Just A Shadow (What Do You Wanna Defend?)- Part2

Gambar

Main Cast:

Shanley Kay

Danny Kent

Ciara Fernandez

Support Cast:

Mommy

Mrs. Shanty

Pak Luis

Genre:

Family, Drama, Romance, Friendship, dan apalah itu namanya… wkwkwk 😀

Rating:

PG-13

Author:

@azharasrwt (<<bukan author yang baik ini.. Don’t try this 🙂 )

Soundtrack:

Yiruma’s Music

Disclaimer:

cerita ini hanyalah FF belaka, apabila ada kesamaan nama, tempat, dan alur cerita, itu hanya sebuah kebetulan… karena ini cerita murni hasil punya nya author 🙂 khayalan yang berlebihan tidak di tanggung…. kadang berakibat efek samping… semua cast disini milik mereka. tapi, nama-nama tambahan disitu emang khayalan ku semua alias fiksi belaka 🙂 yaa, anggaplah mereka bicara dengan bahasanya masing-masing 😀 typo itu manusiawi, jadi maapin aja yaa 🙂 yg SIDER??? no problem 🙂 tapi kalo bisa tetep budayakan RCL 😀 sebagai WNI yang baik…

Hope You Like

~HAPPY READING~

But you make me wanna act like a girl, Paint my nails and wear high heels

Yes, you make me so nervous, And I just can’t hold your hand

You make me glow….

But I cover up won’t let it show…… -Heart Attack (Demi Lovato)

Hari ini adalah hari pertama Shan menimba ilmu di sekolah barunya. Tak heran jika pagi ini Shan terlihat begitu bersemangat. Jam menunjukkan pukul 04.30 am. Masih pagi sekali, tapi Shan sudah hampir selesai dengan urusannya di kamar mandi. Setelah mengeringkan seluruh tubuhnya, Shan mulai mengambil perlahan seragam sekolah nya. Karena belum mendapat seragam dari sekolah baru, Shan terpaksa masih menggunakan seragam lamanya. Kemudian, Shan menyisir rambut pirang nya yang bergelombang perlahan.

Tok…tok…tok…

“shan, kau sudah bangun?” tanya seseorang dari balik pintu kamar Shan. Suara lembut itu, Shan sangat mengenalnya. Suara lembut yang setiap kali di dengar Shan, selalu membuatnya merasa nyaman.

Shan memutar kunci dan segera membuka kan pintu. Mommy yang saat itu berdiri di hadapan Shan hanya bisa tercengang melihat putri semata wayang nya sudah rapi dengan setelan seragam sekolah lamanya.

“gak biasanya pagi-pagi seperti ini kamu sudah siap. Biasanya kau kan sela…”

“mommy…. Ini hari pertama ku di sekolah baru. Jadi semua nya harus sempurna. Hahahah… dan gak boleh kesiangan pastinya.” Shan memotong omongan Mommy. Kali ini diselingi dengan tawa Shan yang khas.

“oh iya, mom. Tapi, kapan shan bisa pakai seragam baru nya?” sambung Shan. Nadanya lebih terdengar seperti sebuah harapan.

“mungkin besok atau lusa. Nanti kalau kamu di panggil ke ruang tata usaha, kamu ikuti aja. Nanti pasti kamu terima kok seragam baru nya.” jawab Mommy. Shan sangat menyukai sosok Mommy, karena selalu mengerti apa yang ia rasakan.

*****

            Sepotong roti dengan selai strawberry, telur mata sapi, waffles, dan segelas susu cokelat sudah siap di meja makan. Shan dan Mommy berjalan beriringan menuju meja makan.

“daddy kemana, mom? Kok gak ikut sarapan bareng?” tanya Shan.

“daddy mu sudah lebih dulu berangkat kerja. Sekitar jam 3 pagi tadi daddy sudah berangkat kerja. Entahlah, belakangan ini dia sibuk sekali.” Jawab Mommy menjelaskan.

Shan hanya mengangguk kecil tanda ia mengerti dengan ucapan Mommy. Wajahnya terlihat sedikit kecewa, tapi Shan masih bisa menyunggingkan senyuman. Di lahap nya semua makanan yang ada di atas meja makan tanpa tersisa. Seperti nya pagi ini Shan menambah bobot badannya seberat 3 kg.

*****

            Shan mulai memasuki halaman sekolah yang sangaaatttt luas. Walaupun, Shan merasa berbeda dengan siswa lainnya. Hanya karena perbedaan seragam sekolah. Terlihat jelas perbedaan nya. Seragam siswa Marigold dengan kemeja putih di rangkap sweater berwarna soft pink, blazer berwarna ungu dengan lambang bunga Marigold di bagian saku, tak lupa dasi berwarna sama dengan blazer, dan juga rok rempel 10 cm di atas lutut berwarna ungu bagi murid perempuan. Sedangkan, kemeja putih di rangkap sweater berwarna abu-abu, jas berwarna hitam dengan lambang bunga Marigold di bagian saku, dasi berwarna hitam dan celana panjang hitam bagi murid laki-laki.

Sekali lagi, sangat berbeda jauh dengan seragam yang dipakai Shan saat ini. Ia hanya memakai kemeja putih dan rok rempel berwarna merah kotak-kotak. Ternyata tidak seperti yang Shan bayangkan sebelumnya. Sekolah ini sama saja dengan sekolahnya yang lama. Suasana gaduh juga masih terasa saat bel tanda jam pelajaran belum di bunyikan. Terdengar jelas suara siulan dari para murid laki-laki yang sengaja menongkrong di tangga saat Shan melewati nya. Shan merasa tidak nyaman, karena para laki-laki kurang kerjaan itu terus menggoda nya.

“kurang ajar!” hardik Shan dalam hati.

*****

“kalian liat apaan sih?” seorang gadis dengan tubuh mungil itu mulai bergabung dengan kerumunan yang lain.

“hah? Dia pasti anak Venus International High School. Ya kan?” tanya gadis ini pada orang di sebelahnya.

“iya deh kayaknya. Seragam ‘Venus’ kan sederhana. Cuma kemeja sama rok doang. Kalo gak salah sekolah kita kan pernah ketemu ‘Venus’ pas final Olimpiade Sains.” Jawab orang di sebelahnya.

“iya pernah. Rival lama. Hahahaha….” Ujar gadis itu diselingi tawa bercanda. Kemudian, gadis itu langsung pergi meninggalkan kerumunan yang tercipta cukup lama saat Shan masih berada disana.

*****

RIIIINNNNGGGG……

Bel berdering. Tanda pelajaran pertama akan segera di mulai. Shan berjalan beriringan dengan Mrs. Shanty –guru kesiswaan –melewati koridor sekolah yang cukup luas. Tiba saat nya Shan memasuki kelas barunya. Lebih tepatnya lingkungan baru nya. hanya ada 15 siswa di dalam kelas ini. Setelah melewati serangkaian tes psikologi dan placement test, akhirnya Shan masuk kelas unggulan. Suasana kelas masih agak gaduh sampai Mrs. Shanty tiba, semuanya terdiam.

“perhatian, semuanya!!! Hari ini kita kedatangan siswa baru. Jadi mohon perhatiannya sebentar.”ujar Mrs. Shanty yang berdiri tepat di samping Shan.

“now, you can introducing yourself, please.” Lanjut Mrs. Shanty mempersilahkan.

Rasanya jantung Shan saat ini berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia merasakan aliran darahnya kini lebih cepat, dan tangan Shan pun sedikit bergetar. Shan bingung apa yang harus ia katakana saat ini. Berdiri di depan kelas, di depan orang-orang yang tidak ia tahu sama sekali. Sekarang, yang ada di pikiran Shan adalah bagaimana cara berbicara menggunakan bahasa Spanyol.

“hmm, hey, guys. I’m Shanley Kay Steinfeld. I’m from Venus International High School-London. Nice to meet you all.” Hanya kata-kata sederhana yang mampu keluar dari bibir mungil Shan. Atau bahkan, karena terlalu grogi, Shan juga melupakan tata bahasa Negara asal nya sendiri.

(“ohh, ayolah! Bersikap lah seperti orang normal.”) Shan membatin.

Mrs. Shanty hanya tersenyum memberikan kode bahwa Shan harus mencari tempat duduk sendiri. Kemudian, Mrs. Shanty pergi meninggalkan kelas.

Shan memilih untuk duduk di baris kedua. Tepat disebelah gadis berambut cokelat yang menyunggingkan senyuman saat Shan menghampirinya.

“thank you, for the seat.” ucap Shan. Gadis di sebelahnya itu tersenyum manis.

“that’s not problem.” Jawab gadis manis itu sambil merapikan buku yang masih berantakan di meja. Shan juga ikut membantu merapikannya.

“oh, iya. Aku tadi liat kamu waktu jalan ngelewatin tangga. Banyak yang menggoda kamu. Pasti terganggu deh.” Ujar gadis itu.

“ah, udah biasa. Di sekolah aku yang dulu juga kayak gitu kok.” Sambung Shan santai.

“semua orang tau, ya. kalo kamu pindahan dari ‘Venus’.”

“mungkin karena seragam kali yaa. oh, I’m Shan.” Mereka berdua pun saling berjabat tangan.

“I knew it. Ohh, yeah. I’m Ciara. I’m from Spain.” Timpa gadis itu. Logat bicara nya sedikit lucu hingga mengundang gelak tawa antara Shan dan Ciara. Keduanya saling bercengkerama dan bertukar cerita tentang sekolah, sampai akhirnya guru kimia –guru yang mengajar pada jam pertama –masuk ke kelas.

*****

            Bel tanda jam pelajaran berakhir sudah dibunyikan. Tepat pukul 4.00 pm semua siswa berhamburan keluar kelas. Begitu juga Shan dan Ciara.

“kamu pulang bareng siapa?” tanya Ciara yang masih berjalan beriringan dengan Shan tanpa melihat ke arah depan.

“aku bareng supir mommy ku. Kenapa? Kau mau ikut pulang bersama ku?” tanya Shan dengan tawa ringan.

“enggak kok.. hehehe… aku pulang dengan sepeda motor.” Jawab Ciara terkekeh.

“ohh, jadi kau bisa mengendarai sepeda motor? Wah, asik yaa… pulang-pergi gak akan terlambat…hahahah…”

“ya, begitulah, Shan.”

Sepanjang jalan keduanya asik mengobrol. Menceritakan hal penting sampai yang tidak penting sekali pun. Tiba-tiba…

*BRUUUUKKKKK*

“eh,eh…. Sorry, sorry… gue gak sengaja.” Karena tidak memperhatikan pandangannya ke depan saat berjalan, bahu Shan menabrak bahu seorang pemuda yang sangat kuat sehingga tubuh Shan hampir tersungkur. Untung nya ada gerakan cepat dari tangan Ciara yang langsung menopang tubuh Shan.

“lu, kan???” tanya pemuda itu mengernyitkan alisnya seraya mengingat siapa orang yang tak sengaja ia tabrak.

“ohh, lu yang kemarin sendirian di tengah lapangan, kan?” pemuda itu kembali bertanya. Kali ini untuk memastikan.

“iyaa… kamu yang kemarin nabrak aku juga, kan?” shan berbalik tanya. Tidak ada jawaban dari pemuda itu. Tapi, sepasang mata berwarna cokelat gelap itu justru memberikan tatapan yang aneh menurut Shan. Ciara hanya bisa menjadi saksi bisu antara Shan dan pemuda itu. Di hatinya Ciara, seperti ada perasaan aneh saat ia menatap sepasang mata pemuda itu. Perasaan yang membuat jantung nya seakan berdetak 5 kali lipat lebih cepat, aliran darah nya juga seperti mengalir lebih cepat dari biasanya. Ciara hanya bisa terdiam sambil terus memandang ke arah pemuda itu.

“hmm, maaf ya.. aku buru-buru mau pulang. Permisi…” ucap Shan dan pemuda itu langsung pergi meninggalkannya. Ciara terus memandang punggung pemuda itu sampai akhirnya benar-benar menghilang di balik pilar yang berdiri kokoh di koridor.

“hey, ayo jalan… mau pulang kan?” sebuah tepukan mendarat di pundak Ciara. Shan membangunkan Ciara dari lamunan nya.

*****

            Shan tiba di depan gerbang sekolah. Kebiasaan untuk menunggu supir pribadi Mommy nya ini memang rutin ia lakukan. Karena kalau tidak, ia tidak tahu harus pulang bersama siapa. Kebetulan sekali ada bangku panjang yang terbuat dari besi dan berwarna gold. Shan memilih untuk duduk di bangku itu sambil tangan nya sibuk merogoh sesuatu dari dalam tas nya. Dikeluarkan nya 5 bungkus baju seragam baru itu. Yap, baju seragam baru itu masih terbungkus rapi oleh plastik. Ingin rasanya membuka satu per satu seragam yang masih terbungkus itu. Tapi, apa daya. Sepertinya Shan tidak akan bisa melipatnya lagi. Apalagi harus rapi. Maka, Shan mengurungkan niat nya untuk membuka satu per satu seragam sekolah barunya itu.

“katanya buru-buru???” ujar pemuda itu yang langsung mengambil alih areal yang masih kosong tepat di samping Shan duduk.

“kok sampai sekarang belum pulang juga?” tanya pemuda dengan badan bidang itu. Shan menoleh perlahan ke arah sumber suara berasal. Ternyata orang yang sama.

“kamu juga gak pulang? Ini udah 25 menit dari bel pulang tadi, loh.” Shan malah berbalik tanya.

“jadi tadi, harusnya sekarang gue latihan ekskul. Tapi pelatih nya malah gak dateng.” Jawab pemuda itu sambil tangannya mengoper-oper botol plastik yang di pegangnya.

“lu sendiri kenapa belum pulang? Belum di jemput? Atau gak ada yang jemput?” tanya nya beruntun.

“belum di jemput.” Jawab Shan singkat tapi bibir mungil nya menyuguhkan senyum manis.

Terjadi keheningan antara Shan dan pemuda itu. Entah pembicaraannya di mulai dari mana. Shan tidak tau. Shan memilih untuk diam saja agar tidak di cap sebagai orang yang sok kenal sok deket. Matanya masih mengawasi setiap mobil yang lewat di depan bangku yang ia tempati sekarang. Pandangan nya terus melihat ke kanan dan ke kiri jalanan. Sampai melupakan bahwa di sebelahnya masih terduduk pemuda berambut yang sama pirang nya dengan rambut Shan.

“nama lu siapa sih?” tanya pemuda itu tanpa menatap atau bahkan menoleh ke arah Shan sedikit pun.

“kenapa?” kali ini Shan malah sibuk dengan iPhone nya. jari-jari nya lincah menekan huruf dan angka di layar ponsel nya itu.

“aneh aja. Setiap gue ketemu lu, pasti gue selalu nabrak. Dan orang yang gue tabrak, yaa… gak lain… lu orang nya.” jawabnya enteng.

“terus kamu mau bilang kalo aku ini pembawa sial, karena setiap kali kamu ketemu aku itu, selalu nabrak?” tanya Shan terdengar sedikit serius. Shan tetap tidak mengalihkan pandangan nya pada layar ponsel. Tak lama kemudian, yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Pak Luis –supir pribadi Mommy –yang hari ini menjemput Shan. Walaupun Pak Luis telat menjemput Shan, tapi Shan tidak protes sama sekali. Ia malah menyunggingkan senyuman pada Pak Luis. Dengan santai nya, Shan melangkahkan kaki ke dalam mobil dan sepertinya ia melupakan seseorang yang sedari tadi duduk menemani nya.

“hey!!!” panggil pemuda itu refleks dan langsung berdiri.

“hoiii… terima kasih yaa…” sahut Shan sambil melambaikan tangannya. Pemuda itu hanya terdiam bingung tanpa membalas lambaian tangan Shan.

“terima kasih untuk apa?” pemuda itu membatin. “bahkan dia belum memberi tau namanya.” Sambung nya masih membatin.

*****

            Sore ini matahari tetap memancarkan sinar nya di kolong langit Valencia. Tapi, tidak mengurangi rasa sejuk. Karena tiupan angin yang akan selalu setia menemani pancaran sinar sang mentari. Walaupun cuaca hari ini bagus, tapi tidak dengan keadaan rumah hari ini. Shan yang baru saja pulang sekolah langsung menghempaskan tubuh nya ke kasur super empuk dengan sprai putih milik nya. Biasanya, jika sedang kelelahan seperti ini, hanya Mommy yang bisa bikin Shan merasa lebih baik. Bahkan, hanya dengan mendengar suaranya yang merdu saat bicara sekali pun. Mommy dan Daddy memang sibuk. Sampai-sampai, Shan tidak pernah bisa bertemu langsung dengan Daddy. Karena Daddy selalu pulang larut malam dan biasanya Shan sudah tertidur.

Karena Shan belum tau apa saja yang ada di dalam rumah baru nya ini, gadis keturunan Jerman-Inggris ini memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar menyusuri satu per satu ruangan di dalam rumah ini. Mata nya tertuju pada ruangan gelap yang berada di pojok. Tangannya mulai mengotak-atik gagang pembuka pintu itu. Sampai akhirnya pintu itu benar-benar terbuka. Ruangannya gelap. Shan meraba tembok ruangan sampai menemukan saklar lampu. Ternyata ruangan ini tidak cukup bersih. Debu dimana-mana. Meski begitu, Shan tetap menjelajahi ruangan yang mungkin lebih tepat disebut ‘gudang’. Langkah Shan berhenti saat pandangan nya tertuju pada sebuah alat musik besar berwarna hitam.

Yap, sebuah Grand Piano yang kelihatannya tidak lagi baru. Tapi, sepertinya masih bisa di gunakan. Shan mencari kursi untuk mencoba bermain piano yang sudah tertutup debu ini.

“hebat! Bunyi piano ini masih seperti baru.” Walau terlihat usang, tapi bunyi dari piano ini masih sangat bagus. Shan mengembangkan senyum nya dan jemari tangan nya mulai menari-nari di atas tuts piano. Tanpa disadari Shan seperti telah menciptakan lagu baru.

TBC……

lagi-lagi pengen ngasih iseng-iseng berhadiah…wkwkwkwk nih piano nya Shan 🙂 cuma bedanya, karena piano nya Shan itu udah lama, jadi warnanya agak pudar gitu deh… nih yaa… kapan ya bisa punya piano kek gini??? :’)

Gambar

Advertisements

One thought on “Just A Shadow (What Do You Wanna Defend?)- Part2

  1. Pingback: MORE FANFICTIONS | MY FANFICTIONS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s