Kissing You- Oneshoot

Kissing you pt

Cast:

Kichida Florentina Almaira

Dani Pedrosa

Marc Marquez

Alex Marquez

Kichida Florentina Caroline

Rating:

PG-15

Genre:

Romance, Friendship, Brothership

Author:

@azharasrwt

Soundtrack:

dengerin aja lagu yang ada di blog ini…. 🙂

Disclaimer:

cerita ini hanya FF belaka… ohiya,ini cerita oneshoot pertama aku. aku minta RCL nya yaa… karena aku masih pemula, jadi menurut aku nulis sebuah cerita itu gak gampang. dapet inspirasinya susah.. jadi, tolong hargai yaa… maaf kali ini author nya rada galak.. efek tamu bulanan deh kayaknya.. ini cerita baru dan gak bersambung. gak ada hubungannya sama cerita-cerita sebelumnya. dan satu lagi… ini hasil tulisan gue sendiri. 😀 kalo ada yang typo maaf yaa 😉 *being a silent reader isn’t cool* 🙂

Hope You Like

~HAPPY READING~

Hari ini aku dan Dani tiba di Charles de Gaulle Airport. Cuaca disini cukup bersahabat. Angin bertiup dengan bebas. Tapi, matahari juga tak mau kalah ingin ikut menampakkan dirinya. Perancis. Aku berjalan beriringan dengan Dani. Pacarku??? Iya, itu memang benar. Kami sudah berpacaran lebih dari 1 tahun. Aku benar-benar bersyukur. Tuhan memberikan ku orang yang tepat. Dani. Pria terhebat yang pernah kutemukan setelah Ayah ku. Tangan ku masih setia menarik koper yang isinya baju-baju ku untuk beberapa hari kedepan. Kebetulan, kampus ku mengadakan rapat besar-besaran antar guru. Yang membuat semua mahasiswa nya libur panjang. So, aku memutuskan untuk ikut bersama Dani. Sekalian refreshing juga. Otak ku sudah cukup mumet dengan semua tugas kuliah yang tiada bertepi itu. Berlebihan??? Yaa, memang itu kenyataan nya. aku memandangi Dani dari belakang. Yaa, langkah nya memang lebih cepat daripada langkah ku. Dari sini, aku bisa melihat punggung Dani yang…. Yaa, kau tau… aku tidak perlu mendeskripsikannya. Karena, percuma saja. Siapa pun yang melihatnya pasti… yaa, begitulah. Kalau salah satu dari kalian adalah wanita pengagum perfect man, kalian pasti tau bagaimana perasaan ku saat ini. Berada di dekat Dani yang membuatku semakin… arrgghhh….

Ku lihat dia masih sibuk dengan I-Phone nya. Entah apa yang dia lakukan sampai sepertinya dia melupakan ku. Hey, aku ini pacar mu kan??? Aku ada di belakang mu sekarang… eerrrr… kenapa kau tidak balik badan????

Sekedar informasi aja nih. Walaupun Dani itu ganteng dan kelihatan perfect, tapi terkadang dia suka gak peka. Ralat. Dia memang sering tidak peka. Dan satu lagi, ekspresinya itu loh. Suka banget dingin sama cewek-cewek yang sok kenal sok deket sama dia. Yes! Baguslah. Berarti Dani masih berusaha mempertahankan aku dalam hatinya. Mungkin itu juga alasan mengapa Dani tidak suka memakai Umbrella Girl. Bukannya aku berpikir negatif, tapi menurutku, sebagian besar Umbrella Girl lebih terlihat seperti cewek murahan. Apa??? Omongan ku terlalu kasar??? Sorry aja ya.. aku memang tipe orang yang lebih suka ngomong bla-blakan, to the point, dan gak suka bertele-tele. Tapi kembali lagi, semua profesi akan bernilai lebih baik jika pembawaan mu benar. Ambil contoh Umbrella Girl. Mereka tidak seburuk yang dipikirkan orang banyak. Sekali lagi, tergantung cara pembawaannya. Yaa, kalo yang sok kenal sok deket sama rider lain… ya iyalah, bakal di cap jadi cewek gak bener.

Aku mengusap lengan Dani perlahan seraya menatap wajahnya yang sama sekali tak bergeming dari layar ponsel.

“masih sakit???” tanyaku pelan.

“masih sedikit nyeri. Tapi, sudah membaik kok, Dear.” Dani menjawab. Kali ini dia menatap ku sambil tersenyum manis. Ohh, pasti sekarang aku Blushing. Duhh, Dani…. Kenapa kamu selalu bikin pipi ku jadi merasa kayak lobster rebus sih???

“lagi ngapain sih?? Serius banget sama handphone nya… sampai lupa kalau ada aku disini.” Aku menggembungkan pipi. Benar saja, pandangan Dani beralih padaku dan kedua tangannya menyentuh pipiku lembut. Entahlah, aku suka perlakuan Dani yang seperti ini.

“aku lagi telefon supir yang mau ngantar kita ke hotel. Perjalanan masih lumayan jauh, Dear.. aku gak mau kamu capek.” Jelasnya seraya mengusap puncak kepalaku. Dani itu bukan Cuma pacarku. Tapi, Dani juga bisa merangkap sebagai kakak ku. Aku suka dengan sikapnya yang dewasa. Tapi, belakangan ini aku merasa Dani sedikit berubah. Uhm, maksudku dia memang berubah. Dia jarang sekali meluangkan waktunya untukku. Ku pikir, jadwal race MotoGP yang dua minggu sekali itu cukup untuk Dani meluangkan sedikit waktunya untuk ku.

Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Mobil itu berhenti tepat di depan aku dan Dani berdiri. Laki-laki paruh baya itu keluar dari mobil kemudian mempersilahkan aku dan Dani untuk menumpangi mobilnya. Selama perjalanan, tidak ada percakapan yang terjadi antara aku dengan Dani, Dani dengan Pak Supir, ataupun aku dengan Pak Supir. Keheningan yang aneh. Kenapa sih?? Akhir-akhir ini Dani gak pernah nyapa aku duluan??? Eeerrrr…..

*****

Aku menghempaskan tubuhku ke atas spring bed dengan sprei berwarna pink yang terlihat lucu dengan gambar Masha and the bear… Hotel yang unik. Aku merenggangkan otot-ototku karena pegal. Aku terduduk kemudian berpikir sejenak. Bosan!!! Ku putuskan untuk datang ke kamar Dani. Yaa, sekalian melihat sprei nya. hahaha…

Pintu nya gak di kunci. Aku langsung membuka pintu itu dan masuk ke dalam kamar Dani tanpa beban. Terlihat Dani sedang menelefon. Palingan juga sama mekaniknya atau siapa lah itu. Yang pasti hubungannya erat sama MotoGP. Aku mendengus kesal. Kok rasanya aku gak dianggap ya disini??? Aku mau pergi jalan-jalan. Tapi, kalo nyasar gimana??? Terus gak bisa pulang ke rumah gimana??? Terus kalo diculik sama orang jahat gimana?? Ihh, gak mau ahh… aku menggeleng keras. Sepertinya Dani sudah selesai dengan urusan telfon-menelfon nya. ehh, ya ampun. Dia dari tadi gak liat aku udah nungguin disini apa??? Di pinggiran kasur. Tenang aja, sprei nya bukan Masha and the bear kok. Tapi, Phineas and Ferb-___-

“daniii…..” panggil ku hampir frustasi karena kehadiran ku disini tidak di sambut sama sekali.

“hmm…” sial.. dia Cuma berdehem aja. Wah, kalo kayak gini keliatannya udah gak bener nih. Aku berdiri tepat di depan Dani. Ia menatap ku santai. Tapi, aku malah menatap dia dengan tatapan tajam.

“kamu liat aku daritadi disini gak???” tanya ku berusaha menahan emosi.

“liat.” Jawabnya singkat masih dengan tatapan santai. Lah?? Jawabannya singkat banget??? Astaga!! Benarkan. Akhir-akhir ini sikap nya Dani berubah banget. Dan ku rasa ini puncaknya. Aku mulai naik pitam.

“sebenarnya kamu nganggep aku apa sih???” ujarku dengan nada yang mulai meninggi seraya berkacak pinggang.

“kamu kenapa sih??? Dateng-dateng kok malah marah-marah??” ujarnya kaget setelah mendengar kata-kataku.

“gak sadar apa?? Yang bikin aku marah-marah itu yaa kamu….” Sahut ku kesal. Ngapain malah balik nanya sih dia. Bukannya introspeksi. Astaga!! Ya Tuhan… aku gak bisa marah-marah… kalau kayak gini keadaan nya aku benar-benar gak bisa marah. Tapi, yap, aku mulai merasakan aliran air hangat itu turun dari pelupuk mata ku. Pandangan ku mulai kabur.

“kamu berubah, gak kayak dulu. Kamu gak pernah sedikit aja perhatiin aku kayak dulu.” Lanjut ku. Ku rasakan air mata ku semakin deras mengalir. Bahkan sekarang aku tidak tau harus ngomong apalagi. Semoga Dani bisa ngerti perasaan ku.

“egois!!”

Deg…

Tiba-tiba jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Setelah mendengar kata-kata itu…. Setega itu kah kau, Dani???

“aku juga punya kesibukan lain… aku gak Cuma harus perhatiin kamu doang kan?? Aku harus fokus sama race, latihan… terserah kamu aja deh…” lanjut Dani seraya menggaruk kepala bagian belakangnya yang aku yakin tidak gatal sama sekali. Aku langsung pergi dari kamar Dani. Aku terus berjalan cepat sambil sesegukan. Air mataku terus mengalir. Aku benar-benar kacau.

Bruuukkk….

“aduhh..” ringis ku. Aku menabrak seseorang. Sepertinya aku mengenali orang ini. Ah iya, Alex Marquez. Adiknya Marc Marquez yang sekarang namanya lagi naik daun. Kenapa gak naik pesawat kek, naik mobil, atau naik getek. Kenapa harus naik daun yaa??? Tuh kan. Pikiran ku mulai ngawur kemana-mana. Kacauu, kacauu….

Dibelakangnya tiba-tiba ada seseorang yang tanpa dosa menoyor kepala Alex. Aku melirik ke belakang Alex dan…. Ya ampun, ternyata kakak- adik ini lagi berantem deh pasti.

“kak Alma… kakak kenapa?? Kok nangis sampai sesegukan gitu sih???” tanya Alex penasaran. Sejurus kemudian tangan Alex menangkap pundak ku dan saat itu juga Marc menepisnya dengan cepat.

“sok kenal banget sih lu sama dia.” Marc menoyor kepala Alex lagi. tapi, alex malah diam aja dengan tampang polos nya. ya ampun, imut banget sih si Alex ini. Ehh, gue udah punya Dani kan???

Aku pergi menjauhi kedua kakak-adik itu. Tapi, Marc menghalangiku. “lu kenapa sih??” ya Tuhan… kenapa dua orang ini penasaran banget sih???

“bukan urusan lu!!!” ketus ku kemudian pergi meninggal kan dua orang itu. Aku bisa merasakan, kaki ku lemas. Aku berjalan gontai ke arah mana, aku juga tidak tahu. Entahlah, aku ingin jalan-jalan sebentar. Paling tidak, cara ini dapat membuat perasaanku lebih baik. Bodo amat lah. Mau nyasar atau ketemu sama orang jahat sekalipun.

Drrtttt…. Drrtttt… drrtttt….

Handphone ku bergetar. Kulihat layar handphone ku dan…. Ohh, pesan dari Dani…

Dani:

Kau kemana??? Aku mencari mu…

Aku terdiam cukup lama. Hah?? Mencari??? Untuk apa mencari ku??? Apa dia masih membutuhkan ku??? Kurasa jawabannya adalah ‘Tidak’.

Aku memutar mata ku kesal. Aku hanya bergumam dalam hati. Dan itu ku lakukan berkali-kali. Tiba-tiba handphone ku kembali bergetar dan aku langsung menatap ke layarnya.

my dear’ calling….

Terima, jangan, terima, jangan, terima….. ahh! Aku pusing. Ku putuskan untuk tidak menerima panggilan dari Dani. Tak beberapa saat dia mengirimkan pesan singkat.

Dani:

Aku tunggu di belakang hotel. Tepat di sebelah kolam renang. Sekarang!!!!

Huh! Aku mendengus kesal. Serius??? Atau dia hanya bercanda??? Aku tidak tau. Aku masih berkeliling tempat ini. Entah apa namanya. Dan kabar baiknya adalah aku sama sekali tidak tau jalan kembali menuju hotel. Aku duduk dibangku berwarna cokelat. Tepat di pinggiran jalan. Suasana nya ramai teratur. Aku suka udara disini. Sejuk sekali. Aku tersentak setelah sebuah tepukan mendarat sempurna di pundak ku. Ku edarkan pandangan ku ke belakang. Dan… ya ampun, bocah ini. Aku memandangnya tanpa ekspresi.

“masih nangis??? Oh, iya ngapain disini???” tanya Alex penasaran. Hey, aku tidak menangis. Hanya saja aku lupa mengelap sisa-sisa air mata ku. Lagi pula mau apa sih dia kesini???

“lu ngikutin gue yaa???” tanya ku menyelidik. Kemudian seseorang menghampiri ku. Ia tersenyum manis. Yaa, cewek mana sih yang gak melting kalo dapet senyuman maut nya si Marc. Apa??? Marc??? Disini ada Alex dan Marc??? Ya Tuhan, pasti sebentar lagi mereka akan memulai perang.

“heh, lu ngapain deket-deket sama Alma???” tanya nya sewot. Yang ditanya malahan menjulurkan lidah. Melihat wajah ku yang masih dihiasi sisa-sisa air mata, Marc memberikan selembar tissue. Aku tersenyum dan berterima kasih padanya.

“Gracias..”

“ehh, lu ngapain sih ngikutin gue???” tanya Alex ikut-ikutan sewot.

“idih! Siapa yang ngikutin, gilaaa….” Marc kembali menoyor kepala adiknya nya itu tanpa dosa.

“ehh, udah jelas gue lagi jalan-jalan disini. Lu ngikutin gue kan pasti???” alex terus menuduh Marc. Kali ini ia menunjuk-nunjuk wajah Marc.

“kalo lu Cuma jalan-jalan, terus ngapain lu disini berdua doang sama Alma???” Marc bertanya lagi seraya berkacak pinggang.

“gue gak sengaja ketemu kok.”

Aduuhhhh….. ini kalo makin lama di biarin tambah panjang lah urusannya.

cut it ouuuttt!!!

ehh, seseram itu kah suara teriakan ku??? Sampai dua bocah yang asik bertarung mulut itu berhenti??? Hahahaha… lucu juga melihat mereka berdua tertunduk. Takut kali yaa sama aku. Yaa, kedatangan kedua bocah ini cukup menghibur juga ternyata.

“lu sih. Nyolot!!”

Aduuuhhh, si Alex mulai lagi nih. Belum pernah denger gue teriak sampe kedengeran di kutub utara yaa???

“lah? Lu yang ngeles terus. Gue aduin ke Dani yaa…”

Deg….

Dani…. Oh iya, aku sampai lupa. Dia kan sedang menunggu ku. Aku langsung berlari sambil menggandeng tangan Marc. Modus??? Bukan… kalian ingat kan kalau aku gak tau jalan menuju hotel??? Alex masih diam ditempatnya. Ekspresinya lucu. Mungkin karena melihat kakak kesayangannya ini gue gandeng buat jadi penunjuk jalan. Hehehe…

*****

Aku melihat seseorang berdiri di tepi kolam renang. Iya, Dani. Ternyata dia benar-benar menungguku. Jujur saja, aku lagi malas bertemu sama dia. Apalagi setelah kejadian tadi. Ia membentak ku. Selama kami berpacaran, Dani tidak pernah membentak ku. Aku kembali melangkah mendekati Dani. Aku tidak menyapa nya. tapi ku akui, untuk kali ini dia peka. Dani menoleh ke arah ku. Aku hanya bersidekap sambil mengalihkan pandangan ku ke hal yang lain. Aku tidak ingin menatapnya untuk saat ini.

“maafin aku yaa.. tadi itu aku benar-benar sedang emosi.” Ujar Dani. Aku yakin kedua matanya pasti sedang menatapku dalam-dalam. Tapi, tunggu… maaf??? Setelah apa yang terjadi tadi, dia meminta maaf??? Bagaimana yaa, aku sudah terlanjur kesal sama dia. Aku hanya diam.

“aku tadi gak fokus… jadi maaf kan kata-kata ku yang tadi…” please, gak semudah itu aku maafin kamu.

“gampang yaa… abis marah-marah langsung minta maaf..” hahaha~ rasakan semprotan maut gue… ehh.

“semua orang juga bisa kali, abis marah-marah terus langsung minta maaf. Abis itu di ulangi lagi. dan terus begitu sampai akhirnya hubungan mereka putus.” Ujar ku ketus. Dani hanya menatapku sambil menggertakkan giginya. Ku yakini dia sedang menahan emosi nya karena perkataan ku tadi. Biarlah, biar dia sadar sendiri.

“kenapa sih??? Kamu jadi berubah???” tanya nya masih dengan tatapan yang dalam. Kali ini aku membalas tatapan itu.

“apa??? Aku?? Berubah??? Heh, sadar dong. Siapa yang berubah.” Oops, begini deh kalo aku udah kesel. Apa cara bicara ku ini terlalu blak-blakan???

“jadi, kamu pikir kalo aku itu berubah???” tanya Dani perlahan. Aku langsung menatapnya. Kalau kalian lihat, mungkin tatapan ku yang ini lebih pantas disebut ‘tatapan Bathsheba’…. Kalian tau Bathsheba kan??? Itu loh, semacam dukun atau apalah itu namanya. Yang pasti ada di film ‘The Conjuring’.

“iyalah, berubah 180o… kamu udah gak pernah perhatian sama aku lagi. Janji kamu yang kemarin-kemarin juga gak kamu tepati. Aku tau kamu sibuk. Tapi, coba kamu hargai aku sedikit aja.” Jelasku. Ku rasaka bulir hangat itu mulai mengalir dari sudut mata. Dengan bebas mengalir begitu saja membentuk sungai kecil.

Dani mendongakkan dagu ku agar aku bisa menatap matanya dengan jelas. Ia mulai membersihkan sisa-sisa air mataku dengan ibu jarinya dan Dani mengusap wajahku lembut dengan punggung tangannya.

“aku terima kok kalo kamu bilang kayak gini. Aku sadar. Tempo hari aku janji mau ngajak kamu liburan. Tapi, aku malah operasi lengan aku. Siapa sih yang mau sakit, al?? walaupun aku udah rencanain semua baik-baik, tapi kalo tuhan gak izinin???” aku tertegun setelah mendengan kata-kata Dani tadi. Dani mendekatkan wajahnya. Dan sekarang aku bisa merasakan hembusan nafasnya.

Aduuhhhh, jangan sampai blushing lagi. kan ceritanya aku lagi marah nih sama Dani. Wah, gagal deh ini mah kayaknya. Pipiku pasti udah merona. Aku memejamkan kedua mataku. Duh, aku gak berani natap matanya Dani. Ia menempelkan kening nya ke keningku. Kedua tangannya masih setia memegang pipiku.

Tapi, bagaimana sih ini. Disisi lain aku juga belum bisa memaafkan Dani.

“kau mau maafin aku kan, al???” tanyanya memastikan. Aku menggeleng dan mendorong sedikit tubuh Dani.

“maaf yaa, aku belum bisa maafin kamu.”

Duh, sekarang aku bingung dan semoga ini jawaban yang paling benar yang aku pilih.

“aku harus gimana?? Supaya kamu maafin aku???” pintanya. Aku menoleh kebelakang dan berniat untuk meninggalkannya. Tapi, tangan Dani menahan pergelangan tanganku. Membuatku langkah ku terhenti. Tapi, aku tetap tidak berbalik badan.

“aku gak akan berhenti minta maaf sama kamu. Sebelum kamu maafin aku, al. 3 hari lagi race akan dimulai. Aku Cuma gak mau fokus ku terbagi-bagi.” Jadi, Dani minta maaf sama aku Cuma karena race??? Dia ikhlas gak sih mau minta maaf nya???

“kamu minta maaf sama aku Cuma karena race??? Terus kalau udah selesai race gimana??? Kamu bakal ngelakuin hal yang sama lagi??? gitu??” kali ini aku berbalik badan dan menatapnya dalam-dalam. Kenapa sih??? kenapa aku jadi cewek yang gampang nagis gini??? Jangan…. Ku mohon jangan… mau sampai berapa liter lagi aku mengeluarkan air mata???

Ohh, aku menyerah. Sepertinya bulir bening itu kembali ingin mendobrak pelupuk mataku. Dan, yap… mengalir dengan sempurna membentuk meander. Hanya saja ukurannya jauh lebih kecil.

“bukan gitu… kamu harus bisa ngerti kata-kata aku. Setiap race itu akan mempengaruhi poin. Dan poin itu penentuan juara dunia. Dan juara dunia itu….” Terjadi jeda sebentar. Dani menggenggam tanganku.

“aku mau bikin kamu bangga. Selama ini aku gak pernah bisa ngasih sesuatu yang berharga buat kamu. Jadi, kali ini aku Cuma mau ngasih gelar world champion itu buat kamu. Aku gak mau kamu malu karena punya pacar yang gak bisa berbuat banyak untuk pasangannya sendiri. Kamu liat, beberapa rider lain yang pernah juara dunia. Mereka bisa bikin bangga keluarganya dan pasangannya. Please, aku Cuma mau ngelakuin itu aja. Dan aku harus fokus. Maafin aku, al.”

Duuhh, kayaknya kata-kata Dani berhasil bikin aku luluh. Ehh, tuh kan. Kata-katanya Dani bukan Cuma sukses bikin aku luluh. Tapi, sukses juga bikin aliran meander di wajahku ini makin-makin. Aku masih tetap dengan pendirian ku.

“ya udah, aku perlu bukti!” kataku singkat. Terlihat Dani menyeritkan kening, bingung.

“aku mau kau merebut podium satu saat race nanti.” Dani tersenyum lembut. Ya,ya… ini pipiku pasti udah merona lagi deh. Merah banget gak sih???

I’ll try to give my best..

*****

Hari ini. Dimana gelaran MotoGP diadakan di Le Mans. Setelah aku tau kalau Dani start di posisi Sembilan, sepertinya harapan ku agar Dani bisa meraih podium pertama hilang sudah. Wajah nya juga kelihatan kecewa.

Sebenarnya, aku biasa-biasa saja. Karena aku tau kondisi Dani kurang sehat. Luka operasinya itu pasti masih terasa nyeri. Hah! Bosan yaa.. sekarang masih race Moto2. Giliran MotoGP masih lumayan lama. Tiba-tiba seseorang duduk disebelah ku. Ohh, ternyata Aline ―umbrella girl nya Marc yang lagi di modusin sama Alex. Itu bocah emang tukang ngembat punya orang. Masa iya umbrella girl nya si Marc mau diambil juga???

“Almaaa…” panggilnya centil. Centil banget. Untung nya dia cantik dan imut. Pipinya selalu merah. Sekedar info aja kalau pipi merahnya emang udah bawaan dari lahir. Tomato Cheeks. Hahaha~ panggilan sayang nya Alex tuh. Boleh ngakak gak sih?? aduhduh, wajah mu itu loh. Lucu banget. Aline ini sama kayak aku. Ada keturunan Jepang nya. makanya mata kami sipit-sipit cute gimana. Gitu.

“kamu kok diam aja disini? Dani sendirian tuh…” ujar Aline lembut. Oh iya, Dani. Ku rasa ini saat yang tepat untuk aku menceritakan semuanya sama Aline.

Aline itu baik. Sahabat aku sejak Dani dan aku berpacaran. Akhirnya aku menceritakan semuanya. Dari A sampai Z. Aline mengangguk kecil dan kembali tersenyum.

sorry, kalau menurutku, lebih baik kau maafkan saja Dani. Dia juga sering kok cerita padaku. Dia Cuma mau buat kamu bangga. Kau tau kan keadaan Dani kurang baik. Tangannya pasti masih nyeri deh. Kamu hibur dia yaa. Kamu support dia. Sekali lagi aku kasih tau.. Dani itu gak berubah sama sekali!”

Iyaa, benar kata Aline. Aku harus memaafkan Dani. Tunngu… bodoh! Bodoh banget! Harusnya aku yang minta maaf ke Dani. Karena aku udah berpikiran negatif sama dia.

“baiklah. Aku pergi dulu yaa.” Aline menyunggingkan senyuman termanis nya dan aku segera berlari menuju paddock. Aku melihat Dani yang sedang sibuk dengan tim nya. mempersiapkan ini-itu untuk memulai race. Aku mengurungkan niat ku untuk… ya kau tau lah… aku berbalik badan dan langsung keluar dari paddock.

“Almaaa…” suara itu. Suara Dani Pedrosa. Pembalap asal Spanyol yang di kontrak oleh tim Repsol Honda. Yap, tim yang terkenal cukup bagus seantero dunia dalam ajang MotoGP. Aku menoleh dan langsung memeluk Dani. Ahh, lagi-lagi. cairan hangat itu keluar dari sudut mata ku. Aku membenamkan wajahku di pundaknya. Nyaman. Nyaman sekali. Tangis ku semakin menjadi-jadi. Aku memberanikan diri untuk menatap manik matanya.

“kau kenapa, al??? ada yang melukai mu??” tanya Dani khawatir. Bisa ku pastikan kalau Dani benar-benar masih sayang sama aku.

“a-aku-aku minta maaf, Dani.” Aku menangis. Aduh, gak tau deh gimana wajah aku sekarang. Aku kan kalo nagis jelek banget.

“aku salah nilai kamu.” Ujar ku sesegukan. Dani mengusap rambutku lembut, kemudian tersenyum.

“sudahlah. Yang penting sekarang aku harus fokus. Aku akan menepati janjiku. Podium pertama hari ini untuk mu,dear.”

“ta-tapi-tapi kau tidak perlu memaksakan diri. Aku tau, luka bekas operasi mu belum sembuh benar.” Kata ku masih sesegukan.

“jadi, kau sudah memaafkan ku???” tanya Dani seraya menaikan sebelah alisnya.

“iyaa.. tapi harusnya aku yang minta maaf. Terserah kau ingin memaafkan ku atau tidak.” Ehh, kok aku ngomong nya jadi ngawur yaa??? Dani menempelkan jari telunjuknya di bibirku.

“ssttt, jangan bilang gitu, dear. Kita sudah saling memaafkan kan??? Jadi, aku minta doa darimu yaa.” Ujar nya tersenyum senang. Dan… oops, what the…??? Dani mencium pipiku. Aku butuh kaca. Kaca dimana??? Kemudian ia tertawa geli saat melihat wajahku. Bisa ku pastikan, Dani tertawa karena pipiku yang kemerahan.

*****

Ohh, Dani… di lap-lap terakhir ini dia ada di posisi 5. Posisi pertama??? Siapa??? Marc Marquez yang suka tawuran sama adiknya sendiri. Aku akui dia memang hebat. Bocah aneh. Nanti juga abis selesai race palingan juga berantem lagi sama adiknya. Dan itu mereka lakukan selalu didepan gue-___-

FINISH!!!!!

Aku tidak peduli di posisi berapa Dani sekarang. Yang jelas, aku senang karena race berlangsung baik dan Dani juga baik-baik saja. Tunggu, Dani baik-baik saja???

Aku yang sedari tadi berada di paddock Dani langsung menyambut kedatangan Dani. Tapi, kelihatannya dia kurang baik. Dia berjalan gontai menuju singgasana nya. OH MY GOD!!! Aku langsung menghampiri Dani dan terlihat dia sangat kesakitan. Ya Tuhan, Dani benar-benar sedang menahan rasa sakitnya sekarang. Aku hanya bisa ternganga memandangi Dani. Sungguh, pita suara ku seperti nya enggan untuk mengeluarkan sepatah kata pun.

“aku sudah menelfonnya. Dan kita harus segera membawa Dani ke medical center untuk mendapatkan perawatan intensif.” Ujar seorang mekanik tim Dani ke anggota tim lainnya.

Astaga! Separah itu kah Dani??? Aku mengusap puncak kepala Dani.

“sebenernya apa yang kamu rasain sekarang??? Kamu masih sakit yaa???” tanya ku seperti orang bodoh. Buat apa bertanya kayak gitu. Udah jelas kan kalo Dani sekarang lagi sakit??? Aku menyatukan telapak tangan ku dengan telapak tangan Dani. Aku meremasnya dengan lembut. Sesekali aku menempelkan tautan tangan kami ke pipiku. Aku terus menyemangati Dani seraya menunggu Supir itu datang.

*****

Aku mondar-mandir gak jelas di koridor medical center. Sesekali aku mengintip Dani dari celah jendela yang tidak tertutup gorden. Ya Tuhan, semoga semuanya baik-baik saja. Akhirnya aku duduk disebelah Aline. Ia mengusap pundak ku seraya terus memberikan semangat dan ikut berdoa denganku.

“sabar yaa, al.. dani pasti baik-baik aja kok. Dia kan kuat…” Aline tersenyum lembut. Aku menatapnya sebentar. Kemudian, aku kembali menunduk dalam dan melanjutkan doa-doa ku. Seseorang dengan pakaian serba putih keluar dari ruang rawat Dani.

“bagaimana keadaan nya, dok??” tanya ku cemas. Wah, dokternya cewek cantik nih. Rambut nya cokelat, panjang, dan bergelombang sangat cocok dengan wajahnya yang manis.

“kekasih mu itu baik-baik saja… hanya dia perlu istirahat beberapa saat. Dan jangan lupa untuk terus meminum obatnya. Agar luka bekas operasinya itu cepat pulih.”

Aisshh, kok dokter ini bisa tau yaa kalau aku pacarnya Dani???

“dari tadi kan dia memanggil nama mu berkali-kali. Kau Alma kan??? Dia bilang diluar sana seorang wanita cantik sedang menunggunya dengan cemas.”

Seperti peramal, dokter ini tau apa yang aku pikirkan. Hehehehe…. Aku hanya bisa terkekeh.

“baiklah, dok. Apa sekarang saya boleh menjenguknya?” tanyaku seraya menaikan alis dan berharap jawabannya ‘iya’.

“10 menit lagi yaa…”

okay, terima kasih, dok…” dokter itu tersenyum kemudian berlalu meninggalkan aku dan Aline. 10 menit??? Hah, menunggu lagi. Membosankan. Aku kan khawatir sama kondisi Dani sekarang. Bodo ah! Terobos aja~. Hahaha…

“heh, mau kemana?” belum sempat aku membuka handle pintu ruang rawat Dani, si tembem Aline sudah menarik tangan ku sampai aku berbalik badan.

“mau masuk lah…”

“tunggu 10 menit, Alma!!!” perintahnya dengan mata sedikit membulat. Hehehe… Aline, mau melotot seseram apapun juga tetep aja matanya sipit. Like me….

Tap..tapp…taappp….

Terdengar suara langkah kaki yang semakin dekat. Kali ini terdengar sedikit rusuh. Tunggu, tunggu… suara langkah kakinya makin rusuh yaa??? Aku menoleh dan…

Aduuhhh, aku mendapati dua bocah tengil itu lagi. seperti biasa, mereka masih saling toyor-menoyor antar kepala. Hahaha… lucu banget sih mereka.

Marc dan Alex melemparkan senyum termanisnya. Ralat. Yang senyum manis Cuma Marc doang. Kalo Alex…. Gimana ya… jatuh nya malah jadi kayak nyengir kuda gitu. Hehehe… tapi dua-duanya tetap lucu. Belum pernah aku cubit sambe kulit nya kecabut yaa???

“kak Alma.” Sapa Alex. Aku hanya tersenyum. Sejurus kemudian, jari telunjuk Marc menoyor kepala Alex tanpa dosa.

“ehh, lu noyor kepala gue terus sih??? emang nya lu kepengen apa punya adik yang otaknya makin lama makin lemot???” tanya Alex dengan wajah polos. Sumpah! Asli gue mau ngakak loh ngeliat kelakuan dua bocah ini.

“ada Aline tuh.” Aku menunjuk ke arah Aline berdiri. Ku lihat Aline mengerucutkan bibirnya tanda dia lagi unmood. Mungkin karena gak diperhatiin Alex kali yaa???

“oh iya, congrats, for the first podium.” Aku mengulurkan tangan sambil tersenyum simpul.

thanks.” Balasnya tersenyum.

“bagaimana keadaan Dani???” tanya nya. Ternyata dia masih peduli juga yaa sama Dani.

“oh iya…” aku tidak mengindahkan pertanyaan Marc. Aku langsung nyelonong masuk ke ruang rawat Dani. Bisa ku tebak, pasti ekspresi Marc sekarang ini sedang… yaa kau tau.. kocak muka.

Aku langsung menghampiri Dani dan menggenggam telapak tangannya.

“maafkan aku..” kembali aku meminta maaf. Karena aku, Dani harus mengalami kesakitan separah ini.

“harusnya kau tidak perlu memaksakan untuk mendapatkan posisi didepan.” Lanjutku. Dani menatap manik mataku dalam-dalam.

“aku mau buktiin ke kamu. Kalau aku bisa. Tapi, kenyataan nya lain, al..” jawabnya kecewa.

Sungguh. Aku merasa bersalah. Ku rasakan lagi ada cairan hangat yang membentuk aliran di kedua pipiku. Yap, dan aku mulai sesegukan.

“gak perlu. Kamu gak perlu ngelakuin semua tadi. Kalau kamu tadi gak terlalu maksain juga gak bakal gini kan??” jelasku.

“tapi, aku janji. Di race selanjutnya, aku akan memberikan yang terbaik untukmu. Semua kemenangan ku nanti, aku berikan untukmu.”

Aduh, aku jadi malu. Blushing??? Bodo ah! Udah biasa kok..hehehe~

“enggak… enggak gitu.. kemenangan yang kamu dapat itu…itu semua hak kamu. Kamu kan yang ngejalanin mulai dari race pertama. Sedangkan aku??? Aku gak ngapa-ngapain..”

thanks, dear..” aku dan Dani kemudian ngobrol seperti biasa. Gak penasaran kan aku ngomongin apa aja sama Dani???

*****

Ku lirik jam di layar ponsel ku. Ini masih jam 08:00 am. Aku mendengar samar-samar dari luar. Ada yang mengetuk pintu kamar hotel ku. Ehh, aku lupa. Pintunya kan dari semalam gak dikunci. “masuk…” perintah ku dari dalam sambil teriak dengan cempreng nya. what the–??? Dani.

dear, bangun dong…” Oh my God!!! Demi apa??? Dani mencium kening ku. Hihihi… nanti aja ah bangun nya. tangannya memainkan ujung rambutku.

“ehh, tunggu. Pintu kamar kamu kok gak dikunci???” tanyanya menyelidik.

“lupa ah.” Jawabku singkat.

“dari semalam??” tanyanya lagi.

“hemm…” aku hanya berdehem. Persis seperti yang dilakukan Dani tempo hari. Bukan..bukan.. tenang aja, ini bukan balas dendam kok…

“astaga! Jadi dari semalam pintu nya gak kamu kunci??? Terus gimana nanti kalau ada orang jahat yang mau ngapa-ngapain kamu??? Kamu kan cewek. Awas ya! jangan lagi-lagi kayak gitu.” Jelas Dani. Omongannya sukses membuat aku terbangun dari tidur.

Ehh, kok aku baru sadar kalau pakaiannya Dani udah rapi banget pagi-pagi. Tolong!!! Dani ganteng banget… Astgaga!!!

“kamu mau kemana???”

“aku mau ngajak kamu kek suatu tempat. Gak keberatan kan???” tanyanya menaikan sebelah alis.

“hihihi… yaudah, aku siap-siap dulu yaa… mau mandi dulu.” Aku tersenyum.

loh? Kok Dani masih disini. Kan tadi aku udah ngasih kode yaa kalau aku mau mandi.

“ehh, ngapain masih disini???” tanyaku bingung.

“nungguin kamu lah.” Eh, jawabannya enteng banget yaa… ku lemparkan bantal guling dan mendarat sempurna di wajah imut milik Dani. Muehehehe~

“keluar sana. Aku mau mandi tau. Masa iya kamu disini. Iuhh!”

Eh, dia malah ketawa ngakak. Dasar ini bocah juga sama aja kelakuannya kayak Marc dan Alex. Sama-sama konyolnya. Apa mungkin ketularan yaa?? Vaksin mana?? Vaksin…

*****

Aku melihat pantulan bayangan diriku di cermin yang cukup besar ini. Sengaja aku memilih mini dress berwarna pastel dan menyematkan bando dengan warna selaras dengan warna mini dress ku. Segera aku keluar kamar hotel dan mengunci pintu. Aku melihat Dani yang sedang menunggu.

“cantik banget.” Ujar Dani tersenyum lembut. Ia melingkarkan tangan nya di pinggang ku. Kami berjalan beriringan dengan tangan Dani yang masih saja menggantung di pinggangku.

Aku menumpangi mobil bersama Dani. Masih dengan supir yang sama.

“sebenarnya kita mau kemana sih???” tanya ku penasaran.

“nanti juga kau tau. Perjalanan nya pasti lama banget. Jadi, kalo mau tidur dulu gak apa-apa kok.” Jawab Dani yang membuatku semakin penasaran. Tapi, ya sudahlah. Aku membenamkan wajahku ke pundak Dani. Benar. Aku ngatuk. Dan sekarang aku mau tidur.

*****

Huuaahhhh…

Aku terbangun dengan ekspresi bingung. Dimana aku sekarang??? Masih di mobil sih. huh! Benar-benar perjalanan panjang. aku gak tau pasti berapa lama perjalanan yang kami tempuh. Aku melihat Dani terkekeh dan tersenyum jahil. Aduh, perasaan gue tiba-tiba berubah jadi gak enak nih. Dia mengambil kain berwarna merah dari saku bajunya.

“itu untuk apa?” tanya ku penasaran.

“sini. Tutup mata dulu yaa..” jawabnya yang membuatku semakin penasaran. Aku hanya menuruti perintah Dani. Ia memasangkan kain itu perlahan.

Ya ampun. Romantis banget Dani ini. Hahaha~

Aku turun dari mobil dan Dani setia menuntun ku dari samping. Ia merangkul ku. Ahh… seneng banget deh hari ini. Tapi, aku masih penasaran. Dimana sih ini???

“siap???” tanya Dani. Aku gak bisa nebak gimana ekspresi Dani sekarang. Mungkin lagi senyum-senyum gak jelas karena ekspresi wajahku.

“iya. Siap deh.” Jawabku singkat.

“buka mata kamu pas aku selesai hitung sampai 3 yaa…” ujar Dani. Aku hanya mengangguk pasti.

“1…2….3…”

Hah!!! Apa??? Ini serius??? Di hadapan ku sekarang… a-ada-ada.. Eiffel Tower.

“cubit aku!” perintahku tak percaya dengan apa yang aku liat.

“untuk apa? Kamu gak lagi mimpi kok.” Dani terseyum kemudian mendongakkan dagu ku. Aku bisa merasakan angin yang bertiup dengan sangat lembut namun sukses membuat rambutku cukup berantakan. Dani menyibakkan rambutku yang menutupi wajah. Oh, Gosh! Romantis abiiisss….

Blushing! Blushing!Blushing

Aku gak bisa berkata apa-apa lagi. aku hanya diam sambil senyum-senyum sendiri. Aku lihat Dani tertawa. Mungkin karena aku salah tingkah.

“disini. Biar menara Eiffel yang jadi saksi cinta aku sama kamu, dear.”

Sebenarnya, kalimatnya agak berlebihan tapi, entah kenapa aku sangat menyukai kalimat tadi. Hehehe…

“biar semua orang di dunia ini tau kalo kamu itu milikku.” Aduhh, ini mah bukan pipiku doang yang merona. Mungkin hidung, kening, sama dagu aku juga merah kali yaa???

“ihh, kamu mah.” Aku meninju bahu Dani pelan. Ia hanya tertawa melihatku.

“boleh???” tanyanya.

“apa???” aku malah berbalik tanya. Dani mendekatkan wajahnya ke wajahku. Hembusan nafas nya sangat terasa. Ohh, tunggu… aku tau kemana alurnya… Dani menciumku. Aku hanya memejamkan mataku dan membalas ciuman dari Dani. Cukup lama Dani menciumku. Akhirnya aku dan Dani melepaskan tautan bibir kami.

Ohh, Tuhan. Beruntung nya aku memiliki pasangan seperti Dani.

Gedebuuuukkkk….

Halah, ternyata dari tadi si Marc, Alex, dan Aline ngintipin yaa… kurang ajar. Bocaahhh…

“ahh, gue mau punya cowok kayak kak Dani.” Aline kedip-kedip gak jelas.

“tenang. Kan ada aku, lin.” Alex terkekeh seraya mengikuti gaya gorilla yang suka menggebuk dadanya sendiri. Kulihat Aline terseyum malu. Blushing??? Pastinya. Aline imut banget sih??? minta dicubit deh.

“jomblo mengenaskan!” teriak Alex tepat di telinga Marc.

“ehh, sialan lu..” Marc menjitak kepala Alex tanpa ampun.

“ehh, lu pada ngikutin gue sama Dani kesini yaa???” aku mendengus kesal. Gimana sih perasaan lu kalo suasana lagi romantis malah di gangguin sama bocah-bocah gila ini???

“ini lagi satu. Aline, kok kamu malah ikutan mereka berdua sih???”

“ihh, aku diajak sama Alex. Aku juga gak tau kalau ternyata dia ngajak aku kesini.” Jawab nya malu-malu.

“kamu juga, dear. Kok gak ngasih tau aku kalau mereka juga ikut.” Tanyaku seraya mengerucutkan bibir. Unmood.

“aku aja gak tau.” Jawabnya singkat.

“ehh, lu naik mobil siapa deh???” tanya Dani pada dua bocah aneh itu.

“ihh, lu bisa penasaran juga ternyata. Hahaha…” jawab Marc tapi Dani tidak mengindahkan kalimatnya.

Dani kembali fokus menatap manik mataku. Aku tersenyum. Hari ini gak akan pernah bisa dilupain. Hari ini Dani sukses membuatku berkali-kali tersenyum. ehh, Dani kan memang setiap hari selalu membuat aku tersenyum.

Senang… senang banget..

Ditambah lagi kehadiran 3 orang aneh itu. Marc, Alex, dan Aline.

“jalan-jalan bareng bisa kali…” teriak Marc yang cukup memekakkan telinga. Kami berlima tersenyum. Hari ini rasanya semua beban hilang begitu saja dan seharian penuh kami menghabiskan waktu dengan berlibur bersama.

Aku berjalan disamping Dani. Hahaha… ia merangkul ku. Tak lupa Alex dan Aline. Pasangan yang baru saja resmi berpacaran. Alex terus melingkarkan lengan kekarnya di pinggang Aline. Dan Marc…. Dia tak peduli dengan keadaan sekitar. Ia tetap melangkah pasti mengikuti kami. Tenang saja. Marc masih single. Jadi untuk kalian yang berkesempatan ingin mendaftar jadi calon istrinya, silahkan saja…

Hehehe~

~The End~

ehh, ada yang beda gak sih dari cara penyampaian cerita ini sama cerita sebelumnya…hehehe… RCL nya yaa 😉

Advertisements

3 thoughts on “Kissing You- Oneshoot

  1. Pingback: MORE FANFICTIONS | MY FANFICTIONS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s