Mini FF: Move On

Merhaba!

Setelah sekian lama enggak posting FF, kali ini Zhara bawa FF baru. Masih FF abal-abal-__- dan FF ini bukan benar-benar FF(?) ya, gitulah pokoknya. Ini tuh cuma curhatan saya masalah 3 hari yang lalu. Karena takut purik, saya pun mengubahnya menjadi bentuk FanFic. Walaupun sama-sama menjijikkan, sih, sebenarnya hahaha. pokoknya Based on true story lah yak….

Maafkan Zhara kalau memang ceritanya gak jelas. Ya, namanya juga CURCOL.

~HAPPY READING~

Ada pertanyaan yang terkadang kuulangi, jika aku kembali mengingat orang itu. “Apa dia akan memikirkanku? Layaknya aku memikirkan dia?” Pertanyaan yang terdengar sangat konyol, bukan? Namun, aku selalu meyakini di dalam hati bahwa jawabannya adalah “Tidak. Dia tidak akan memikirkanmu. Dia bahkan tidak kenal siapa dirimu. Begitu juga kau. Jadi, buat apa kau membuang-buang waktu untuk memikirkannya. Stop thinking about him. He doesn’t know who you are.”

Ya, aku tahu. Jadi mulai sekarang aku akan melupakannya. Toh, dia sudah tidak lagi berada di sekolahku. Ini mempermudahku untuk melupakannya. Yeah. At least, i’m forgetting all about him nowadays.

*****

Kudengar hari ini beberapa alumni dari sekolahku akan berkunjung. Entahlah. Mungkin mereka punya urusan yang harus diselesaikan. Seperti, mengambil berkas-berkas untuk pendaftaran mahasiswa baru atau sekedar bertemu kangen dengan kawan-kawan lamanya. Kupikir, pria yang belakangan ini kujadikan idola di sekolah, akan datang berkunjung. Mengingat dia juga salah satu alumni sekolahku. Tapi, kurasa tidak. Manusia seperti itu mana mau menghabiskan waktunya hanya untuk bertemu kangen, saling berbagi cerita, kemudian pulang.

Alih-alih ingin ke Mas Mul—koperasi sekolah—salah satu temanku berteriak sambil menarik lenganku.

“Ada idolamu, lho.” Nadanya terdengar sangat antusias. Aku berusaha menemukan apa yang dimaksud temanku ini. Aku mengamati ratusan orang yang sedang berada di lapangan upacara—saat itu, sedang diadakan acara MOS. Tidak ada yang menarik, sampai mataku mendapati pria itu tengah berjalan bersama teman-temannya. Pria dengan sweater hitam bermotif tribal. Pria berkulit kuning langsat dan berambut agak ikal. Pria yang namanya seperti nama batu permata hijau. Dia tengah berjalan melintasi koridor bersama kedua temannya.

Dia datang, aku membatin.

“Kau ingin menghampirinya?” Tawar salah satu temanku dengan nada bercanda.

“Bicara apa kau ini? Tidak. Untuk apa aku menghampirinya? Untuk menyampaikan perasaanku selama ini, bahwa aku sangat mengagumi dirinya, begitu?” Temanku tertawa setelah mendengar kalimat bodoh itu terlontar dari mulutku.

Aku kembali ke kelas dan mengemasi barang-barangku. Sudah tidak ada guru lagi yang mengajar dan berkali-kali juga temanku mengajak untuk segera pulang. Walaupun kenyataannya aku sangat ingin bertemu dengan pria itu. Ya, sudah lama sekali aku tidak melihatnya. Tidak. Tidak. Aku tidak akan melihatnya lagi. Usahaku untuk move-on akan sia-sia jika hari ini aku melihat dirinya. Kuyakin, setelah melihatnya nanti, aku akan kembali memikirkannya dan menanyakan hal yang sama pada diriku sendiri.

“Ayo, pulang.” Ajak Merve. Aku hanya mengangguk. Dibenak dan pikiranku berpendar, bagaimana caranya agar aku bisa melihat pria itu tanpa ketahuan temanku? Karena jika Merve tahu, aku bisa seharian mendengar perkataannya bahwa “Kau gagal move-on, Aphrodite.”

“Hmm….” Aku ingin sekali mengatakannya. Tapi, rasanya seperti ada yang menyumbat tenggorokanku, hingga aku tidak dapat bicara apa-apa.

“Ada apa?” Tanya Merve.

“Aku lapar. Bisa kita ke kantin sebentar?” Aku meminta izin. Berharap dia tidak dapat membaca niatku untuk melihat pria itu.

“Kau lapar atau kangen?”

Sial!

“Aku serius. Aku lapar. Ayolah, sebentar saja.” Aku merayu agar dapat pergi ke kantin dan melihatnya.

“Baiklah. Ingat, sebentar saja. Sehabis ini aku akan menghadiri reuni di sekolah lamaku.” Aku yang terlalu senang hampir membahayakan diriku sendiri. Aku hampir tersandung.

“Kau baik sekali.” Aku terkekeh. Sepertinya tingkat kekagumanku pada pria itu sudah terlalu maniac.

“Ya, aku kasihan padamu. Aku tidak mungkin ikut menyiksamu.”

“Maksudmu?” Aku penasaran dengan kelanjutan kalimatnya. Sungguh.

“Kau sudah cukup tersiksa dengan perasaan kangenmu. Secara tidak sadar dia telah menyiksamu. Jadi, mana mungkin aku ikut menyiksamu dengan tidak mengizinkan kau pergi ke kantin.” Jelas Merve.

Aku mengerling. “Dia tidak harus tahu bahwa dirinya—secara tidak sadar—sudah menyiksa seseorang. I’m nothing for him.” Jawabku menyudahi percakapan yang bisa membuatku semakin kesal.

Kami berjalan ke arah kantin. Aku berharap saat melihatnya nanti, tidak akan salah tingkah.

Aku berhenti tepat di depan kedai batagor. Sebenarnya, niat awalku memang bukan untuk membeli batagor. Tapi, untuknya. Ya, untuknya aku datang kemari.

Aku berusaha mencarinya, namun tidak berhasil. Sampai Merve menunjuk ke suatu tempat.

“Di sana. Lihat itu.” Seru Merve sambil terus menunjuk. Aku mengikuti arah jarinya dan mendapati pria itu. Dia sedang duduk membelakangi. Bersama dua orang temannya dan… seorang wanita. Ya, aku tahu siapa wanita itu. Aku tahu namanya. Efrosina. Dia adalah wanita yang bisa dibilang dekat dengan semua pria yang ada di sekolah ini. Ya, mungkin karena Efrosina cantik atau semacamnya. Kedekatan mereka terlihat sangat hangat. Yang aku tahu, Efrosina adalah alumni dari sekolah yang sama dengan pria itu.

Aku mengembuskan napas. Menyesali semua perbuatanku. Benar ‘kan. Untuk apa aku datang kemari jika hanya untuk menyakiti perasaanku sendiri? Bodoh sekali kau, Aphrodite.

“Nona….” Panggil pelayan kedai itu. Aku baru menyadari bahwa pesananku sudah selesai. Dia mempersilahkanku untuk segera mengambil sebungkus batagor pesananku. Aku membayarnya dan segera pergi meninggalkan kantin. Sebelum aku benar-benar meninggalkan kantin, aku melihat pria itu sekali lagi. Aku tak bisa melihat wajahnya, namun aku dapat melihat punggungnya yang tegak. Aku tersenyum kecut. Kemudian, pertanyaan itu kembali terlontar.

“Apa dia akan memikirkanku? Layaknya aku memikirkan dia?”

Dan hatiku menjawabnya dengan pasti. “Tidak. Dia tidak akan memikirkanmu. Dia bahkan tidak kenal siapa dirimu. Begitu juga kau. Jadi, buat apa kau membuang-buang waktu untuk memikirkannya. Stop thinking about him. He doesn’t know who you are.”

Ya, aku pergi….

-THE END-

Bonus:

1011378_500654156681519_1500439151_n

(ceritanya ini si cowok yang lagi di kantin (?) mihihi)

Velaaa

(Aphrodite)

Alexa_nikolas_1278640122

(Merve)

10419397_1487649228131974_7211324592040586044_n

(Efrosina)

Advertisements

2 thoughts on “Mini FF: Move On

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s