kok kamu pulang gak bilang-bilang dulu sih?” Tanya bibi Pat yang membelai lembut rambut Aline.

“tanyakan pada Alma.” Jawab Aline melirik ke arah Alma. “kok aku sih?” Tanya Alma sok bingung dan pura-pura gak tau.

“ohh, jadi kalian sekongkol ya? Gak mau kasih tau bibi kalau aline udah pulang?” tanya bibi Pat pura-pura kesal tapi wajahnya masih memberikan senyuman.

“ayo, bi. Lanjutin aja dulu makannya. Ayo aline juga.” Ajak Alma memberikan senyuman termanisnya.

“eh, keponakan udah pulang. Gimana liburannya di Indonesia?” tanya paman Vale dengan nada bercanda. “lah? Kok liburan sih? Kuliah kelessss…..” “gak ada waktu buat main-main disana. Benar-benar di tuntut buat kerja rodi.” Jawab Aline yang masih bingung mencari makanan apa yang harus lebih dulu dia makan.

“ya ampun, berlebihan banget. Kerja rodi. Emang nya masih jaman jajahan belanda?” tanya Alma iseng.

“bagus itu, aline. Belajar terus ya. Jangan kebanyakan main. Jangan kebanyakan pacaran. Biar bisa jadi orang sukses ya.” “kamu harus lebih cerdas dari ayah sama ibu mu. Mereka berdua itu  pengusaha yang sukses loh. Bawa nama baik keluarga juga.” Ujar Paman Vale panjang lebar.

“SIIIAAAAPPPPP BOOOOSSS…..” teriak Aline dengan posisi tangan memberi hormat. Sampai-sampai Alma, bibi Pat, dan  paman Vale menutup telinganya.

“aku janji akan jadi orang cerdas, akan jadi orang sukses, akan bawa nama baik keluarga. I promise. YEEAAAAYYY….” Lagi-lagi Aline teriak. Walau begitu kepulangan Aline ke Madrid membuat semua orang-orang terdekatnya bahagia. Diam-diam Aline adalah sosok yang di idolakan Alma. Mengapa begitu?????

Karena menurut Alma, Aline adalah sosok gadis yang ceria, periang, walaupun masih kekanak-kanakan tapi, apapun keadaan yang dialami Aline, sedih, bahagia, galau, sendu atau semacamnya. Aline selalu tersenyum. Dan yang lebih Alma ingat “give your smile to everyone who around you. Cause with smiling, you will feel happy. No matter the situation.” Kata-kata yang masih Alma ingat dari seorang Kichida Caroline.

“mana oleh-olehnya? Bawa gak?” tanya Alma.

“oh iya, benar. Oleh-oleh nya mana, girl?” sambar Paman Vale tersenyum menagih janji Aline.

“BEREEESSSSS BOOOOSSSS…..” lagi Aline teriak. Kali ini mungkin frekuensinya melebihi 20khz. “ semua oleh-oleh makanan, pakaian. Semua nya ada di koper sama ransel ku. Nanti diambil ya. Tapi, sekarang makan dulu aja.” Sambar Aline.

“IYAAAA GIRL….” Alma, paman Vale, dan bibi Pat serempak ikut teriak. Aline hanya bisa membalas dengan tawa geli nya.

*****

Kediaman Mr. Marquez.

Kepulangan sang kakak-adik juga disambut hangat oleh keluarga mereka. Julian Marquez sang ayah dan Rosser Alenta sang ibu memberikan pelukan tanda rasa rindu yang kolosal pada kedua anak laki-lakinya itu.

“Mom, How are you?” tanya Alex manja pada sang ibu.

“I’m fine boy. But, I miss you.” Jawab sang ibu sambil terus membelai rambut Alex.

“alex juga kangen kok sama mommy.” Alex mencium kening ibunya.

“semalam kenapa gak kasih salam dulu? Main masuk aja ke dalam rumah.” Ujar Mr. Julian pada kedua anak laki-lakinya. “Cuma gak mau ganggu tidur mommy sama daddy aja.” Jawab Marc yang langsung merobohkan dirinya di sofa kesayangan nya yang sangat empuk.

“ayo…. Alex….kita battle lagi…. PS4 nya udah nyampe nih….” Ajak Marc yang sibuk menyambungkan satu per satu kabel PS4 nya.

“lah, ayo lah. Tapi jangan frustasi ya kalo gue yang dapet pole position.” Alex menyetujui.

“emang lu pernah MENANG? Kapan woy? Eh, iya MENANG… MENANGIS atau MENANGGUNG MALU.” Ejek Marc menyeringai.

“WHATEVER!!!! Buktiin aja.” Alex menantang Marc yang memang selama ini peraih pole position (di PS4).

“liat anak laki-laki mu. Baru pulang semalam. Pasti kan kurang tidur. Malah langsung main PS4.” Ujar Mrs. Rosser Alenta. “ya udahlah. Terserah mereka aja. Nanti juga kalo ngantuk mereka tidur sendiri.” Timpa Mr. Julian enteng.

*****

Message from: Dani26 ^^

“dear…. I miss you so much ({})….. we have to meet tonight…. Can you???”

Alma yang saat itu sendirian di kamar hanya tersenyum sendiri mendapat pesan singkat dari pacarnya.

Message to: Dani26^^

“same with you, dear….({}) yess, I think so…. We have to meet… hmm, what if we meet at Fresco café tonight???”

Alma membalas pesan singkat dari Dani. Masih terbayang di pikiran Alma, apa yang akan terjadi malam nanti saat bertemu Dani.

“Almaaaa….. bisa turun sebentar?” panggil bibi Pat dari bawah di ruang keluarga. Alma mulai menuruni tangga.

“iya bi? Ada apa?” tanya Alma lembut.

“kamu gak lupa kan nanti malam kamu harus check-up ke rumah sakit? Jangan bikin dokter loris nunggu lama lagi.” Jawab bibi pat memberikan senyum simpul dan seketika berubah saat melihat ekspresi wajah Alma.

“kamu kenapa, al?” tanya bibi Pat cemas.

“bi, bisa gak check-up nya di tunda sampai besok? Malam ini gak bisa.” Ujar Alma memasang raut wajah kecewa.

“kenapa gak bisa? Pasti mau pergi deh. Ayolah, al. minggu ini kamu Cuma bisa check-up malam ini aja. Dokter loris juga masih ada keperluan lain. Jadi ya… memang Cuma malam mini aja bisanya.” Jelas bibi Pat.

“bi, aku bosen. Tiap hari yang di liat kalo gak kamar tidur ya rumah sakit. Ketemu sama temen-temen Essentric aja gak boleh.” Kali ini nada Alma meninggi.

“bukannya gak boleh. Tapi kamu kan harus banyak istirahat. Bibi gak mau kamu sakit. Udah. Itu aja. Nanti kalo kamu udah sembuh juga kamu bisa kayak dulu lagi kan??? Jangan begitu,al.” jelas bibi Pat lagi dengan nada merendah.

“terus dengan aku di rumah aja, bolak-balik check-up ke rumah sakit. Aku bisa sembuh??? Bi, sembuh nya aku itu tergantung dari datangnya pendonor,bi. Terus mau sampai kapan aku nunggu? Sampai aku udah mati????” tanya alma dengan tatapan berkaca-kaca. Alma langsung kembali ke kamar dan mengurung dirinya sampai sore.

To be continued

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s