Just A Shadow (What Do You Wanna Defend?)- Part 4

JAS PT 5

Main Cast:

Shanley Kay

Danny Kent

Ciara Fernandez

Marc Marquez

Support Cast:

gak tau juga sih ^^v mueheheh…cari sendiri aja yaa…

Genre:

Family, Friendship, Drama, Romance, dan sekenanya 😀

Rating:

PG-15

Author:

@azharasrwt

Soundtrack:

hooiii… aku udah ganti musik nya loh 🙂 selamat mendengarkan musik terbaru nyaa… 😀

Disclaimer:

cerita ini hanya FF belaka, apabila ada kesamaan nama, tempat, dan alur cerita, itu hanya sebuah kebetulan…. sekali lagi, ini cerita hasil co-pas gue dari otak:D mihiihi.. semua cast disitu milik tuhan dan dirinya sendiri.. dan nama tambahan disitu cuma khayalan aku doang:) tapi, yang gak suka motogp, jangan nyalahin gue ya kalo tiba-tiba malah jadi suka sama motogp :p heheh…typo manusiawi, jadi maafin aja 🙂 lestarikanlah yang namanya RCL sebagai pembaca yang baik;)

Hope You Like

~HAPPY READING~

Next time I’ll be braver, I’ll be my own savior,

When the thunder calls for me,

Next time I’ll be braver, I’ll be my own savior,

Standing on my own two feet…. -Turning Tables (Adele)

“ayo, pulang…” ajak Ciara menarik-narik tangan Shan layaknya seorang bocah yang tidak dibelikan lollipop.

“sabar dong… eh, iya.. tugas Spanish,yes! Belum selesai.” Ujar Shan tangannya menepuk pundak Ciara beberapa kali, karena tugas Spanish nya belum selesai. Yap, setiap murid pindahan dari luar Negara Spanyol harus menyelesaikan semua tugas Spanish berbentuk essay, yang telah diberikan pihak sekolah. Jika murid baru itu terlambat mengumpulkan atau gagal, maka dianggap gugur menjadi siswa tetap. Dan semua biaya yang sudah di keluarkan tidak di tanggung oleh pihak sekolah. Karena itu, Shan harus bersungguh-sungguh agar tidak mengecewakan orang tua nya.

“eh, bantuin yaa… please… Ciara kan baik..” lanjut Shan memohon seraya merayu Ciara agar ia mau membantu mengerjakan tugas Spanish nya yang belum selesai itu.

“okay, ke rumah kamu?” tanya Ciara. Tangannya memutar kunci sepeda motor kemudian ia memundurkan motornya tidak jauh dari tempat Shan berdiri. Shan malah bengong. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Tiba-tiba, sosok mahluk itu datang lagi. Mahluk yang benar-benar tidak ingin Shan lihat dalam waktu dekat ini. Orang itu. Danny Kent. Lagi-lagi ia menampakkan dirinya di hadapan Shan.

“sorry ya, tapi gue belum bisa tanggung jawab. Gue bingung harus gimana. Jadi, gue butuh saran, supaya gue bisa tanggung jawab.” Baru saja Danny ingin bicara, tapi Shan sudah lebih dulu angkat suara.

“gue minta maaf!! Masalah tanggung jawab itu lupain aja.” Ujar Danny mencoba memilih jalan damai. Daripada harus ribut dengan cewek yang sama sekali tidak ia kenal.

“sorry ya, DANNY KENT. Tapi, gue bukan orang yang lepas tanggung jawab.” Shan menyebut nama lengkap Danny yang seketika membuat pemuda itu ternganga. Bagaimana ia bisa tau nama lengkapnya? Bahkan, kemarin gadis yang kini berdiri tepat dihadapan nya belum memberi tau namanya. Aneh. Mungkin itu yang dirasakan Danny sekarang.

“hmm, kalo udah dapet ide atau saran bilang yaa.” Lanjut Shan masa bodoh. “ayo, ci. Buruan.” Sambung Shan mengalihkan pembicaraan. Kakinya mulai melangkah menaiki motor, tapi langkah nya terhenti saat Danny tiba-tiba memegang erat lengan kiri nya. Kompak, Shan dan Ciara menoleh ke arah Danny. Tapi, kali ini wajah Ciara terlihat masam. Bukan pertama kalinya. Tapi, ini kesekian kalinya Ciara memasang wajah masam, kalau melihat Shan dan Danny berdua saja. Entahlah, apa yang dipikirkan Ciara sekarang.

“apa-apaan sih?” tanya Shan kaget seraya berusaha melepaskan genggaman tangan Danny.

“gue gak akan ngelepasin lu, sebelum lu maafin gue.” Genggaman tangannya semakin kuat, hingga berhasil membuat Shan meringis.

“sakit, Dan. Lepaskan!” Shan terus mencoba melepaskan genggaman Danny, tapi sia-sia.

“lu gak perlu tanggung jawab. Gue yang salah. Gue salah, karena tadi pagi gue udah marah-marah sama lu.” Nada bicaranya melemah dari sebelumnya.

“aneh. Lu aneh tau gak. Tadi pagi, lu yang bilang sendiri kalau gue harus tanggung jawab. Gimana pun caranya.”

“kan tadi gue udah bilang,lupain semuanya. Dan lu maafin gue yaa…” ujar Danny yang lebih terdengar seperti sebuah harapan. Shan tidak merespons. Terjadi keheningan antara Shan, Danny, dan Ciara, yang hanya menjadi saksi bisu diantara kedua orang di depannya.

Tiba-tiba, Shan ingat dengan perkataan Mommy nya beberapa tahun silam. Saat Shan berusia 13 tahun. Saat dimana Shan masih duduk di bangku Junior High School. Ia pernah sakit hati karena ulah Rosa —teman masa lalu nya. Berawal dari kesalah pahaman, kemudian kata-kata itu keluar dari mulut Rosa. “kau orang yang tidak berguna!” siapa yang tidak sakit hati jika dibilang seperti itu?

Shan masih ingat sekali dengan kejadian itu. Shan berusaha cuek dan sabar mendengar apa yang dikatakan Rosa. Sampai akhirnya, Rosa tau semua permasalahannya dan benar saja, ini hanya kesalah pahaman. Rosa datang ke rumah Shan untuk meminta maaf. Mungkin, karena Shan sudah terlanjur sakit hati dengan perkataan Rosa, ia hanya diam dan tidak memperdulikan keberadaan Rosa yang saat itu masih berdiri di teras rumah bersamanya.

“ada apa ini?” suara lembut itu muncul tepat di belakang Shan. Perempuan yang saat itu usia nya masih 35 tahun mencoba mencairkan suasana.

“shan, maafkan aku…. Aku salah….. kau boleh membalasnya, jika kau tidak keberatan..maaf kan aku…” kemudian tangan halus milik Mommy mengusap rambut Shan pelan seraya berbisik.

“shan, maafkan dia. Dia itu kan teman mu. Mungkin dia gak sengaja buat kesalahan sama kamu.”

“ihh, mom. Tapi omongan nya dia itu bikin sakit hati. Mana ada sih teman yang lebih percaya sama omongan orang lain daripada omongan temennya sendiri.” Bisiknya tidak setuju.

“dengar, nak. Tuhan saja memaafkan orang yang berdosa sekali pun. Masa kau tidak bisa memaafkan rosa? Kau tidak ingin menjadi orang yang sombong, kan?” tanya Mommy meyakinkan. Kata-katanya mampu membuat Shan luluh dan akhirnya Shan mau memaafkan Rosa.

“baiklah. Kau ku maafkan.. tapi, jangan kau ulangi lagi yaa…” Shan memperingati.

*****

“hey!” sebuah tepukan mendarat sempurna di pundak Shan dan berhasil membuyarkan bayang-bayang masa lalu nya.

“bagaimana? Kau memaafkan ku?” tanya Danny sekali lagi.

“oh, i-i-iya..iya.. kau ku maafkan.. tapi, jangan kau ulangi lagi yaa.” Shan memperingati. Sejurus kemudian sebuah pelukan menghampiri tubuh Shan. Ia hanya pasrah soal itu.

“gracias…. Gracias..muchas gracias..Shanley Kay Steinfeld..” Apa? Danny juga menyebut nama lengkap Shan? Darimana ia tau? Sekelas pun tidak.

Cukup lama Danny memeluk Shan. Dan membuat Ciara hampir pingsan. Wajah Ciara memerah, napas nya terengah-engah karena melihat pemandangan itu. Jantung nya serasa mau copot, bahkan mulutnya tidak mampu lagi mengeluarkan kata-kata.

(“hentikan semua itu, Danny! Hentikan…”) Ciara membatin. Apa yang sebenarnya Ciara maksud??

*****

“maaf ya, kamar tidur ku agak berantakan.” Ciara mempersilahkan Shan masuk ke dalam ruangan favorit Ciara, yap, kamar tidurnya sendiri. Mata Shan mengawasi setiap sudut ruangan. Kesan ‘Queen Room’ di sini sangat terasa. Sangat berbeda dengan kamar Shan yang semuanya bernuansa Hello Kitty. Kamar ini cukup luas dan rapi. Udara sejuk masuk dengan leluasa lewat pintu menuju balkon yang sengaja dibuka.

“tidak apa. Kamar ku juga berantakan..hehehe..” shan terkekeh.

Kemudian, keduanya langsung duduk lesehan di atas karpet yang sangat lembut. Shan mengeluarkan buku Spanish nya dan mulai sibuk mengerjakannya.

5 menit kemudian…..

“huuuuuuaaaaaaaaaahhhhhhh…..” Shan menutup mulut nya yang tiba-tiba menguap. Menyebalkan! Rasa kantuk itu datang disaat tugas Spanish belum selesai. Di tambah lagi karpet lembut, udara segar yang bertiup dari luar, dan alunan musik klasik, yang mendukung untuk segera menuju kasur.

“ci, kok aku ngantuk yaa?” tanya Shan seraya kedua tangan nya sibuk mengucek mata.

“ayo tidur…. Lumayan kan tidur 2 jam.” Ajak Ciara. Ia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur super nyaman.

“heemmm…heemmmm….”

Keduanya terlelap bersama-sama. Masih menggunakan baju seragam sekolah lengkap dengan atribut nya.

*****

Shan berusaha melirik jam dinding. Matanya terasa berat setelah 2 jam tidur bersama Ciara. 6.24 pm. Shan yakin kalau rumahnya masih sepi, karena Mommy dan Daddy pasti belum pulang kerja. Maka, ia mengurungkan niat nya untuk segera pulang ke rumah. Di sebelahnya masih terbaring seorang gadis dengan gaya tidur nya yang awut-awutan.

“ci…. Aku mau ke kamar mandi yaa…” Shan mengguncangkan tubuh Ciara yang masih terbaring lelap.

“hmm… di bawah ya. kamar mandi di kamar aku rusak.” Sahut nya terpejam sambil menunjuk ke arah bawah.

“TAPIIIII……” belum selesai Ciara bicara, Shan langsung lari keluar kamar.

*****

            Shan berlari menuruni tangga. Pintu kamar mandi tidak di kunci. Shan langsung mendobrak masuk kedalam nya. ternyata……

“ARRRGGGGHHHHH……”

“AAAAHHHHHHHHH……” teriak kedua orang itu bersamaan. Tepat di depan Shan, berdiri seorang pemuda yang telanjang dada. Untung nya masih ada handuk yang menutupi tubuh bagian bawah pemuda itu. Shan menghela napas. Syukurlah, tidak terjadi sesuatu pada dirinya. Wajah pemuda itu…. Sepertinya Shan pernah melihat sebelumnya. Ah, benar. Marc Marquez. Astaga! Tubuhnya…. Shan langsung menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau membayangkan sesuatu yang tidak seharus nya ia bayangkan.

“shan… kamu ngapain disini?” tanya Marc canggung. Shan masih membeku memperhatikan tubuh Marc.

“heh, Shan. Ngeliat apaan?” Marc melambaikan tangan ke arah Shan, mencoba membangunkan lamunan nya.

“ehh, iyaa… sorry…” Shan memalingkan wajahnya karena malu. Marc hanya tertawa kecil melihat tingkah Shan. Tapi, sejurus kemudian handuk yang di pakai Marc untuk menutupi bagian pinggang ke bawah itu jatuh tanpa perintah. Keduanya saling melempar tatapan dan….

“AAAAHHHHHHHH…..”

“ARRRGGGHHHHH……” keduanya berteriak hampir seperti MagiChoir —nama paduan suara di sekolah Shan. Secepat mungkin, Marc mengambil handuknya yang terjatuh dan langsung kabur entah kemana. Shan bingung. Di dalam hatinya bertanya-tanya.

“kenapa dia bisa ada disini????” Shan langsung mengunci pintu kamar mandi dan kembali ke tujuan awalnya.

*****

Shan membuka handle pintu kamar Ciara perlahan. Ternyata, Ciara yang sudah berganti pakaian dan duduk di depan meja rias seraya menyisir rambut cokelat nya.

“oh iya, tadi aku mau bilang sesuatu. Ehh, kamu malah kabur duluan.” Shan langsung ambil posisi duduk di kasur yang jaraknya dekat dengan meja rias. Ia memperhatikan Ciara dengan saksama.

“aku tadi mau bilang, kalo masuk kamar mandi yang di bawah itu, di ketok dulu.. jangan langsung masuk.. soalnya, sejak keran kamar mandi kamar aku sama marc rusak, kamar mandi di bawah jadi dipakai bersama… hahahah… yaa, semacam toilet umum deh jadinya..” ujar Ciara di selingi tawa ringan.

“marc? Kok dia bisa disini, ci??” Shan bingung.

“dia kan sepupu angkat ku.”

“sepupu angkat? Maksudnya??” Shan mengernyitkan alis. Berusaha mengerti maksud Ciara.

“kata dokter, tante aku itu gak bisa punya keturunan. So, tante sama om aku mengadopsi anak dari panti asuhan. Mereka sayang banget loh sama Marc. Tapi, tante aku meninggal karena kecelakaan. Terus, om aku pergi ninggalin marc sendirian di rumah ku. Katanya sih pergi ke Frankfurt. Mungkin menikah lagi dengan gadis Frankfurt.” Jelas Ciara santai.

“terus? Om kamu gak pernah ketemu marc lagi gitu? Katanya sayang? Dasar laki-laki tak bertanggung jawab!!!” Shan jadi terbawa emosi mendengar cerita tentang Marc.

“ooppppssss….” Shan menutup mulutnya. Entahlah, kata-kata tadi keluar tanpa perintah.

“gak apa-apa. Aku ngerti kok. Aku juga sering malah berpikir kayak gitu.” Ciara menanggapi. “ohh, iya. Tapi, tadi kamar mandi nya kosong kan?” sambung Ciara dengan pertanyaan yang membuat Shan kembali mengingat kejadian tadi.

“gak gitu… aku udah liat semuanya…” ujar nya lemas dan tatapannya kosong.

“maksudnya???”

*****

“aku pulang…..” Shan memberi salam. Tiba-tiba, Mommy menghampiri Shan dengan wajah serius.

“darimana saja? Kau tau sekarang jam berapa?” tanya Mommy tegas. Shan menyeringai.

“jam 7.36 pm. Mom, aku pulang telat karena ada tugas. Bukan main.” Jelas Shan.

“kenapa kau tidak menelfon mommy sebelumnya?”

“gak nelfon?? Coba cek dulu handphone nya, mom. Aku telfon berkali-kali. Mommy aja yang gak angkat telfon dari aku. Sibuk kan???” kata-katanya penuh penekanan.

“Shan…” panggil Mommy sedikit berteriak. Tapi, Shan langsung berjalan menuju kamar nya. Hari ini rasanya lelah sekali. Shan memilih untuk segera membersihkan tubuhnya dan setelah itu tidur bersama guling kesayangan nya. Untuk kali ini, ia tidak mau berdebat dengan Mommy. Walaupun kesal karena sudah sering kali Mommy tidak menepati janji. Apalagi masalah jam pulang.

Drrrtttt…. Ddrrrtttt….. ddrrrtttt…..

Shan menatap sayu pada layar ponselnya yang menampilkan sederet nomor telepon. Ciara. Baru sejam yang lalu mereka bertemu. Ada apa ini? Cukup lama Shan terpaku, hingga akhirnya ia putuskan untuk menerima panggilan itu.

“Shan, kamu buka twitter. Cepetan gak pake lama!!!” belum sempat Shan bicara, suara diseberang sana sudah mendahului. Shan menjauh kan ponsel nya beberapa senti dari telinga, karena suara cempreng milik Ciara yang sukses memekakkan telinganya.

“astaga! Ci, suara mu itu.. duh, aku baru mau tidur, nih.”

“ohh, begitu. Sorry.. tapi coba kamu buka twitter deh.” Nada bicaranya melemah. Shan hanya diam seraya menebak apa yang Ciara maksud.

“hmmm, memangnya ada apa? Ada hal penting, kah?” tanya Shan.

“yaa, buka aja pokoknya..” Ciara mengakhiri panggilannya.

Kemudian, ia langsung membuka akun social media nya itu lewat ponsel. Ia masih belum bisa menebak maksud Ciara tadi di telepon. ibu jari nya terus menslide layar ponsel tanpa perintah. Kali ini, Shan beralih ke user profile. Dilihat nya Followers yang bertambah 5.

Dua akun fanbase Manchester City, dan dua akun yang tidak ia kenal. Maklum, Shan adalah gadis pencinta Hello Kitty yang juga mencintai Manchester City. Kecintaan nya pada Liga Inggris muncul begitu saja saat ia masih kelas 9. Tanpa alasan yang jelas pula.

Tapi, tunggu… apa-apa-apaan ini??? “ishh..” Shan mendesis pelan. Apa yang ia lihat tadi, berhasil membuatnya bertanya-tanya dalam hati. “darimana orang ini tau username twitter aku,sih???”

 

TBC……

 

gimana??? udah sampe part 4 nih ^^heheheh… masih dikit kali ini mah… ceritanya makin gak nyambung yaa??? duh, aku juga gak tau nih, jadi tambah aneh aja ceritanya… oh iya, aku mau ngasih gambar lagi nih ^^.. fotonya Shan waktu jaman SMP sama Rosa temannya itu..mihihihi…

Bkn6HcYCYAMSZzL

ih, shan nya masih tetep cantik yaa?? wah, parah..berarti shan cantik nya udah permanen nihh 🙂 hayoo, shan sama rosa cantik kan yang mana???

Advertisements

One thought on “Just A Shadow (What Do You Wanna Defend?)- Part 4

  1. Pingback: MORE FANFICTIONS | MY FANFICTIONS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s