Velalicious- Part 1 (Memorabilia)

Novel Velalicious 2

 

Vela masih setia memerhatikan pantulan dirinya di cermin. Mulai dari atas sampai bawah, kemudian kembali lagi ke atas. Tampak aneh dengan balutan seragam sekolah lamanya beserta atribut-atribut yang jauh dari kata normal. Kalung yang dibuat dari ketupat, name tag selempang ala Miss. World lengkap dengan kata-kata alay, dan tali rafia berwarna biru sebagai ikat pinggangnya. Belum lagi bando dari petai yang tersemat sempurna di kepala Vela, membuatnya harus ekstra sabar dengan aroma khas petai yang menyeruak. Toh, ini hari terakhir MOPDB, batin Vela.

“Vel, ini sudah hampir jam 7:00!” terdengar seruan seseorang dari luar kamar Vela.

“Iya, aku sudah selesai, kok.” Sahut Vela setengah berteriak. Ia tidak mau banyak berteriak, karena Ia yakin saat tiba di sekolah nanti dan bertemu TDK, sudah pasti suaranya hampir hilang akibat disuruh menyerukan yel-yel.

Untuk terakhir kalinya, Vela tersenyum masam memandangi pantulan dirinya di cermin. Tidak akan ada lagi acara memakai atribut seperti saat ini dalam dua tahun ke depan. Vela mulai menuruni satu per satu undakan tangga. Saat tiba di undakan terakhir, Ia sedikit tersentak melihat sosok yang sedari tadi menunggunya sembari fokus menghabiskan sarapan.

“Kenapa diam di situ? Ayo, kemari.” Ajak orang itu sambil beberapa kali melambaikan tangannya. Segera saja Vela menghampiri orang itu, kemudian langsung mengambil alih kursi yang masih kosong.

“Tumben sekali.” Ujar Vela tiba-tiba. Yang diajak bicara hanya menatap Vela sesaat kemudian kembali fokus menghabiskan sarapannya. “Penampilanmu tidak seperti biasanya. Dan setelah aku perhatikan lagi, semakin hari kau terlihat sangat keren.” Lanjut Vela sembari menyendok menu sarapan favoritnya—nasi goreng spesial dengan parutan keju cheddar di atasnya.

“Bersyukurlah kau, punya kakak yang tampan luar dan dalam.” Sahut Raskal dengan sangat percaya diri dan tanpa menoleh sama sekali. Vela menyeringai setelah mendengar pernyataan dari kakaknya itu. Kalau tahu tanggapannya begitu, lebih baik tidak usah memujinya.

“Pasti banyak wanita yang tegila-gila bahkan sampai jatuh cinta padamu, iya, kan?” tanya Vela dengan nada menggoda. Raskal mengurungkan niatnya untuk menghabiskan nasi goreng yang hanya tersisa satu suapan terakhir dan lebih tertarik pada pertanyaan Vela.

“Banyak sekali. Aku hampir tidak bisa menghitung sudah berapa cewek yang memintaku untuk menjadi kekasihnya atau sekedar menemaninya pergi makan siang,” terjadi jeda sejenak. “Dan semuanya aku tolak.” Sambung Raskal sembari menikmati suapan terakhirnya itu.

Vela mengerling. Malas. “Huh, sombong sekali.” Cibirnya.

Raskal melirik ke arah Vela dan mulai tertarik memerhatikan penampilan adiknya itu dari atas sampai bawah.

“Kulihat, akhir-akhir ini penampilanmu semakin mempesona, ya.” Raskal yang mencoba menggoda Vela, sukses membuat Vela membulatkan matanya.

“Jangan menggoda, kak.”

“Aku lebih suka gayamu yang seperti ini. Kau tau? Bando petai itu tampak cocok dengan wajahmu.” Vela tak menanggapi. “Dan name tag selempangnya, walaupun terlihat kebesaran di tubuhmu, tapi aku suka. Kau bisa-bisa jadi miss. World sungguhan.” Sambung Raskal terkekeh. Vela merasa tangannya sudah siap mencekik seseorang. Ia terus berusaha mengontrol emosinya.

“Kau memang menyukai cewek-cewek berpenampilan aneh, ya?”tanya Vela dengan nada yang naik satu oktaf.

“Aku lebih suka mengejeknya saja, sih.” jawab Raskal. Sejurus kemudian, Ia berlalu dari meja makan seraya merogoh sakunya, mencari sesuatu. Vela masih diam sambil terus melihat ke arah menu sarapannya pagi ini. Sejujurnya, saat ini dia kehilangan selera makan akibat mendengar pernyataan kakaknya itu. Raskal memang selalu punya berbagai cara untuk menggoda Vela. Jadi, jangan heran kalau Vela dan Raskal bertemu tatap akan selalu ada perdebatan sengit antara adik-kakak blasteran itu.

Hurry up, Vela!” perintah Raskal dari arah garasi. Sambil mencebikkan bibirnya, Vela berjalan malas-malasan menuju garasi. Ia berusaha mempercepat langkahnya walaupun terasa sulit karena harus memakai bakiak yang hanya sebelah saja. Setibanya Vela di garasi, Ia langsung mendaratkan sebuah tepukan di pundak abangnya itu.

Let’s go!” perintah Vela yang disambut tawa renyah Raskal.

“Lumayan, bisa tau rasanya jadi supir pribadi calon miss. World tahun 2020.” Raskal terkekeh dan tanpa merasa bersalah sedikitpun, Vela melayangkan tinjunya di lengan Raskal. Setelah perseteruan singkat itu, keduanya memasuki mobil dan langsung tancap gas menempuh perjalanan satu kilometer menuju SMA Pranata, dilanjutkan dengan perjalanan menuju Universitas Belar Tirta.

*****

            “Siapa yang mengantarmu tadi?” salah seorang cewek berambut ikal yang saat ini berdiri tepat di depan Vela mulai menginterogasi. Tatapannya hampir seperti singa lapar yang melihat mangsanya tak berdaya.

“Kakak aku, kak.” Jawab Vela lirih.

“Lumayan juga tuh abangnya. Gue mau, dong, jadi pacarnya. Gue pasti terkenal seantero sekolah ini kalau pacaran sama cowok blasteran itu.” Bisik seorang cewek kepada temannya yang baru saja menginterogasi Vela.

“Hush, kita ini lagi jadi TDK. Berwibawa sedikit, dong.”

“Ya ampun, gue kan cuma ngebayangin. Jalan bareng sama cowok blasteran.”

“Iya, sih. Dan pastinya selalu jadi pusat perhatian dimanapun dan kapanpun kita jalan berdua sama cowok blasteran super keren itu.” sekarang keduanya malah saling berkhayal. Dari jarak yang tidak terlalu jauh, Kak Abu—pendamping kelas X.9—terlihat sedang berjalan mendekati Vela.

“Vela, kan? Anak X.9?” tanya Kak Abu memastikan. Vela tersenyum, kemudian mengangguk pasti. “Langsung masuk aja, Vel. Kalau nunggu mereka selesai berkhayal, bisa-bisa kamu yang telat ikut apel.” Lanjut Kak Abu. Sejurus kemudian, keduanya berlalu dari gerbang sekolah yang kini menyisakan dua orang cewek yang tengah berkahyal mempunyai kekasih seperti Raskal, kakak kandung Vela.

*****

            Setelah apel yang dilaksanakan lebih dari setengah jam, seluruh peserta MOPDB kembali ke kelasnya masing-masing. Kegiatan belajar-mengajar juga sudah mulai efektif. Beberapa guru yang terdaftar dalam kategori ‘guru paling rajin’ bahkan sudah memberikan materi. Salah satunya adalah guru matematika yang sekarang tengah mengajar di kelas X.9. Vela menyimak dengan saksama setiap materi yang diberikan Pak Eko—guru matematika—dan berusaha memahami setiap detail rumus yang diberikannya.

“Serius sekali.” Seseorang yang duduk di sebelah Vela berbisik.

“Materi matematika pertama di bangku SMA itu harus diperhatikan setiap detailnya.” Balas Vela dengan senyum tipis yang terulas di bibirnya.

“Memang ada spesialnya, Vel?”

“Menurutku, akan selalu ada perasaan senang jika bisa menguasai setiap materi pertama. Dan bisa dipastikan, pada materi selanjutnya, kita akan menguasainya juga.” Keduanya terkekeh, kemudian kembali memerhatikan Pak Eko yang masih menjelaskan tentang materi bilangan eksponen.

*****

            Terik matahari mulai terasa nyaris menusuk tulang, menandakan bahwa hari sudah siang. Ratusan, bahkan ribuan orang memadati lapangan upacara. Terlebih peserta MOPDB yang saat ini tengah melakukan memorabilia, mereka harus rela berdesak-desakan demi mendapatkan tanda tangan dari semua panitia MOPDB. Seperti biasa, Vela yang belum bisa membaur dengan teman-temannya hanya bisa menunggu sampai sahabat semata wayangnya itu datang.

Sebuah tepukan tiba-tiba mendarat di pundak Vela, dan berhasil membuat Vela sadar dari lamunannya. “Vel, ….” Vela sedikit terperanjat saat mendapati siapa yang saat ini ada di sampingnya. Seorang laki-laki dengan kemeja putih, celana panjang abu-abu, dan jas hitam yang menandakan bahwa dia adalah anggota OSIS.

“Kenapa diam di sini?” tanya laki-laki itu. Kali ini Ia berjongkok, menyetarakan tinggi badannya dengan Vela yang sedang duduk lesehan di bawah pohon Sawo Kecik.

“Nunggu teman, kak.”

“Kau ingat, kan, apa yang dibilang Kak Afrizal—ketua OSIS—tadi?” Vela mengangguk pelan. “Apa kau mau, menginap semalaman di sini?” lanjut laki-laki itu.

“Itu hanya geretakan saja, Vel. Jangan mau percaya!” sahut seseorang dari arah belakang. Vela sangat mengenali suara itu, suara sahabatnya sendiri.

“Nabila ….”

“Maaf, ya, menunggu lama.” Nabila menyunggingkan senyuman seraya beberapa kali menepuk pundak Vela.

“Maksudnya kalimat yang tadi apa, ya?” tanya laki-laki itu dengan nada yang mirip seperti sedang mengintimidasi.

“Memang belum jelas, kak?” Nabila tidak mau kalah. Pertanyaannya juga terdengar seperti sedang mengintimidasi. Laki-laki itu menyilangkan kedua tangannya di depan perut.

“Kalian ini, dua bule yang keras kepala…terserahlah kalau kalian enggak percaya.” Laki-laki itu menyudahi pembicaraan, kemudian berlalu begitu saja. Namun, ada satu hal yang janggal dalam pikiran Vela, dari mana laki-laki itu tau nama Vela?

“Udah ketemu sama senior ganteng belum?” tanya Nabila menggoda Vela, kemudian sedikit menyenggolkan bahunya dengan bahu sahabatnya itu yang membuat Vela hampir tersungkur.

Vela berdecak kesal. “Apaan, sih, Bil. Sudah, ayo buruan, deh. Aku belum dapat tanda tangan sama sekali. Nanti keburu waktunya habis.” Vela kembali memperingati.

“Keburu waktunya habis? Kayak orang mau sakaratul maut aja, Vel.” Nabila terkekeh.

“Sudahlah, jangan bercanda, dong. Lagi pula, emang kamu sudah dapat tanda tangan panitianya?”

“Belum sama sekali, kok.” Jawab Nabila ringan tanpa memikirkan risiko yang mungkin saja Ia terima nanti, jika tidak bisa mengumpulkan tanda tangan dari para panitia MOPDB.

*****

“Enggak mau, ah.” Tolak salah satu anggota TDK seusai dimintai tanda tangan oleh kerumunan peserta MOPDB. Vela dan Nabila yang melihatnya dari kejauhan hanya menggeleng-gelengkan kepala. Heran. Pemandangan seperti ini belum pernah mereka temukan saat masih bersekolah di Tottenham International School, Inggris.

“Apa, sih, sebenarnya tujuan mereka memaksa kita supaya dapat semua tanda tangan panitia?” tanya Nabila sarkastis dan langsung disambut senyuman khas dari Vela.

“Mungkin, tujuan mereka itu supaya kita bisa lebih bersosialisasi pada senior.”

Nabila berdecak. Kesal. “Kalau mau sosialisasi sama senior, kita bisa, kan, minta kenalan di sosial media atau langsung ketemu orangnya. Heran, deh. Hobi banget bikin orang susah, ya.” Nabila terus menggerutu dengan aksen british-nya yang masih terdengar jelas.

Well, enggak ada gunanya juga tau, kalau kita Cuma maah-marah disini.” Vela menatap halaman terakhir pada proposal bertuliskan ‘PASTA’ yang masih kosong tanpa ada satu pun tanda tangan dari panitia MOPDB. Halaman terakhir itu memang sengaja dibuat untuk acara memorabilia saat hari terakhir MOPDB, dan acara itu juga yang dibenci Nabila.

“Kita gabung aja, yuk, sama yang lain.” Lanjut Vela yang tak diindahkan Nabila sama sekali. “Come on….” Vela meraih tangan Nabila dengan hati-hati dan langsung menuju ke arah kerumunan peserta MOPDB lainnya yang tengah meminta tanda tangan seorang wanita berpostur proporsional yang notabenenya adalah anggota MPK, Majelis Perwakilan Kelas. Satu tanda tangan yang baru saja Vela dapatkan, berhasil membuat seulas senyuman tipis di bibir mungil milik Vela.

“Akhirnya, dapat tanda tangan panitia juga.” Seru Vela semringah.

“Baru satu kali, Vel. Panitianya, kan, banyak.” Sahut Nabila datar.

“Untungnya dapat satu. Dari pada enggak sama sekali.” Walaupun baru satu tanda tangan yang didapat Vela, namun Ia bersyukur, karena tidak mudah baginya memohon dan meyakinkan panitia untuk memberikan tanda tangannya. Terlebih, Vela harus membantu sahabatnya yang belum terlalu lancar saat mengucapkan beberapa kata dalam bahasa Indonesia.

“Aku enggak tau, kenapa panitia-panitia itu pelit banget. Apa, sih, kerjaan mereka? Tinggal tanda tangan di kertas ini aja susah banget.” Nabila tetap menggerutu.

“Kalo enggak gitu, enggak seru, dong.”

“Iya, deh, cah ayu.” Setelah mendengar Nabila berbicara dengan logat jawa, Vela langsung diserang oleh perasaan geli luar biasa. Nabila yang sebenarnya adalah keturunan Manado-Inggris, sama sekali tidak cocok menirukan logat Jawa. Vela masih tertawa geli hingga tanpa sadar, tangannya meninju seseorang yang tak sengaja lewat di sampingnya. Ternyata, anak dari gugus lain.

Okay, ini waktunya kita pisah, deh. Kalo kelamaan sama kamu, bisa-bisa tanda tangan panitia enggak akan bertambah.”

“huh? Terus gimana nasibku? Apa kau tega melihatku memohon dan meminta-minta tanda tangan panitia aneh itu?”

“Iya, aku tega.” Vela menghapus sisa-sisa air matanya—akibat tertawa tadi—dengan punggung tangannya. Ia juga berusaha menahan tawanya agar tidak kembali pecah, karena melihat ekspresi Nabila saat ini yang hampir menyerupai Masha. Karakter Masha dalam serial kartunnya—Masha And The Bear—memang sangat lucu, apa lagi saat menangis. “Karena aku juga akan melakukan hal yang serupa denganmu. Memohon dan meminta-minta layaknya pengemis.” Lanjutnya. “Then you can find the new experience of that.” Vela tersenyum simpul, kemudian langsung melangkah jauh meninggalkan sahabatnya sendirian.

*****

            Matahari yang semakin meninggi hingga menimbulkan rasa panas yang luar biasa, berhasil membuat para panitia MOPDB tidak tega dan langsung memerintahkan semua peserta MOPDB kembali memasuki kelasnya masing-masing. Vela melangkah gontai menuju kelasnya. Pandangannya gelap karena terlalu lama berada di bawah sinar matahari. Berkali-kali juga ia menghapus peluhnya yang perlahan mengalir di pelipisnya. Tak lupa juga menyelipkan anak rambutnya yang basah dan agak berantakan.

“Capek banget, ya.” Frilya menghampiri Vela yang sedang duduk sembari mengipas-ngipas dengan buku tulis matematika, untuk mengurangi peluhnya yang sampai saat ini masih saja mengaliri pelipisnya. Napasnya juga masih tersengal-sengal, sama seperti Frilya.

“Iya, tapi menyenangkan.”

“Kau sudah dapat berapa tanda tangan?” tanya Frilya penasaran. “Punyaku tidak terlalu banyak. Hanya delapan panitia saja.” Lanjutnya.

Vela kembali membuka lembar terakhir pada proposalnya. Ia tersenyum kecut. “Hanya enam.” Vela terdiam sejenak. “Beruntungnya kau dapat delapan tanda tangan panitia. Ya, mungkin hari ini aku akan menginap di sini.” Jelas Vela.

Frilya kontan tertawa setelah mendengar pernyataan teman barunya itu. “Mereka enggak akan melakukan hal itu.”

“Tapi, tadi Kak Afrizal yang bilang….”

“Kalau memang mereka akan melakukan hal itu, apa mereka mau dapat skors atau bahkan drop out dari sekolah ini. itu sama saja kekerasan, tau.” Frilya memotong kalimat Vela yang belum selesai.

“Eh, ayo, duduk-duduk… Kak Abu dan Kak Lidya lagi otw. Mereka bawa pasukan, lho.” Seru anak laki-laki dengan name tag yang nyaris copot. Semua peserta MOPDB yang berada di ruangan itu langsung mencari posisi masing-masing dan duduk dengan rapi. Segera Kak Abu dan Kak Lidya memasuki kelas beserta rombongan orang yang membuntutinya dari belakang. Ada lebih dari empat orang, dan salah satunya adalah laki-laki berkacamata dengan wajah mirip orang Pakistan. Lumayan juga, Vela membatin.

“Nah, adik-adik…Di luar, kan, panas banget. Jadi, kakak-kakak di sini mau kasih tanda tangan langsung, ya.” Kak Lidya mengumumkan. Semua peserta MOPDB bersorak, kecuali Vela. Gadis itu hanya memerhatikan satu per satu dari mereka yang mulai menandatangani lembar memorabilia. Ada guratan senyum di bibir Vela, setelah ia mendapatkan tanda tangan dari senior laki-laki berwajah mirip orang Pakistan itu.

*****

            “Parah, gue enggak ketemu senior kece.” Celetuk Nabila sambil merogoh saku kemejanya, mencari sesuatu yang biasa Ia cari setelah jam pelajaran berakhir.

“Wow, baru beberapa bulan di Indonesia, sekarang ngomongnya gue-elu, nih?” Vela menggoda, kemudian Ia diam. “Eh, Bil, kamu harus tau. Tadi, ada senior kece parah. Mirip orang pakistan.”

“Oh, kak Ervan, ya?”

“Huh? Kok kamu tau, sih?” Tanya Vela. Bingung.

“Kalo hal kayak gitu aja aku enggak tau… jangan panggil aku Nabila.”

“Yang aku ingat… namanya adalah Ervan Nalu Charmeleon. Nama yang aneh.” Tutur Vela ringan. Kaki kanannya mengangkat, tanda ia siap menempati bagian kosong di jok kuda besi milik Nabila yang biasa ia tumpangi sepulang sekolah.

“Udah punya pacar belum, ya?” Tanya Vela dengan volume suara seminimal mungkin. Sialnya, gadis yang berada tepat di depannya dan siap mengendarai motornya itu, mendengar gumaman Vela.

Nabila terkekeh. “Besok tanya, dong….”

“Kamu gila kali, Bil.”

I’m normal. Itu wajar, kan?”

“Enggaklah.”

Nabila berdeham, “Kamu suka sama Kak Ervan?”

Deg!

Pertanyaan yang sukses membuat sepasang mata Vela terbelalak dan bahunya bergidik. Untung saja, Vela tidak langsung loncat dari tunggangan beroda dua yang saat ini melaju dengan kecepatan stabil.

“Mana mungkin, Bil. Aku baru aja lihat dia tadi…waktu dia menandatangani lembaran memorabilia. Yakali langsung suka.” Sangkal Vela.

“Kalo suka, sih, bilang aja, Vel. Wajar, kok. Dia ganteng, famous, anak OSIS lagi… yakin, deh, yang nunggu hati Kak Ervan itu udah antre.” Vela menarik napas dalam-dalam, kemudian segera membuangnya perlahan.

“Udah, deh. Jangan bahas hal itu lagi… enggak penting.” Terjadi jeda sejenak di antara keduanya. “Placement test dan psychology test akan dilaksanakan besok. Kita harus fokus.” Lanjutnya.

“Semoga aku dapat kelas ilmu-ilmu sosial, ya.” Timpa Nabila penuh harap.

“Dan semoga aku dapat kelas matematika ilmu alam.”

“Kalau gitu, kita enggak bisa barengan lagi, dong?” Vela kembali menyunggingkan senyumannya.

“Kita masih bisa ketemu kalau jam istirahat, kok.”

“Ya, apa pun hasilnya, aku berharap yang terbaiklah.” Nabila menyudahi percakapan dan menghentikan laju motornya tepat di depan rumah Vela. Setelah berterima kasih, Vela melangkah masuk ke dalam rumah dengan senyum terkembang di wajahnya. Saat ini, yang membuat dirinya merasa bahagia—paling tidak untuk beberapa jam ke depan—adalah sosok senior yang masih membayangi pikiran Vela.

Ervan Nalu Charmeleon, tutur Vela berkali-kali dalam benaknya.

TBC~

A/n: Selam 😀 Senang banget bisa lanjutin cerita Velalicious ini ^^ Sejujurnya, ini cerita sudah selesai sekitar 2 bulan yang lalu. Niatnya mau nge-post Part 1, tapi MAGEEERRRnya luar biasa. Saya males banget nyalin cerita dari hp terus disalin lagi di ms. word-__- dan tiba-tiba saya dapat wangsit (pas lagi di dalam kamar sambil nge-galau sama playlist lagu yang galau-_-) dan langsung saya kirim cerita saya dari hp lewat e-mail. waktu itu bener-bener enggak kepikiran sama sekali hahaha 😄

BTW, gimana menurut kalian ceritanya?.__.v aneh, ya? enggak jelas, ya? mainstream, ya? klise? hahaha saya sadar akan hal itu :’) kemampuan menulis turun drastis. Sedihnya…. 

Well, seperti biasa. Yang merasa sudah membaca cerita ini, tolong berikan komentar untuk perkembangan cerita ini #plaakk *dilempartoplesrengginang* komentar kalian juga banyak yang jadi mood booster bangat 🙂 hehehe… kasih komentar bisa lewat mana aja dan sah-sah aja, kok 😀 Ya udah segitu aja…

Author sekarang lagi liburan… hahaha (Sukses yang kelas 12 buat EN-nya ^_^) dan masih lanjutin FF Oneshoot sama FF kolaborasinya…

Eh iya, maaf ya, cerita Velalicious ini bahasanya enggak terlalu baku alias campur-campur… kebayang dong kalo ada orang pindahan dari luar negeri terus sekolah di Indonesia? 😄 Ya udah, aahhh…

Bhaayy!! *peluksesek*

Advertisements

2 thoughts on “Velalicious- Part 1 (Memorabilia)

  1. Aku belum dapet feel baca cerita ini. Dn menurutku, ada beberapa bagian yg membuatku bosan membaca. Ups, sorry, mulutku nyablak bgt ini. Bagian yg minta tanda tangan diluar panas2an, dn ada bagian yg lain jg. Tpi tetep kok, suka sama diksi yg kamu pakai. Semangat ya 😉 tetep ditunggu kelanjutannya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s