Just A Shadow (What Do You Wanna Defend?)- Part 1

JAS PT 1

Main Cast:

Shanley Kay

Danny Kent

Ciara Fernandez

Support Cast:

Mommy

Daddy

dan gak tau lagi …. ahahah 🙂

Genre:

Family, Drama, Romance, dan apalah itu nama nya…wkwkwk 😀

Rating:

PG-13

Author:

@azharasrwt (<<bukan author yang baik ini.. Don’t try this 🙂 )

Soundtrack:

Yiruma’s Music

Disclaimer:

cerita ini hanyalah FF belaka, apabila ada kesamaan nama, tempat, dan alur cerita, itu hanya sebuah kebetulan… karena ini cerita murni hasil punya nya author 🙂 khayalan yang berlebihan tidak di tanggung…. kadang berakibat efek samping… bila sakit berlanjut, hubungi hansip *loh(?)* makin ngawur aja ini yaak???

semua nama yang asli milik mereka, dan yang khayalan gue sama nama sekolahan itu cuma fiksi lah… wkwkwkwk… yg SIDER??? no problem 🙂 tapi kalo bisa tetep budayakan RCL 😀 sebagai WNI yang baik… udah ah, kepanjangan yaak??? 😀

Hope You Like

~HAPPY READING~

And at last I see the light

And it’s like the fog has lifted

And at last I see the light

And it’s like the sky is new

And it’s warm and real and bright

And the world has somehow shifted

All at once everything looks different,

Now that I see you…….. -I See The Light (Mandy Moore)

 

 

¡Bienvenido a España!

 

Tulisan yang terpampang di papan tanda, saat Shan pertama kali melewatinya. Inilah Spanyol. Negara dengan banyak prestasi. Terutama di bidang olahraga. Ini adalah pertama kalinya Shan menginjakkan kaki di negri matador. Madrid-Barajas Airport. Masih harus menempuh beberapa mil lagi untuk tiba di Valencia.

 

“naik bus? Naik bus yang mana? Aku gak tau bus tujuan Valencia yang mana?” gumam Shan bingung.

 

Dengan ragu Shan melangkahkan kaki nya mencari letak peta kota. Kali ini Shan terlihat seperti orang kikuk. Tidak tahu harus bertanya pada siapa. Tangan Shan mencoba merogoh tas selempangnya. Di dapatnya handphone dan segera Shan menekan tombol nomer yang dihapal di luar kepala. Sesekali Shan bersandar di pilar yang berdiri kokok di dalam Airport itu.

 

“hah, aku lupa. Gak bisa buat nelfon. Duh.” Shan menepuk dahi nya sendiri.

 

Ia mulai berjalan perlahan masih dengan tujuan yang sama. Mencari peta kota. Kaki nya sekarang menuntun ke arah yang sama sekali Shan tidak tau. Sepertinya Dewi Fortuna berpihak pada gadis berambut pirang ini. Hanya beberapa menit, akhirnya Shan menemukan peta kota. Yap, peta kota ini masih ada disekitar lingkungan airport. Shan mulai membaca dengan seksama. Mencoba mencermati, dan akhirnya gadis ini pun menemukan caranya.

 

“gampang ya ternyata. Tinggal lihat nomer tujuan yang ada di bus nya.” Shan mengambil langkah cepat.

 

Ia tidak ingin berlama-lama di tempat asing seperti ini. Shan ingin cepat-cepat bertemu dengan mommy dan daddy di rumahnya nanti. Valencia. Di sela-sela kesibukannya menunggu bus, Shan masih menyempatkan untuk berfoto selfie ala anak muda zaman sekarang. Setelah itu meng-upload nya lewat instagram dan twitter. Dalam hitungan detik, i-phone milik Shan ini sudah mengeluarkan bunyi khas tanda notifikasi yang baru. Sadar kalau bus sudah tiba, Shan melupakan sejenak aktifitas yang dilakukan dengan i-phone nya. Kemudian melangkahkan kakinya masuk kedalam bus.

 

*****

Sudah seharian ini, Shan menghabiskan waktu nya hanya untuk menemukan rumah nya di kota atau bahkan Negara yang sama sekali belum pernah ia kunjungi sebelum nya. Selesai sudah perjalanan panjang ini. Tunggu. Setelah ini, Shan masih harus berjalan beberapa meter lagi untuk menemukan rumahnya. Tapi, kaki Shan seperti sudah tidak kuat lagi menopang beban tubuhnya. Ditambah lagi dengan bawaan nya yang bisa disebut sangat berat.

 

“aku gak kuat!” Shan menyerah dan mulai menekan tombol nomer yang sudah ia hapal. Belum sempat menekan tanda panggil, Shan kembali bergumam. “ bodoh! Kan tadi udah dicoba. Dan ternyata gak bisa.”

 

“hah, ya udahlah aku nyerah. Lebih baik menginap semalaman di terminal bus ini.” sambung Shan kesal. Tiba-tiba Shan mendapat tepukan di pundaknya. Sontak ia langsung menengok. Pandangan nya gelap karena memang ini sudah lewat tengah malam.

 

“ini daddy, Shan.” Ucap laki-laki paruh baya itu.

 

Shan mengernyitkan alisnya. Mencoba memastikannya sekali lagi. “oh my god, Daddyyy….” Shan langsung melompat dan memeluknya dengan erat. “ku pikir tadi aku harus bermalam disini karena kaki ku udah gak sanggup jalan lagi.” Sambung Shan tak habis pikir.

 

“hahahaa…” daddy tertawa sambil mengusap pundak Shan. “tapi, perasaan orang tua akan selalu peka pada anaknya.” Sambung Daddy.

 

Shan dan Daddy pulang bersama dengan mobil. Jarak dari terminal bus ke rumah Shan ternyata tidak terlalu jauh. Hanya 1 kilometer. Tak terasa, sekarang Shan sudah sampai di rumah barunya. Mungkin lebih tepatnya lingkungan baru. Shan turun dari mobil dan melupakan semua barang bawaan nya. Daddy yang melihat tingkah Shan seperti itu hanya bisa menggeleng pelan. Tanpa basa-basi lagi, Shan langsung membuka pintu. Suara decitan dari engsel pintu pun terdengar cukup keras. Dilihat nya Mommy yang sedari tadi duduk di sofa menunggu kedatangan putri nya.

 

“oh, putriku.” Ucap Mommy menghampiri putri satu-satunya itu. Rasa rindu nya sudah tak terbendung lagi. Sebuah pelukan erat dan penuh kasih sayang itu mendarat di tubuh Shan.

 

“apa kabar mu, nak? Mommy rindu sekali padamu.” Matanya menatap tajam ke kedua bola mata berwarna cokelat terang milik Shan.

 

“baik. Baik sekali. Apalagi sekarang aku bertemu dengan mu, mom. Kabar ku semakin baik saja.” Shan memberikan senyum termanis nya.

 

“ayo,ayo. Kau harus istirahat. Kau kelihatan lelah sekali.” Mommy menuntun Shan menuju kamarnya. Perlahan mereka berdua menapaki tangga. Beberapa kali Mommy menggenggam tangan Shan dan menopang tubuhnya karena oleng saat berjalan. Mungkin Shan sangat kelelahan akibat menempuh perjalanan yang panjang hanya seorang diri. Tanpa teman dan pendamping.

 

Perlahan, Mommy membuka pintu kamar Shan. “waaaahhhhh……” teriak Shan kaget saat melihat isi kamarnya. Dekorasi, isi kamar dan yang lainnya, semua nya bertema Hello Kitty.

 

“kau suka dengan dekorasi kamar mu ini?” tanya Daddy yang tiba-tiba sudah muncul di belakang Shan dan Mommy dengan barang bawaan Shan yang masih tertinggal di Mobil tadi.

 

“suka banget, dad. Asli, ini siapa yang bikin dekorasinya deh?” tanya Shan penasaran.

 

“mommy mu yang membuat semua dekorasi nya. Dan semua barang disini juga mommy mu yang memilihnya.” Jawab Daddy. Napas nya masih terengah-engah karena membawa barang-barang milik Shan. “tapi, tetap saja. Kau tau. Daddy yang bekerja siang malam agar kamar mu ini terlihat sempurna.” Sambung nya. Kali ini kalimatnya terdengar sedikit berlebihan.

 

“oh.. ayolah, dad. Kau pasti dibantu dengan anak buah mu untuk mendekorasi semua ini. Tidak mungkin sendirian kan?” tanya Shan lagi.

 

“ya, memang benar. Daddy mu di bantu oleh dua anak buah nya. tapi, kau beruntung punya Daddy se-baik daddy mu ini. Pintar pula. Sarjana Magister Arsitektur.” Jawab Mommy sambil memuji Daddy.

 

“ahahahha… dibalik semua itu ada orang yang selalu mendukung dan menyemangati ku kan?? Kalian. Kalian berdua. Istri ku dan pastinya putri ku yang paling cantik.” Sambung Daddy. Wajah nya sedikit merah setelah mendengar pujian dari Mommy.

 

“ahh, thank you…. Aku beruntung punya kalian. Ahh, kalian berarti banget. Aku sayang kalian.” Ucap Shan sambil memberi pelukan hangat pada Mommy dan Daddy.

 

“tidur. Istirahat lah, nak.” Mommy kembali mengingat kan Shan untuk beristirahat. Karena besok Mommy akan langsung mendaftarkan Shan ke sekolah barunya.

 

“masih ada lagi kejutan untuk mu, nak.” Ucap Daddy dengan senyum nya yang membuat Shan semakin penasaran.

 

“hah? Apa itu?” tanya Shan menaikkan sebelah alisnya.

 

“sudah, sudah. Nanti kau akan tau sendiri. Sudah, tidur sana.”

 

“okay, mom.”

 

Mommy dan Daddy pergi meninggalkan kamar Shan. Pintu kamar masih terbuka. Tapi, Shan harus mangangkat barang-barang nya kembali dan menatanya di kamar baru nya. Setelah selesai menata barang, Shan tidak sengaja membuka laci meja rias nya. Kotak yang di sampul rapi dengan kertas kado bergambar Hello Kitty ini membuat tangan Shan ingin langsung membukanya.

 

“HAAAAAHHHHHHHH……” teriak Shan. Suaranya terdengar sampai ruang tamu yang jaraknya lumayan jauh dari kamar tidur Shan. Mommy dan Daddy yang saat itu mendengarnya hanya saling menatap dan melempar senyuman.

 

“astagaaaa!!! Ini gak mimpi kan??? I-ini-ini…. Oh My God!! DSLR terbaru…AAAAAA……” Shan kegirangan. Kamera terbaru yang selama ini dia inginkan. Bagaimana bisa Mommy dan Daddy tau semuanya? Karena, kertas kecil yang ditulis Shan saat natal kemarin ternyata terselip di bawah pohon natal itu sendiri. Bibi yang menemukannya. Kemudian, Bibi yang memberitau Mommy dan Daddy lewat telepon. Natal tahun lalu memang tidak begitu sempurna menurut Shan. Ia merayakannya tanpa Mommy dan Daddy. Itu semua karena Shan masih tinggal di London, menyelesaikan semester terakhir di kelas 11.

 

“muchas gracias, mommy y daddy.” Ucap Shan pelan dengan bahasa Spanyol yang seadanya. Seketika Shan terlelap dengan posisi kamera barunya di sebelah nya.

 

*****

*KRIIINNNNNGGGG*

*KRIIINNNNNGGGG*

 

“hah, berisik tau gak!” ucap Shan setengah sadar. Tangan nya meraba-raba mencari benda yang mengeluarkan sumber suara.

 

“hah, ternyata benda ini. Menyebalkan.” Tangannya hampir melempar jam weker bergambar Hello Kitty itu.

 

Tapi setelah Shan sadar, ia langsung mengembalikan jam weker itu ke posisi nya semula. Sesekali ia melirik ke arah jarum jam weker miliknya. Shan tidak peduli walaupun jarum pendek jam itu sudah tepat di angka 7 dan jarum panjang berwarna pink itu terus bergerak dengan pasti.

 

15 menit kemudian……..

 

Shan berusaha membuka matanya. Tangan nya masih mengucek mata dan melawan rasa kantuk nya.

 

“huuaaahh….” Shan membuka mulutnya lebar saat menguap. Matanya masih merem-melek karena rasa kantuknya yang tidak mau hilang.

 

Shan menghampiri jendela dan membuka gorden berwarna putih dan pink itu perlahan. Tangannya menghalau silau dari sinar matahari pagi yang langsung memasuki kamarnya saat jendela di buka.

 

“Oh My God! Hari ini kan mommy mau daftarin aku ke sekolah baru.” Shan baru menyadari.

 

“aku harus siap-siap. Aku harus mandi, pakaian. Pokoknya aku harus ikut.” Sambung Shan. Kemudian langsung bergegas masuk ke kamar mandi dan bersiap-siap.

 

*****

Shan masih berdiri di depan cermin. Ia masih melihat bayangan tubuh mungil nya yang di hiasi oleh mini dress dengan motif flowers pattern dan juga blazer abu-abu nya. Kemudian, Shan langsung memilih flat shoes coklat nya yang di simpan di kolong laci. Setelah semua nya siap, Shan langsung meninggalkan kamarnya dan menuruni tangga.

 

“loh? Shan, kamu mau ikut daftar ke sekolah baru kamu juga?” tanya Daddy bingung. Semua sudah kumpul di meja makan dan juga semua menu sarapan pagi ini hampir habis. Kecuali, roti bakar milik Shan.

 

“ya ikut lah. Kan yang mau sekolah aku.” “jadi aku harus ikut mommy daftar. Iyakan, mom?” tanya Shan yakin.

 

“iyaa… kau boleh ikut.” Jawab Mommy sambil mengangguk pelan. “ayo, cepat habiskan sarapan mu. Kau tidak ingin semuanya terlambat kan?” tanya Mommy mengingatkan.

 

“ehee… hmmm… iyaa.. ayo kita jalan.” Jawab Shan dengan mulutnya yang penuh dengan roti bakar.

 

“itu, telan dulu kali roti bakar nya.” ucap Daddy khawatir melihat Shan yang terburu-buru.

 

“daddy yang akan mengantar kalian berdua.” Sambung Daddy kemudian meneguk segelas air mineral.

 

Shan berjalan tepat di belakang Mommy dan Daddy. Tangannya masih sibuk dengan iPhone nya. Entah apa yang Shan lakukan dengan iPhone nya sampai-sampai ia hampir tersandung saat memasuki mobil. Daddy mulai menyalakan mesin mobil dan tidak lama Daddy mulai memacu mobilnya melewati jalan raya. Keadaan jalan raya pagi ini cukup lengang. Entah hanya pagi ini atau memang setiap hari nya seperti ini. Maklum saja kalau Shan tidak tahu-menahu soal keadaan di sekitar sini. Shan adalah penghuni baru di kota ini. Valencia.

 

*****

-WELCOME TO MARIGOLD INTERNATIONAL HIGH SCHOOL-

 

Shan melewati gerbang sekolah bersama Mommy. Banyak orang yang mengatakan bahwa sekolah ini adalah sekolah International yang paling terkenal dari sekolah manapun. Shan tidak lagi asing mendengar nama Marigold International High School. Sebelumnya, sekolah Shan yang dulu pernah berhadapan dengan sekolah ini saat final Olimpiade Sains. Dan, bisa di tebak siapa pemenangnya. Yap, Marigold International High School lah yang menyabet gelar juara Olimpiade Sains itu. Murid-murid disini sudah tidak di ragukan lagi keahlian nya. Shan agak minder saat memasuki halaman sekolah barunya. Apalagi kalau bukan karena kekalahan sekolahnya yang dulu.

 

Matanya mengawasi ke setiap sudut, melihat detail bangunan sekolah ini, dan sudah pasti langkah nya melambat, karena dirinya seperti terhipnotis oleh keindahan bangunan sekolah ini. Entahlah, mungkin Mommy sudah meninggalkan Shan sendirian di halaman sekolah ini. Hening, sepi, dan sunyi. Apa yang sebenarnya terjadi di sekolah ini? Apa peraturan di sekolah ini sangat ketat? Hingga muridnya saja tidak boleh ke luar ruang kelas? Sekarang, Mata Shan tertuju pada gedung yang berdiri kokoh tepat di samping ia berjalan. Gedung ini tidak terlalu besar, namun dihiasi dengan pancuran air di depan bangunan nya. Lebih terlihat seperti perpustakaan. Shan berusaha mencari celah agar bisa melihat keadaan di dalam Gedung ini. Lupakan. Tidak ada celah sama sekali disini. Jendela nya saja tertutup rapat. Shan langsung membalikkan badannya dan segera menyusul Mommy.

 

*BRRRUUUUKKKK*

 

“ouuhhh….” Shan hampir tersungkur ke tanah setelah keningnya menabrak dagu seseorang.

 

Untung nya orang yang menabrak tadi segera menangkap tubuh Shan. Hingga Shan tidak jadi terjatuh.

 

“lu gak kenapa-napa kan?” tanya pemuda ini, tapi dengan bahasa spanyol.

 

“hah? Apaan? Kamu ngomong apa sih?” Shan berbalik tanya.

 

“oh, lu pasti anak baru. Iya kan? Dan lu pasti bukan warga Negara Spanyol.” Tanya pemuda tadi dengan nada meyakinkan. Kali ini ia tidak bicara dengan bahasa Spanyol.

 

“iya. Tunggu deh, kok kamu tau kalo aku bukan orang Spanyol?” tanya Shan bingung.

 

“ya tau lah. Lu pasti orang inggris? Lu baru pindah dari London, kan?”

 

“iyaaaa… ih, kok kamu tau sih?” tanya Shan semakin penasaran. Atau jangan-jangan pemuda ini adalah paranormal.

 

“ya ampun, keliatan dari wajah lu. Wajah lu itu gak ada unsur-unsur wajah orang spanyol.”

 

“udah ah, gue buru-buru. Sorry, masalah yang tadi ya. gue gak sengaja.” Sambung pemuda itu menyeringai.

 

“iyaa, it’s okay. Hmm, gue yang gak liat. Sorry, ya.” jawab Shan.

 

Pemuda itu tersenyum dan langsung meninggalkan Shan.

 

TBC…….

 

oh iya, ini cuma iseng-iseng berhadiah doang sih… yaa, kira-kira bentuk dekorasi kamarnya Shan itu kayak gambar di bawah ini… bedanya, kalo kamarnya Shan itu cuma ada 1 tempat tidur doang…gimana??nyaman bgt ya kan??? aku mau bgt punya kamar kek gini 😀 asli ini mupeng bgt asli… kapan yaa bisa punya kamar kayak gini???

Girls-Bedroom-Ideas-within-Pink-Hello-Kitty-Decoration

Advertisements

3 thoughts on “Just A Shadow (What Do You Wanna Defend?)- Part 1

  1. Pingback: MORE FANFICTIONS | MY FANFICTIONS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s