Just A Shadow (What Do You Wanna Defend?)- Part 3

JAS PT 3

Main Cast:

Shanley Kay

Danny Kent

Ciara Fernandez

Marc Marquez

Support Cast:

Mommy

dan silahkan dicari lagi sisanya 😀

Genre:

Family, Drama, Romance, dan apalah itu namanya… wkwkwkw 😀

Rating:

PG-13

Author:

@azharasrwt (<<bukan author yang baik ini.. Don’t try this 🙂 )

Soundtrack:

Yiruma’s Music

Disclaimer:

cerita ini hanyalah FF belaka, tapi, buat kalian yang bukan pecinta motogp, kalau tiba-tiba kalian jadi suka motogp jangan salahkan saya yaa… khayalan yang berlebihan tidak di tanggung…. kadang berakibat efek samping… semua cast disini milik mereka. tapi, nama-nama tambahan disitu emang khayalan ku semua alias fiksi belaka 🙂 yaa, anggaplah mereka bicara dengan bahasanya masing-masing 😀 typo itu manusiawi, jadi maapin aja yaa 🙂 yg SIDER??? no problem 🙂 tapi kalo bisa tetep budayakan RCL 😀 sebagai WNI yang baik…

Hope You Like

~HAPPY READING~

Would you tell me I was wrong? Would you help me understand?

Are you looking down upon me? Are you proud of who I am?

There’s nothing I wouldn’t do to have just one more chance.

To look into your eyes and see you looking back….. -Hurt (Christina Aguilera)

 

“astaga, Shannn….” Sontak Mommy berteriak saat melihat Shan tergeletak di dekat piano. Mommy mengelus lembut rambut Shan yang masih terlelap. Sentuhan tangan itu, terasa sangat nyaman. Shan membuka matanya perlahan. Di lihat nya sosok Mommy yang sudah berdiri tepat di samping Shan. Wajah Mommy kelihatan sangat lelah. Mungkin karena aktifitas nya seharian ini. Shan menatap Mommy, tapi matanya sayu.

“nak, kenapa kamu tidur di tempat kayak gini. Ini gudang belum pernah mommy beresin. Mommy gak ada waktu luang buat bersihin nya. Masih banyak debu nya lagi.” Ujar Mommy seraya tangannya terus membelai rambut Shan.

“aku tadi nungguin mommy. Terus aku ke-asyik kan main piano. Sampai malam begini.” Sahut Shan nadanya lemah. Mommy membantu Shan berdiri.

“dan kau pasti belum makan malam?” tanya Mommy yang masih membantu Shan berjalan keluar dari gudang yang berdebu itu.

“aku tidak lapar. Tadi sore di sekolah aku udah makan bareng. Oh iya, mom….” Jawab Shan yang tidak melanjutkan perkataan nya. Mommy menaikkan alis tanda ia mempersilahkan Shan untuk melanjutkan omongan nya.

“piano nya kenapa di simpan di gudang?” sambung Shan dengan pertanyaan yang terdengar biasa saja.

“piano itu kayaknya udah rusak. Makanya mommy simpan di gudang.” Jawab Mommy datar tapi masih menyunggingkan senyuman di bibir nya.

“lebih baik besok piano nya mommy buang saja. Kalo diliat-liat itu bikin sempit gudang juga sih.” Lanjut Mommy. Kata-katanya tadi membuat Shan sontak menoleh ke arah Mommy dengan terbelalak.

“hey, mommy. Piano itu gak rusak. Bahkan suaranya masih bagus. Mom, jangan buang piano nya yaa… shan mohon.” Protes Shan. Nadanya terdengar seperti sebuah permohonan. Mommy sangat mengerti apa yang di rasakan Shan sekarang. Shan berkata seperti itu mungkin, agar dia tidak bosan di rumah saat sedang sendiri. Hasrat yang terpendam cukup lama, akhirnya kembali lagi. Hobi nya bermain piano sewaktu kecil, sekarang Shan ingin mengulang semua kejadian itu. Bayangan 10 tahun silam kini tengah menari-nari di pikirannya.

Sosok Mommy yang dulu tidak sesibuk ini dan masih sempat meluangkan waktu nya untuk mengajari Shan bermain piano. Sampai akhirnya Shan berhasil menyabet gelar juara pertama di ajang pencarian bakat. Ya, walaupun hanya setingkat kota, tapi Shan cukup senang dengan hasil nya. Dan pastinya, di balik semua itu, selalu ada sosok Mommy yang setia mengajar, melatih, dan menemani Shan bermain piano. Tapi, semuanya berubah. Mommy yang sekarang jauh lebih sibuk. Bahkan meluangkan waktu nya untuk makan bersama pun tidak bisa.

Sebuah tepukan mendarat di pundak Shan dan berhasil membuyarkan semua bayang-bayang nya sewaktu kecil.

“bagaimana kalau piano nya, mommy pindahkan ke ruang tengah.” Mommy memberi usul. Shan mengembangkan senyumannya. Seperti diberi backing powder, senyuman itu terus berkembang dan menghiasi wajah cantik Shan.

“boleh..boleh… boleh banget, mom. Terima kasih yaa, mom.” Sejurus kemudian Shan merentangkan tanganya dan langsung memeluk tubuh perempuan berumur 38 tahun itu dengan erat. Dan mommy pun menyambut pelukan itu dengan hangat.

 

*****

 

Seperti pagi-pagi biasanya. Meja makan rasanya sangat sepi. Hanya terduduk seorang gadis berusia 16 tahun dengan rambut pirang nya, lengkap dengan pakaian seragamnya yang masih baru. Biasanya Mommy yang selalu menemani Shan sarapan. Tapi pagi ini, Mommy hanya meninggalkan secarik kertas berisi pesan singkat di atas meja makan. Seperti nya, dalam beberapa waktu kedepan, Shan akan lebih sering menghabiskan waktu nya tanpa Mommy dan Daddy. Yaa, mereka berdua memang sangat sibuk dengan urusan pekerjaan mereka masing-masing. Terkadang, pikiran negatif itu terus menghantui Shan. Pikiran bahwa Mommy dan Daddy mungkin sudah tidak peduli lagi atau mereka memang tidak sayang lagi pada Shan? Atau bahkan mereka lupa, kalau sebenarnya mereka punya anak perempuan berusia 16 tahun yang saat ini sedang mereka telantarkan? Ah, tidak. Jika pemikiran seperti itu tiba-tiba muncul, Shan langsung membuang jauh-jauh pikiran negatif nya itu. Jam yang melingkari tangan Shan menunjukkan pukul 6.00AM.

Makanan yang tersaji di meja makan tidak sedikit pun di sentuh oleh Shan. Semua makanan masih utuh. Pagi ini, nafsu makan Shan hilang. Dengan segera, Shan meraih tas nya dan kemudian berangkat ke sekolah. Seperti biasa, Pak Luis selalu mengantar Shan ke sekolah. Yaa, itu sudah jadi kebiasaan yang rutin dilakukan Pak Luis sebagai supir pribadi.

 

*****

RIINNNGGGGG…….

Gadis itu melangkah secepat mungkin menuju kelas nya. Pandangan nya fokus pada setiap papan kecil dari kayu yang menggantung di dekat pintu. Sambil terus berjalan, Shan berusaha mengingat jalan menuju kelas nya. Dan kejadian itu terulang lagi.

 

*BRUUUUKKKKKK*

 

“ya ampun, lu lagi….” ujar pemuda itu, nada bicaranya meninggi. Yap, pemuda yang biasa menabrak Shan, sekarang berdiri tepat di hadapan Shan. Tapi kali ini, masalah besar tengah Shan hadapi. Segelas Mango Juice yang dibawa pemuda itu tumpah. Jas hitam dan sweater abu-abu nya kini berubah warna menjadi kekuningan, akibat tumpahan dari Mango Juice itu.

“kali ini lu yang nabrak gue.” Ujar pemuda itu. Lebih terdengar seperti sedang menahan emosi nya.

“yahh, sorry… aku gak sengaja.” Sahut Shan merasa bersalah. Kini ia hanya bisa menggigit kecil bibir nya karena takut dengan pemuda yang tengah berdiri di depannya.

“sorry? Emang lu pikir dengan kata ‘Sorry’ lu itu bisa bikin baju gue bersih lagi?” hardik pemuda itu. Shan mundur beberapa langkah ke belakang. Walaupun, pandangannya masih fokus pada pemuda di hadapan nya.

“oh, yaudah aku yang cuci aja ya… jas sama sweater nya.” tangan Shan berusaha melepas jas dan sweater milik pemuda itu. Tapi, pemuda itu langsung menepis tangan Shan dengan sangat kasar.

“di cuci?? Lu pikir mau berapa jam gue nunggu jas sama sweater gue sampai kering???” pemuda itu melemparkan pertanyaan yang sama sekali tidak ingin Shan jawab. “5 menit lagi, gue ulangan Spanish. Dan guru gue itu killer banget.. attribute seragam gue harus lengkap dan bersih… sekarang??? Lu liat…. Liat pake mata lu… kotor semua seragam gue…” pemuda itu terus menghardik Shan. Sampai orang yang berada di sekitar mereka pun langsung memandang ke arah perdebatan yang kelihatannya sangat seru.

“lu harus tanggung jawab!” kali ini pemuda itu menuding Shan.

“nih, kamu pakai blazer aku aja.” Shan memberikan penawaran. Tapi, terdengar sedikit gila bukan?

“lu pikir gue bodoh?? HAH?? Blazer lu itu ungu, sedangkan jas gue itu hitam. Apa nyambung nya??? HAH?? Lu punya otak kan?? Puter otak lu sampai lu tau gimana caranya tanggung jawab.” Omongan pemuda itu semakin tidak sopan. Shan hanya diam berusaha menahan butiran bening yang sudah berada di pelupuk matanya agar tidak jatuh. Pandangan nya mulai kabur.

“HEY!!! Ayolah, lu punya otak kan?? Pikir dong… gimana ca…..”

“CUKUP!!!” shan berteriak memotong omongan Pemuda itu. Suaranya terdengar agak bergetar.

“bisa gak ngomong lebih sopan sedikit sama perempuan?” pemuda itu langsung terdiam mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Shan. Bahkan, mata pemuda itu pun tidak lagi menatap Shan seperti yang ia lakukan tadi saat menghardik Shan tanpa rasa bersalah.

“sekarang, aku tanya sama kamu… apa mau kamu??? Kamu mau aku ngelakuin apa?? HAH??” tanya Shan suaranya semakin bergetar. Kali ini, Shan memberikan tatapan yang sangat tajam pada pemuda itu.

“gue gak tau dan gak mau tau. Pokoknya, lu harus tanggung jawab.” Jawab pemuda itu masa bodo. Tiba-tiba sebuah tepukan ringan mendarat di pundak pemuda itu.

“ayo, bro. masuk. Mrs. Agnia otw ke kelas. Lu gak mau jadi bulan-bulananan nya kan?” tanya Marc Marquez —teman satu kelas dan juga teman satu ekskul pemuda itu —sambil merangkul tubuh pemuda itu.

“HAH…” pemuda itu mendesis dan langsung pergi meninggalkan Shan dan Marc. Suasana di sekitarnya pun sudah sepi. Marc juga langsung menuju kelasnya.

“tunggu..” panggil Shan. Suaranya parau karena menahan tangisnya tadi. Marc membalikkan tubuhnya dan kembali menghampiri Shan.

“dia itu siapa?” tanya Shan pandangan nya mengarah ke tubuh pemuda itu yang kemudian berbelok ke arah kelasnya. Marc mengerti apa yang Shan maksud.

“Danny Kent. Anak ekskul Basket. Kenapa?” tanya Marc peduli. Ia tahu, kalau baru saja terjadi perdebatan hebat antara teman dekatnya dengan gadis yang sekarang berdiri di hadapannya. Bagaimana tidak? Suara Danny yang saat itu terus menghardik seorang gadis cantik yang melakukan kesalahan kecil padanya, terdengar sampai kelasnya sendiri. Shan tidak memberi jawaban. Mulut nya tidak mampu berkata lagi. Ia hanya berusaha menahan bulir bening yang terus memaksa keluar dari mata indah milik nya.

“menangis lah jika kau ingin menangis. Menangis tidak akan menyelesaikan masalah. Tapi, dengan menangis, perasaan mu akan jauh lebih baik.” Ujar Marc penuh perasaan. Shan tidak kenal dengan pemuda di hadapannya sekarang. Tapi, sikap nya sangat sopan. Dan Shan sangat menyukai itu.

Air mata nya tak tertahan lagi, butiran bening itu perlahan membentuk aliran seperti sungai kecil di pipinya. Isakan nya terdengar jelas. Shan kaget saat tau Marc mengusap bahunya perlahan. Matanya menatap tajam ke arah Marc. Disaat seperti ini, masih ada seseorang yang membuat dirinya kuat. Marc. Bahkan ia tidak mengenal pemuda ini.

“aku harus segera ke kelas atau aku akan jadi menu makan siang Mrs. Agnia.” Ucap Marc dengan senyum manis nya yang membuat Shan semakin nyaman di dekat nya.

“bye!” Marc berbalik badan dan langsung menuju kelas nya. Shan masih berdiri memandangi punggung Marc yang terlihat bidang. Dan kini pemuda itu tak terlihat lagi karena sudah berbelok ke arah kelasnya.

 

*****

“ke kantin yuk…. Udah istirahat, nih.” Ajak Ciara bersemangat. Ditarik nya tangan Shan dan langsung berlari menuju kantin. Shan cuma menuruti dan mengikuti kemana pun Ciara pergi.

“yaa… padahal kita udah berusaha dateng secepat mungkin. Tetap saja kantin ini rame.” Gerutu Ciara. Mereka berdua langsung mencari meja kosong. Setelah mendapati meja yang masih kosong, Shan dan Ciara duduk saling berhadapan.

“aku pesan makanan, ya. kau mau pesan apa?” tanya Ciara dengan secarik kertas dan sebuah pulpen di tangan nya.

“aku lagi gak berselera makan. Aku pesan chocolate volcano pudding saja.”

“hanya itu? Baiklah…” Ciara menulis pesanan nya. kemudian berlalu menuju tempat pemesanan. Shan duduk sendiri seraya kakinya terus menghentak-hentak lantai. Yaa, menurutnya, cara itu ampuh untuk menghilangkan rasa bosan karena menunggu. Tiba-tiba matanya menangkap sosok bayangan seseorang yang tidak asing lagi bagi Shan. Orang itu…. Marc Marquez. Tapi, Marc tidak sendirian, melainkan ada seseorang di depan dan belakangnya. Shan tidak mengenal orang yang berjalan tepat di belakang Marc, tapi…. Astaga.. Shan tau siapa orang yang berjalan di depan Marc.

Danny Kent. Anak Ekskul basket yang gaya nya sok cool dan kurang ramah pada orang. Tapi, gosip yang Shan dengar tentang Danny, ia adalah satu dari sekian cowok yang jadi incaran anak perempuan di sekolah ini. Hampir semua anak perempuan di sekolah ini mengidolakan sosok Danny. Mendengar gossip itu, Shan hanya bisa menggelengkan kepala tanpa banyak berkomentar.

“ini pesanan mu, dan ini pesanan ku.” Ujar Ciara yang membawakan pesanan. Tangan nya menyodorkan seporsi chocolate volcano pudding yang kelihatannya sangat lezat. Keduanya langsung menyantap makanan yang mereka pesan. Sejurus kemudian, Shan mendapat tepukan di bagian pundak nya. Shan sontak melihat kebelakang.

Ternyata, orang itu adalah orang yang tadi pagi menghardik Shan tanpa merasa bersalah. Ia datang bersama kedua temannya. Marc dan Jorge. Entah, apa yang membuat ketiga anak eksis ini menemui Shan. Marc Marquez dan Jorge Lorenzo, langsung melemparkan senyumnya saat bertemu Shan. Sedangkan Danny, hanya memasang wajah datar.

“masih mau marah?” tanya Shan tidak peduli. Ia masih sibuk menyantap pudding yang ada di hadapannya.

“gue minta maaf!” jawab Danny acuh tak acuh. Shan masih diam dan Ciara hanya bertopang dagu memperhatikan Shan dan ketiga anak eksis itu.

(“ada apaan sih sebenarnya?”) Ciara membatin.

“kalo gak ikhlas, lebih baik gak usah!” ketus Shan. Kemudian berlalu meninggalkan makanannya, Ciara, dan juga komplotan anak eksis itu, seraya menyenggol sedikit bahu Danny.

Ciara berdiri dari tempat duduknya. Matanya menatap ke arah Danny, kemudian berlalu mengikuti langkah Shan.

“apa gue masih salah, bro??” tanya Danny pada kedua teman dekatnya.

 

*****

Langkah Shan semakin cepat, sampai Ciara tidak bisa menyamakan kecepatan langkahnya.

“SHANNN….” Panggil Ciara dari jarak yang tidak terlalu jauh. Tidak ada respon dari Shan, ia terus berjalan. Langkah nya semakin cepat hingga akhirnya Shan berlari kecil.

“Shan, tunggu!!!” Ciara menarik tangan Shan dan membuat langkahnya terhenti.

“sebenarnya ada masalah apa sih sama kamu dan 3 anak eksis itu?” tanya nya penasaran. Ciara beralih tepat di hadapan Shan. Pertanyaan gadis itu terdengar serius. Ada apa sebenarnya??

Shan menghela napas. Mencoba meredam semua amarahnya dan ingatannya soal kejadian tadi pagi yang membuat hati nya terasa nyeri. Sangat nyeri. Apalagi perkataan yang keluar dari mulut Danny, itu sangat menyakitkan.

“aku jelasin di kelas ya..” ujar nya. Kemudian berlalu tanpa memperdulikan orang yang sedari tadi bicara padanya.

 

*****

“masa sih??? Jadi dia marah-marah cuma karena itu?” Ciara kaget saat Shan menceritakan semua kejadian yang ia alami pagi tadi.

“iya, aku juga dengar tentang gosip itu.”

“gosip apa?” tanya Ciara penasaran. Ia kemudian mulai mendengarkan cerita Shan tentang gosip itu dengan saksama.

“katanya, danny itu satu dari sekian banyak cowok yang jadi incaran anak perempuan disekolah ini. Hampir semua anak perempuan. Aku bingung deh.. sikap nya aja gak sopan banget. Apalagi omongan nya. ohh, apa karena dia anak eksis yaa??” tanya Shan berandai-andai. Entah kenapa, tiba-tiba Ciara merubah ekspresi wajah nya.

“ci, kamu kenapa? Kok kayaknya kamu gak suka ya kalo aku ngomong gitu. Masalah gosip itu?” tanya Shan bingung dengan sikap Ciara.

“enggak. Biasa aja. Gosip lama. Udah basi.” Jawab Ciara singkat. Shan masih memperhatikan Ciara. Tapi, sejurus kemudian, tangan nya sibuk membuka lembar demi lembar buku Spanish yang sedang ia pelajari. Ciara hanya melirik sinis ke arah Shan yang sibuk sendiri.

(“kenapa harus bahas gosip itu lagi sih?”) Ciara membatin.

 

TBC……

 

sebenernya gak tau sih mau ngasih gambar apaan lagi-__-” tapi, ini aja deh… liat tampang ketiga anak eksis di Marigold IHS….

idk-,-

Advertisements

2 thoughts on “Just A Shadow (What Do You Wanna Defend?)- Part 3

  1. Pingback: MORE FANFICTIONS | MY FANFICTIONS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s