Just A Shadow (What Do You Wanna Defend?)- Prolog

JAS PRLG

Cast:

cast-nya masih awal-awal aja… belum ke inti cerita…

Shanley Kay

Bibi

Paman

Gritte

Nuel

Genre:

Family, Drama, dan sekenanya 🙂

Rating:

PG-13

Author:

@azharasrwt

Soundtrack:

Yiruma’s Music

Disclaimer:

cerita ini cuman FF biasa… khayalan berlebihan tidak di tanggung oleh Author yang sekaligus merangkap jadi Admin 😀 no co-pas… ini murni hasil imajinasi Author 😉 RCL nya boleh lah 🙂 saran nya penting buat membangun FF ini *loh?* hahhaa ~~

Hope You Like~

-HAPPY READING-

Deretan koper dan tas sudah siap di depan meja rias milik Shan. Besok pagi-pagi sekali ia harus sudah tiba di Bandara Internasional London Heathrow untuk kepergian nya ke salah satu Negara Eropa bagian Selatan. Spanyol.  Mungkin, Shan akan menetap di Spanyol karena tuntutan pekerjaan ayah nya disana. Selama ini, Shan tinggal dengan Saudara nya di London. Seperti ada yang kurang menurut Shan. Tas, ransel, 2 koper. Shan mencoba menebak apa yang kurang dari semua barang-barang nya. Buku pelajaran. Hal terpenting untuk orang secerdas Shan. Untuknya, buku adalah hal terpenting yang harus dibawa saat berpergian kemana pun tempat nya. Tidak heran jika Shan selalu mendapat peringkat pertama pararel di sekolah nya. Apa yang kita belum tahu, buku adalah jawabannya. Menurutnya, semakin kita membaca buku justru kita akan lebih merasa bodoh. Tapi, semakin rajin kita membaca buku maka semakin bertambah pengetahuan kita. Ternyata pengetahuan di buku itu jauh lebih banyak daripada apa yang kita tahu sekarang.

Shan medekati rak buku dan mulai mengemasi buku nya satu per satu. Memasukkannya ke dalam ransel dengan rapih. Semua sudah siap. Jam menunjukkan pukul 9.20 pm. Shan langsung menjatuhkan tubuh nya di atas ranjang super empuk miliknya. Berusaha untuk memejamkan matanya agar cepat tertidur. Berkali-kali ia melakukan itu. Tapi, ternyata ia tetap tidak bisa tertidur lelap. Shan masih memikirkan bagaimana kehidupannya nanti jika dia sudah tinggal di Negara orang lain yang bahkan Shan tidak bisa bahasa nya sama sekali. Shan menyerah karena usahanya untuk tidur sia-sia. Ia mendekati jendela kamar. Membuka perlahan gorden berwarna pastel dan dengan pasti membuka jendela kamarnya.

Gadis itu hanya bisa terdiam sambil bertopang dagu dan memandang ke arah langit malam yang sama sekali tidak di hiasi kilauan bintang. Hanya sedikit cahaya bulan yang terlihat. “bahkan langit pun tidak ingin menghibur ku. Paling tidak ada satu bintang saja yang menampakkan sinarnya malam ini.” Shan menutup kembali jendela nya dan berusaha mencoba untuk tidur kembali. Ia kini menarik selimut dan menutupi wajahnya. Tanpa disadari, sekarang gadis itu sudah terlelap di atas ranjang yang empuk.

*****

“Hurry up!!!!” teriak suara dari balik pintu.

“kita harus mengantar keponakan kita ke Heathrow International Airport….” Lanjut suara di balik pintu itu.

“kau tenang saja. Lagi pula, shan juga belum bangun. Sepertinya dia masih mengantuk.” Sahut suara di balik pintu. Tapi, dengan suara yang berbeda.

Shan mencoba membuka kedua matanya walaupun masih terasa ngantuk yang kolosan. Rasa kantuk itu seakan tidak mau hilang. Shan mengusap kedua matanya dan kemudian menutup mulutnya saat sedang menguap. Perlahan ia mendekati pintu. Membukanya dan terlihat kesibukan antara Bibi, Paman, dan kedua anaknya yang masih kecil. “maaf, yaa. Sepertinya kepergian ku ke Spain membuat kalian sibuk. Kalau tidak keberatan, aku pergi sendiri saja dengan taksi.” Shan merasa tidak enak pada bibi dan paman. Seharusnya paman sudah berangkat kerja dan mengantar kedua anaknya ke sekolah. Sama hal nya dengan Bibi. Seharusnya bibi sudah belanja bahan makanan untuk menu hari ini.

“hah, shan. Keponakan ku yang cantik. Jangan berkata seperti itu. Paman dan bibi sengaja ingin mengantar mu ke airport.” Jawab Bibi sambil membelai lembut rambut Shan.

“tapi bagaimana dengan paman. Kerjaan nya? Belum lagi Gritte dan Nuel yang harus berangkat sekolah.” Shan menatap pada Gritte dan Nuel. Kedua sepupunya yang masih kecil.

“kau mencemaskannya?” tanya Bibi ikut menatap Gritte dan Nuel. Tiba-tiba Gritte menghampiri Shan dan memeluk kedua kakinya. Karena Gritte tidak sampai kalau harus memeluk tubuh Shan.

“kak, apa nanti aku akan bertemu kau lagi? Aku ingin ikut kak.” Sekarang suara Gritte terdengar sedikit bergetar. Shan duduk agar tubuhnya sejajar dengan Gritte.

“kak shan janji. Kalo gritte libur nanti, gritte bakal kakak ajak jalan-jalan keliling Spain. Mau kan?” tanya nya berusaha agar Gritte tidak menangis. Gritte tidak memberi jawaban. Bulir air mata sudah berkumpul di sudut mata indah milik Gritte. Matanya bulat, bola matanya hitam pekat. Tapi, sekarang seperti mata indah itu siap meneteskan air mata. Tangan Shan menopang dagu Gritte kemudian mengusap sudut mata Gritte.

“kau mengerti kan? Bagaimana perasaan mereka? Jadi izinkan mereka untuk ikut mengantar mu.” Seru bibi menepuk pundak Shan.

“baiklah, bi.” “kalau begitu, aku siap-siap dulu ya.” sambung Shan.

“iya kau harus mandi kak. Kau sangat bau!” timpa Nuel dengan nada bercanda. Shan langsung mencubit pipi Nuel kemudian kabur secepat mungkin masuk kedalam kamar. Langit London pagi ini cukup bersahabat. Matahari mulai meninggi, mencoba menampakan dirinya. Sinarnya cukup terik di ikuti dengan angin yang berhembus membuat nya terasa sejuk.

*****

            Setelah semua nya siap, Shan langsung menuju mobil bersama Bibi, Paman dan kedua sepupu nya. Paman langsung mengendarai mobilnya dengan cepat. Hanya 45 menit perjalanan yang ditempuh. Shan dan yang lainnya sudah tiba di Bandara Internasional London Heathrow. Shan, bibi, Nuel dan Gritte segera turun dari mobil, sedangkan paman akan menyusul jika sudah menemukan tempat parkir mobil yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat Shan menunggu. “aku langsung check-in ya, bi. Sampaikan salam ku pada paman.” Ucap Shan. Tangan nya langsung menyambar kedua koper warna hitam dan coklat miliknya. Dan sedari tadi tubuh mungilnya menggendong ransel yang beban nya cukup berat. Belum lagi tas selempang nya yang menggantung di pundak Shan.

“hey, buru-buru sekali. Tidak ingin menunggu paman mu?” tanya bibi bingung.

“tidak. Kurasa pesawat sebentar lagi akan tiba.” Jawab Shan diikuti senyuman termanis nya.

“kalau begitu biar bibi antar ya.”

“kalau bibi mengantar ku, lantas siapa yang akan menyampaikan salam ku pada paman?” tanya Shan tertawa sambil menggeleng kecil.

“sudahlah, bi. Aku bisa melakukannya sendiri. Aku tidak ingin membuat mu kerepotan.” Kedua mata milik Shan kini menatap tajam ke arah Bibi.

“kau selalu mengatakan hal itu. Kau sama sekali tidak merepotkan ku. Bahkan, jika aku tidak bisa membantu mu, itu yang aku sebut kerepotan.” Ucap Bibi.

“hmm, begini saja. Setelah check-in nanti, akan ku usahakan untuk kembali kesini dan bertemu paman. Bagaimana?” tanya Shan berharap ide nya disetujui oleh sang Bibi.

“baiklah, tapi ingat! Kau harus kembali lagi kesini.” Bibi menyetujui. Shan melompat kecil karena senang.

“thank you so much.” Lanjut Shan memberi pelukan dan ciuman kecil di pipi sang Bibi.

*****

            Setelah Shan melewati Check-In Counter, sekarang Shan langsung menuju Area Security Check Point yang kedua. Semua barang bawaannya mulai diperiksa satu-persatu dengan X-Ray. Tubuh Shan pun kini harus melewati Walk Through Metal Detector. Hasil nya aman karena memang Shan tidak membawa barang yang bersifat metal. Kemudian, Shan menuju ruang tunggu keberangkatan.

“aduh, pesawat tiba 5 menit lagi. Bagaimana cara aku bertemu paman?” “oh iya, aku telefon saja.” Gumam Shan pelan. Tangan nya meraih Iphone yang berada di saku jaketnya.

*phone dial tone*

“hello, bibi.”

“shan, kau jadi menemui paman kan? Dia sudah menunggu disini.” Sahut suara disebrang sana.

“aku tidak mau membuat paman kecewa. Tapi, pesawat tiba 5 menit lagi. Dan petugas sudah memperingati untuk jangan meniggalkan ruang tunggu keberangkatan. Karena sebentar lagi pesawat akan tiba.” Jawab Shan menjelaskan.

“sebentar saja, Shan.” Bibi memohon lagi.

“aku mau bicara pada paman atau aku akan ketinggalan pesawat.” Jawab Shan cepat.

“Shan.” Suaranya kini berubah. Sedikit berat seperti suara laki-laki biasanya. Paman dan Bibi terbilang masih cukup muda. Umur Paman dan Bibi hanya berbeda 3 tahun saja. Bibi 26 tahun dan Paman 29 tahun.

“paman. Maaf ya. maaf sekali aku tidak bisa kembali. Petugas disini memang sedikit menjengkelkan. Harusnya aku bisa menemui mu walaupun hanya 5 menit saja.”

“hah, ya sudah. Tidak apa. Dari pada kau harus ketinggalan pesawat. Apa berbicara padaku akan menyita waktu keberangkatan mu?” tanya Paman.

“paman, kau berlebihan atau memang sedang bercanda?” tanya Shan heran.

“hahahaa…. Tidak.. tidak… aku hanya bercanda. Baiklah, kau hati-hati. Jangan ceroboh. Kau kan selalu melakukan hal itu berulang kali.” Jawab Paman datar tapi masih ada suara tawa kecil.

“tidak akan ku lakukan hal itu lagi. Baiklah, paman. Sampai jumpa.”

“iya, sampai jumpa. Hati-hati disana. Kalau sudah tiba, segera hubungi kami.” Paman memutuskan telepon nya. Shan langsung menarik kedua koper nya dan juga barang bawaan nya yang lain. Setelah mendengar peringatan bahwa pesawat yang akan mengantar kepergiannya ke Spanyol sudah tiba.

TBC……

Advertisements

One thought on “Just A Shadow (What Do You Wanna Defend?)- Prolog

  1. Pingback: MORE FANFICTIONS | MY FANFICTIONS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s