Velalicious (Prolog)

Novel Velalicious 2

“Nabila ….” Pekik seseorang yang baru saja keluar dari ruangan gudang olahraga. Setengah terisak, gadis itu langsung merangkul pundak sahabatnya.

“Kamu kenapa, Vel? Abis nangis?” gadis itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia membersihkan air mata yang masih tersisa di ekor matanya sambil menunjukkan ekspresi ketakutan yang luar biasa.

“Tim Disiplin Kelasnya galak banget, Bil,” ujar Vela berusaha menenangkan dirinya.

“TDK? Emang kamu diapain aja sama mereka?”

“Aku dimarahi, gara-gara rok SMP aku terlalu pendek.” Nabila yang mendengar pengaduan dari sahabatnya itu lantas tertawa sejadi-jadinya. Vela melepaskan rangkulannya perlahan dan menatap sahabatnya dengan wajah bingung.

“Kok kamu ketawa, Bil?” tanya Vela heran seraya mengernyitkan alis.

“Makanya, kamu jangan terlalu naïf,” jawab Nabila ringan setelah tawanya terhenti. “Mereka itu cuma akting, tau.” Lanjutnya sambil melepaskan ponytail dan terlihatlah rambut ikalnya yang berwarna kecokelatan.

“Aku juga tadi kena marah sama kakak TDK. Gara-gara tali sepatu aku bukan warna putih.” Tunjuk Nabila ke arah sepatunya yang terikat apik dengan tali berwarna shock pink. Vela tersenyum simpul melihat kelakuan sahabatnya yang tidak menampakkan ekspresi takut sama sekali.

“Kantin, yuk, Vel.” Ajak Nabila seraya menarik lengan baju seragam kotak-kotak milik sahabatnya. Baju seragam khas salah satu sekolah swasta di Inggris. Vela Leah Cazhara Laverty adalah seorang gadis blasteran Sunda-Inggris yang sejak 4 tahun terakhir ini bersahabat dengan Nabila Siren Charlotta. Sahabatnya sejak masih duduk di bangku Junior High School. Kedua ayah mereka punya pekerjaan yang sama dan salah satu alasan mereka harus dipindah sekolahkan, tak lain karena pekerjaan ayahnya yang selalu berpindah-pindah Negara. Kabar baiknya adalah Vela dan Nabila harus tinggal di Indonesia paling tidak sampai mereka lulus SMA.

“Ayo, deh ….” Belum sempat melangkah, tiba-tiba terdengar suara cempreng dari salah satu anggota OSIS yang berdiri di atas mimbar upacara.

“Semua peserta MOPDB harap berkumpul di lapangan upacara! Terima kasih.”

Vela mengembuskan napas berat kemudian memutar matanya kesal.

“Woy, gue lapar, kak. Punya perasaan dikit, dong …” Celetuk Nabila dan dengan sigap tangan mulus milik Vela mendarat sempurna di mulut Nabila. Posisi mereka saat ini persis seperti perampok yang mengincar harta para korbannya. Vela sebagai perampok dan Nabila sebagai korbannya.

“Siapa itu yang ngomong?” tukas salah satu anggota OSIS yang masih berdiri di atas mimbar.

“Aduh, dia dengar, ya, Vel?” Bisik Nabila yang sukses membuat Vela bergidik geli.

“Kamu, sih. Kalo mau ngomong itu dipikir dulu.” Balas Vela sambil menggelengkan kepala. Nabila melirik ke arah mimbar dan sedikit terperanjat saat mendapati tatapan sinis dari salah satu anggota OSIS yang berdiri di atas mimbar upacara. Tatapan matanya seakan berkata bahwa ia harus segera menuju lapangan dan membentuk barisan.

Kedua anak yang berpakaian paling beda itu pun langsung menuju lapangan upacara. Dengan langkah kecil-kecil dan sedikit ketakutan, Vela menggandeng tangan sahabatnya itu seraya menundukkan kepalanya. Dalam sekejap, lapangan upacara berubah menjadi lautan manusia. Semua peserta MOPDB mulai membentuk barisan sesuai dengan gugus kelasnya masing-masing. Vela langsung memisahkan dirinya dari Nabila. Gadis berambut hazel itu segera mencari barisan gugus kelasnya. Keterbatasannya berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, membuat Vela kesulitan mencari teman segugusnya dan harus rela menjadi pusat perhatian di lapangan upacara.

“Hey, Bule!” panggil seorang laki-laki yang memakai blazer hitam—blazer tanda anggota OSIS. Suaranya berhasil membuat seisi lapangan menatap ke arahnya. Yang dipanggil lantas menoleh.

Sorry?” Vela menunjuk ke arah dirinya sendiri, berusaha memastikan bahwa dirinyalah yang dipanggil “Bule” tadi.

“Iya, kamu…sudah dapat barisan?” tanya seorang perempuan dengan tangan yang disilangkan di depan perutnya.

“Gugus apa?” seseorang yang berada di sebelahnya menimpali. Vela berusaha mengingat nama gugusnya. Namanya aneh dan ia belum pernah mendengar nama itu sebelumnya.

“Lupa, kak,” jawab Vela lamat-lamat sembari menggaruk bagian belakang kepalanya yang bisa dipastikan tidak gatal sama sekali.

“Kok bisa lupa, dik? Kamu itu seharusnya ingat nama gugus dan teman-teman barumu.” Vela tak bergeming di tempatnya berdiri. Ia masih berusaha mengingat nama gugus kelasnya. “Memang kakak Pendamping Kelasnya belum sosialisasi?”

“Sudah, sih, kak. Tapi, aku lupa.” Vela sadar kalau saat ini dirinya sedang menjadi pusat perhatian. Lebih tepatnya, ia menjadi pusat perhatian karena kebodohannya sendiri. Bagaimana bisa ia lupa nama gugus kelasnya sendiri dengan alasan kalau ia belum pernah mendengar nama itu sebelumnya.

“Yang merasa satu gugus dengan bule pendek ini, angkat tangan!” perintah salah satu anggota OSIS yang bertubuh tambun. Ada sedikit penekanan di kalimat “Bule pendek” yang membuat Vela risi mendengarnya. Tampak seorang laki-laki dan seorang perempuan keluar dari barisan dan langsung menghampiri sumber suara.

“Dia kelas X.9” ujar laki-laki yang saat ini berdiri persis di samping Vela.

“Iya, gugus kucing garong nyasar di kota,” Sambung perempuan berkulit putih langsat itu. “Kami sengaja enggak kasih tau dia, supaya dia ingat nama gugusnya sendiri,” lanjutnya.

“Dan ternyata dugaan kami salah…dia bahkan enggak ingat sama sekali nama gugusnya.” Timpal laki-laki itu yang bisa dipastikan bahwa ia adalah kakak Pendamping Kelas X.9 gugus “Kucing garong nyasar di kota”.

Vela hanya bisa menundukkan kepalanya, menahan malu dan terus merutuki dirinya sendiri. Ia merasakan detak jantungnya 5 kali lebih cepat dari biasanya. Tangannya sedikit bergetar. Kalau boleh memilih, lebih baik pergi sejauh mungkin ke Gurun Gobi daripada harus berada dalam situasi seperti ini, batin Vela.

“Iya, maaf, kak.” Ujar Vela terbata-bata. Beberapa dari mereka ada yang menahan tawa dengan menutup mulutnya sendiri, ada juga yang menatap Vela dengan tampang judes luar biasa, dan yang paling menjijikkan adalah segerombolan kakak kelas yang mulai bermain mata, tanda mencari perhatian dari Vela. Mereka hanya murid biasa dan bukannya anggota OSIS. Ini adalah kejadian paling memalukan yang dialami Vela selama ini. Musnahlah kalian semua, Vela kembali membatin.

“Sudah…kembali ke barisan.” Setelah mendapat perintah dari salah satu anggota OSIS, Vela langsung menuju barisan sembari ditemani oleh dua pendamping kelasnya.

“Tenang aja, dik. Mereka Cuma bercanda, kok. Jangan dibuat hati, ya.” bisik Abu—kakak pendamping kelas X.9—berusaha menenangkan Vela. Kak Lidya yang juga berada di samping Vela mulai merangkul pundak Vela.

*****

            Hari kedua MOPDB tidak berjalan semestinya. Hari ini Vela lebih banyak tertimpa sial dan bayangan tentang bertemu senior tampan dan baik hati, perlahan menghilang dari pikirannya. Kejadian satu jam yang lalu juga masih menghantui pikiran Vela. Seusai pelaksanaan upacara itu—sebenarnya hanya berkumpul di lapangan, tetapi lamanya setara dengan melaksanakan upacara—semua Anggota OSIS mulai membagikan proposal yang terjilid rapi kepada peserta MOPDB.

“Isinya sama sekali enggak menarik!” celetuk Nabila pelan, tetapi suaranya bisa didengar Vela. Jarak antara barisan kelas X.9 dengan kelas X.7 memang tidak terlalu jauh.

“Ya ampun, Nabila. Masih sempat aja ngasih komentar yang enggak penting sama sekali.” Ujar Vela hampir seperti berbisik. Setelah ketua OSIS memerintahkan untuk membubarkan barisan, dengan cepat Vela menggandeng pergelangan tangan sahabatnya itu.

“Kamu udah baca isi proposalnya?” tanya Nabila sembari berkipas dengan benda yang ada di tangannya—proposalnya.

Vela mengembuskan napas berat. “Udah terlanjur malas. Lagian, katamu proposal ini enggak menarik, kan?” Vela bertanya balik.

“Iya, memang enggak menarik. Isinya cuma menjabarkan tentang organisasi dan ekstrakulikuler yang ada di sekolah ini aja.” Jawab Nabila santai. “Eh, kok kamu bisa tau…kalo aku bilang proposal ini enggak menarik?” lanjutnya heran.

“Tau, dong. Suaramu itu….”

“Kamu dengar, ya?” potong Nabila sebelum Vela melanjutkan kalimatnya. Yang diajak bicara hanya berangguk-angguk.

“Matilah aku, kalau sampai kakak OSIS-nya dengar.” Spontan Nabila menepuk keningnya dan sesaat setelah itu, ia merintih.

Vela yang sedari tadi menyaksikan kelakuan sahabatnya itu hanya bisa menyunggingkan senyuman khasnya. “Tenang aja, Bil. Di belakang kamu tadi enggak ada anak OSIS, kok. Paling-paling cuma peserta MOPDB yang lain aja.”

“Huh, Syukurlah.” Ujar Nabila lega sembari mengelus dadanya.

*****

Meskipun baru hari kedua MOPDB, para pengajar sudah mulai memberikan materi baru dalam pelajarannya masing-masing. Kali ini giliran Bu Sari—guru geografi—yang memberikan materi kepada murid kelas X.9 dan dengan bermalas-malasan, Vela terpaksa mendengarkan beberapa materi yang dijelaskan Bu Sari.

“Dua hari lagi kalian akan melaksanakan placement test. Jadi, kalian harus belajar sungguh-sungguh. Sebenarnya, kelas X.9 ini adalah kelas IIS, tetapi belum tentu semua murid di kelas ini minatnya sama pelajaran IPS. Ibu berharap, di kelas mana pun kalian belajar, intinya semua yang terbaik untuk kalian.” Jelas Bu Sari mendetail.

Semilir angin yang bertiup dari luar jendela sukses membuat Vela mengantuk. Ditambah lagi letak duduk Vela di bangku paling belakang dan penjelasan panjang-lebar dari Bu Sari yang membuat dirinya semakin yakin untuk tertidur di dalam kelas.

PLAAAKKKK….

Sebuah penghapus papan tulis menimpa kepala Vela dan sukses membuat Vela merintih. “Aduh, sakit….”

Vela masih berusaha mengumpulkan tenaganya—setelah tertidur beberapa menit di kelas membuatnya sedikit pusing dan lemah—untuk menyelidik siapa yang melemparnya dengan penghapus papan tulis. Ia tersentak saat mendapati Bu Sari menatapnya dengan tatapan tidak suka.

“Maaf, bu. Saya tidak akan mengulangi kesalahan saya lagi.” Vela bangkit dari kursinya dan tanpa perintah ia langsung meminta maaf. Sejurus kemudian, Bu Sari meminta kembali penghapus papan tulis itu dengan wajah garangnya yang tidak bisa disembunyikan.

“Kali ini saya maafkan. Tapi, jangan sekali lagi kamu mengulangnya. Mengerti?”

“Mengerti, Bu. Terima kasih.” Vela mengangguk pasti kemudian kembali duduk di bangkunya.

*****

Bel berbunyi tanda semua pelajaran hari ini telah usai. Menurut Vela, hari ini adalah hari yang panjang. Ia harus rela melewati serangkaian kejadian memalukan di sekolah ini. Mulai dari dimarahi TDK di ruang isolasi—ruangan gudang olahraga, menjadi pusat perhatian di tengah lapangan upacara, tertidur di dalam kelas, dan dilempar penghapus papan tulis oleh guru tergarang yang pernah Ia temukan.

“Pokoknya aku enggak mau masuk kelas IIS! Lebih baik aku berkutat dengan rumus dan formula khas anak IPA daripada harus bertemu guru garang itu setiap kali pelajarannya.” Vela bergidik ngeri mengingat kejadian tadi.

“Emang kamu pikir, cuma Bu Sari aja yang garangnya luar biasa?” tanya Nabila dan terjadi keheningan sesaat. Vela mengangkat kedua pundaknya seraya menggelengkan kepala. “Guru Fisika juga garang, Vel. Aku jadi sasarannya dia terus kalo lagi marah. Nyebelin, kan?” lanjut Nabila.

“Intinya enggak ada yang enak, Bil.” Timpal Vela pura-pura menampakkan ekspresi sedih.

“Ya udahlah, pulang aja, yuk. Aku udah capek banget. Rasanya, badan aku mau remuk semua.” Ajak Nabila yang masih sibuk mencari kunci motornya di dalam tas bekas karung tepung. Keduanya berjalan beriringan menuju tempat parkir khusus sepeda motor.

“Besok akan jadi hari yang lebih panjang dibandingkan hari ini.”

-To Be Continued-

A/n: Moshi-moshi ^^ prolognya udah keluar nih 😀 Maaf yaa minna-san, kalau prolog ini keluarnya terlalu lama. karena berkurangnya waktu kosong-_-” gimana nih prolognya? belum ada apa-apa sih… namanya juga prolog xD hehehe~ kalo ada kesalahan penulisan, mohon bantuannya yaa 😉

I’d love to hear your thought 🙂 So, don’t forget to leave a comment below or you can click a star shape, if you like my story 😉

>>> Being a Silent Reader isn’t cool ^^v

Mata aimashou~ ^^

Advertisements

5 thoughts on “Velalicious (Prolog)

  1. Gak tau kenapa pas baca part ini dan membandingkan judulnya (prolog), sepertinya akan lebih baik ditulis part 1 langsung. Soalnya ini kan udah masuk ke awalan cerita. Tapi kembali ke author sih. Diriku hanya pembaca 😀 Tapi author-lah yang berhak menentukan. By the way, sedikit koreksi untuk kalimat ‘Vela tak bergeming di tempatnya berdiri.” Kata ‘geming’ sendiri memiliki arti diam. Kalo ‘Vela tak bergeming (berdiam) di tempatnya berdiri.’ Artinya si Vela bergerak-gerak dong? Cukup itu aja komenku.

  2. Pingback: MORE FANFICTIONS | MY FANFICTIONS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s