THE LAST PETAL-Chapter 1

Cover 2

THE LAST PETAL-Prolog

Seorang pria bertelanjang dada terbangun di atas ranjang dengan seprai yang agak kusut. Ia menguap seraya merentangkan kedua tangannya. Pesta yang diselenggarakan di rumah Emma semalam sangat meriah, namun juga membuat dirinya kelelahan. Terakhir yang Ia ingat, seusai pesta, seorang wanita menuntunnya masuk ke dalam mobil. Samar-samar Ia melihat wanita itu tersenyum sembari terus memacu mobilnya menuju salah satu Apartment terbesar di kota Madrid. Setibanya di sana, wanita itu langsung berpamitan untuk segera pulang ke rumahnya. Alih-alih ingin melangkah keluar, pria yang diantarnya tadi menahan tubuh wanita itu. Meminta agar menemani dirinya untuk semalam saja bersama wanita itu. Akhirnya, malam itu menjadi malam kedua bagi Emma dan İsmet.

İsmet berjalan ke arah jendela. Menyibakkan gorden berwarna krem, hingga sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah-celah jendela. Pemandangan kota Madrid tampak sangat jelas bila dilihat dari ketinggian lebih kurang 208 kaki. Beberapa kendaraan mulai memadati jalan utama. Aktivitas berjalan normal, sementara İsmet masih berada di dalam kamar tidur bersama Emma yang masih tertidur pulas di atas ranjang.

“Selamat pagi!” Sapa Emma yang baru saja terbangun dari alam mimpinya. Kemudian, Ia berjalan menghampiri İsmet. Rambutnya yang hitam dan panjang tampak tak beraturan. Juga pakaian tidur berwarna merah marun dengan bahan satin yang memperlihatkan lekuk tubuhnya, membuat İsmet tertarik pada wanita yang saat ini tengah berdiri di hadapannya.

“Selamat pagi!” Sahut İsmet, tersenyum. Jemarinya dengan lembut menyentuh pipi Emma.

“Apa kau sudah lebih baik?” Tanya Emma pada pria yang saat ini sedang memeluknya dari belakang. Kedua lengan kekar İsmet dengan bebas melingkari pinggang ramping Emma.

“Tentu saja. Terlebih saat melihatmu baru bangun tidur seperti ini,” Bisik İsmet, tepat di telinga Emma. Membuat Emma dapat merasakan hangat napas dan aroma tubuh İsmet.

“Semalam kau benar-benar kacau. Kau mabuk berat.”

“Dan kau khawatir?” İsmet mengalihkan pandangannya ke arah jendela.

“Menurutmu? Kau tidak bisa terus-terusan seperti ini. Kesehatanmu bisa terganggu.” Emma berusaha menatap İsmet, tetapi pria itu tetap melihat ke arah lain.

“Kau yang membuatku seperti ini, ‘kan? Kalau bukan karena pestamu….”

“Sudah cukup! Bukan karena pestaku. Kau lah yang terlalu banyak mengonsumsi minuman beralkohol,” Potong Emma, mendadak. Entah apa yang ada di pikiran Emma saat ini, hingga kalimat tersebut keluar begitu saja dari mulutnya.

“Dan sekarang kau mulai berlagak seperti Dad-ku? Berusaha melarangku? Mengatur hidupku? Begitu kah?” Bentak İsmet, dengan suara yang mungkin mampu mengiris beton.

Ia kesal. Sangat kesal. Tidak ada satu orang pun yang berhak melarang apa yang dikehendakinya. Tidak ada satu orang pun yang berhak membuat norma guna mengatur jalan hidupnya. Saat ini, wanita yang bahkan sudah Ia anggap seperti kekasihnya sendiri pun mulai berani melarang-larang apa yang akan Ia lakukan? İsmet menatap Emma tepat di manik matanya. Rahangnya yang tegas serta urat-urat halus di lehernya tampak jelas. Juga napasnya yang memburu, terasa menusuk kulit wajah Emma. Mengingat antara wajah Emma dan wajah İsmet yang hanya berjarak beberapa sentimeter saja.

“Aku tidak bermaksud seperti itu, İsmet. Percayalah. Yang aku tahu… jika kau jatuh sakit nanti, siapa yang akan menemaniku?”

İsmet tak bersuara. Ia hanya memandang wanita di hadapannya itu lekat-lekat. Semakin dekat hingga hidung mancung İsmet kini bersentuhan dengan hidung Emma.

Drrttt… drrttt… drrttt….

Sial!
Bunyi dari getaran ponsel membuat İsmet tersadar dan mengurungkan niatnya untuk merasakan kelembutan bibir Emma yang selalu tampak merah alami. İsmet menilik layar ponselnya dan mendapati bahwa sang ayah lah yang hendak berbicara dengannya. İsmet dengan terpaksa menjawab panggilan telepon itu. Entah apa yang dibicarakan sang Ayah di seberang sana, tapi saat ini, yang bisa İsmet lakukan hanya menunduk lesu. Antara menyerah dan menunggu giliran agar Ia bisa angkat bicara. Walaupun terdengar mustahil, karena sang Ayah terus saja berbicara tanpa henti. İsmet jenuh. Setelah dirasa sang Ayah sudah tak bersuara lagi, İsmet memilih untuk memutus sambungan telepon. Hanya 5 menit. Ya, pembicaraan 5 menit yang mampu membuat telinga İsmet panas, nyaris seperti terpapar sinar ultraviolet tanpa filtrasi terlebih dahulu.

Dad-mu?” Tanya Emma, singkat. İsmet hanya mengangguk. Ia beralih dari tempatnya semula, kemudian duduk di pinggiran ranjang.

“Bersiaplah. Aku akan mengantarmu pulang,” Ujar İsmet, sebelum Ia meraih satu per satu pakaiannya yang berserakan di atas ranjang.

“Baiklah. Aku akan mengganti pakaian, kemudian kau bisa mengantarku pulang sebelum Dad-mu tiba,” Kata Emma, sibuk mencari pakaiannya yang entah berada dimana. Ia tidak bisa menemukan mini dress berwarna silver yang semalam Ia kenakan saat pesta. Emma terus mencari, bahkan sampai membuka lemari pakaian milik İsmet. Saat Ia membalikkan badan, Ia terkejut karena mendapati uluran tangan İsmet yang tengah memegang mini dress miliknya. Emma tersenyum, kemudian meraihnya. Setelah dirasa sudah tidak ada yang kurang,  Emma bergegas menuju kamar mandi. Namun langkahnya terhenti, karena İsmet lagi-lagi mencegahnya. Pria itu menggenggam pergelangan tangan Emma cukup kuat. Menarik Emma ke dalam pelukannya dan menuntun Emma menuju kamar mandi. Tangan kanan İsmet terus melingkari bahu Emma, sementara tangan kirinya berusaha mengunci pintu kamar mandi. Setelahnya, tidak ada yang tahu apa yang mereka lakukan di dalam sana. Karena, pintu kamar mandi tersebut langsung tertutup rapat.

*****

“Oregano… Ya, kau butuh oregano,” Ucap gadis berambut pirang yang saat ini sedang sibuk memberikan instruksi kepada salah satu temannya.

“Nasia!” Seru seseorang di lain tempat. Yang dipanggil hanya bisa melongokkan kepala dan berusaha mencari darimana suara tersebut berasal. Tubuhnya yang tidak terlalu tinggi membuat Nasia harus sedikit berjinjit. Belum lagi, kitchen stadium yang dipenuhi para chef lainnya.

“Nasia! Disini!” Orang yang memanggil Nasia tadi melambaikan tangan beberapa kali. Nasia lantas tersenyum, kemudian bergegas menuju orang itu.

“Ada apa, Dani?” Tanya Nasia sesampainya disana.

“Lihat! Eksperimenku kali ini. Menurutmu apa yang kurang?” Dani mempersilahkan Nasia untuk mencicipi dan melihat-lihat setiap sisi cheese cake yang dibuatnya. Baginya, komentar dan saran dari seorang Anastasia Tsilimpiou sangatlah berarti. Nasia acap kali membantu Dani dalam menciptakan hal-hal baru, terlebih jika itu berhubungan dengan dunia memasak.
Sejak berusia 11 tahun, Nasia senang sekali membantu Ibunya berkutat di dapur. Aroma bumbu dapur dan rempah-rempah yang semula terasa asing baginya, perlahan mulai beradaptasi dengan indera penciumannya. Mereka bak sedang menjelma menjadi minyak aromaterapi. Juga gula-gula dan manisan lainnya, yang membuat Nasia tidak bisa menahan hasrat untuk tidak mencicipinya barang sedikit saja. Sang Ibu juga sempat menerbitkan buku resepnya sendiri. Buku resep yang menjabarkan tentang bagaimana membuat makanan sederhana dan biasa agar menjadi luar biasa. Bahan-bahan apa saja yang diperlukan, juga bagaimana proses pembuatannya. Sampai saat ini, buku resep itu masih tersimpan rapi di rak buku milik Nasia. Berkat buku resep karya ibunya itu, Nasia kini bisa memasak beberapa makanan hanya dengan bahan seadanya. Bakat serta ilmu memasak yang sempat diturunkan Ibunya, membuat Nasia selalu bersyukur kepada Tuhan. Tanpa sang ibu, Nasia tidak akan mungkin menjadi Nasia yang sekarang. Menjadi wakil kepala chef di salah satu restaurant yang saat ini namanya sedang terangkat, menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi Nasia.

“Wow! Perpaduan yang sempurna antara keju, susu, bunga Lavender dan Cinnamon. Rasanya unik. Aku yakin, kali ini kau akan diberi promosi jabatan.” Dani tersenyum, sumringah. Mendengar pujian dari Nasia terkait eksperimen cheese cake buatannya, membuat Dani ingin sekali memeluk lantas mencium pipi milik gadis yang saat ini tengah berdiri di sampingnya. Tapi, Ia kembali mengingatkan dirinya sendiri bahwa Nasia sudah memiliki kekasih. Seorang pria yang lebih mapan ketimbang dirinya, tentunya.

“Dani, aku harus kembali. Masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan. Oh, iya. Jika kau ingin menambahkan garnish, pastikan jangan terlalu berlebihan, karena rasa dari cheese cake-mu sudah sangat baik,” Saran Nasia, sebelum Dani kembali melontarkan satu pertanyaan lagi.

“Kira-kira apa yang harus kutambahkan sebagai garnish? Kau tahu, ‘kan… aku tidak ingin karyaku kali ini gagal hanya karena salah menambahkan garnish.”

Nasia berpikir sejenak. Sesuatu dengan rasa agak asam yang mungkin dapat menyeimbangkan cita rasa manis dari cheese cake itu sendiri. “Strawberry, kiwi atau mugkin saja jeruk. Pilihlah salah satu. Tapi ingat, jangan kau pilih ketiganya.” Dani mengangguk. Tanda Ia mengerti dan siap menjalankan saran yang diberikan Nasia.

Tanpa Ia sadari, sebuah senyuman terus tersungging di bibirnya. Melihat punggung Nasia yang perlahan-lahan mulai menghilang di antara kerumunan Chef  lainnya yang masih memenuhi kitchen stadium.

Nasia tiba di station-nya. Saat ingin menyiapkan bahan-bahan untuk memulai menu baru, tiba-tiba ponselnya berdering. Seketika Ia menjadi tidak fokus dan terpaksa menerima panggilan teleponnya itu.

“Bisakah kau menghubungiku lain kali? Demi Tuhan! Aku sedang sibuk saat ini.” Bukan sapaan yang diterima si penelepon, melainkan Nasia yang tengah bersungut-sungut. Ia tidak peduli lagi siapa orang yang sudah berani membuyarkan konsentrasinya saat ini. Nasia tidak acuh, sekalipun seorang pejabat negara yang berusaha menghubunginya.

“Oops, maaf, ya. Aku akan menghubungimu lagi saat kau selesai dengan urusanmu, Bae. Sesaat setelah mendengar suara yang sangat dikenalinya, Nasia buru-buru memanggil nama orang tersebut.

“Marc! Marc! Kau kah itu? Maaf aku tidak sempat melihat namamu tadi. Ada apa, Bae?” Nasia segera meminta maaf atas ketidaksopanannya pada Marc, kekasihnya.

“Aku hanya bercanda. Kau ini serius sekali.” Tawa Marc pecah juga, setelah berhasil mengerjai kekasihnya itu.

“Marc, tapi kau bercanda di waktu yang tidak tepat.” Nasia mengembuskan napas berat.

Kau sedang memasak apa? Aku tidak tahu, tapi aroma masakanmu tercium sampai ke ruang kerjaku, kau tahu?

“Jangan bohong, Marc. Aku belum mulai memasak. Aku bahkan belum memutuskan apa yang harus kubuat sekarang,” Jawab Nasia datar. Untuk kali pertamanya, Ia kebingungan. Saking hampir semua jenis hidangan sudah pernah Ia coba.

“Bagaimana kalau… Pizza?” Usul Marc sekenanya. Berharap Ia dapat memberikan ide baru untuk gadisnya itu.

“Huh! Terlalu biasa. Kau tidak akan pernah bisa menghitung sudah berapa banyak chef yang membuat pizza,” Gumam Nasia yang langsung disambut kekehan Marc.

Kau bisa memberi sedikit sentuhan berbeda. Misalkan saja di bagian topping. Marc yakin untuk kali ini idenya dapat membantu Nasia.

Setelah menimbang-nimbang apa yang baru saja dikatakan Marc, gadis berusia 20 tahun itu akhirnya mendapat ide cemerlang.

Sweet Pizza with Carnation Sauce. Topping-nya chocolate cereals, raspberry dan marsmallow. Sebagai pendampingnya, aku akan membuat teh hitam dan Pink Macaroon,” Ujar Nasia tanpa sadar. Ia kemudian mengapit ponselnya di antara pundak dan telinganya. Sedangkan tangannya sibuk menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan.

Excellent! Kau ini memang sangat berpotensi, ya. I’m so proud of you, Bae. Nasia bisa mendengar nada bahagia dari seorang Marc Marquez. Ia ikut tersenyum.

“Wah! Tuan arsitek, sebetulnya kau yang telah memberi ide sebagus ini. Bagaimana caraku berterima kasih padamu, ya?” Nasia tidak pernah menyangka kalau Marc yang notabenenya adalah seorang arsitek juga bisa membantunya dalam menemukan ide untuk membuat hidangan baru.

“Caramu berterima kasih padaku?” Terjadi jeda sejenak. “Buatkan aku satu porsi Sweet Pizza, ya,” Seru Marc bersemangat. Nasia tertawa, setelah mendengar kekasihnya meminta pesanan dengan sangat menggebu-gebu.

“Baiklah. Jemput aku pukul 4 sore dan kau akan mendapat pesananmu. Okay?

Okay. Happy cooking!

Nasia memutus sambungan teleponnya. Dengan cekatan, Ia membuat adonan pizza. Mencampur terigu, garam, gula dan bahan lainnya. Mengolah topping sedemikian, hingga rasanya pas. Pada jam berikutnya, Sweet Pizza with Carnation Sauce siap disajikan.

*****

Sekembalinya dari mengantar Emma pulang, İsmet dikejutkan oleh sang ayah yang tengah duduk bersantai di sofa berwarna abu-abu di dalam kamar apartment miliknya. Secepat itukah? Kurang dari satu jam, İsmet mengantar Emma pulang ke rumahnya, lalu pria paruh baya ini tiba-tiba saja sudah berada di dalam sini? Bagaimana bisa? İsmet bahkan tidak mengingat kalau sang ayah juga memiliki kartu tanda kepemilikan kamar yang sengaja diduplikasikannya. Beberapa hari yang lalu İsmet sempat kehilangan dompetnya. Ia sudah mencari ke segala tempat, namun hasilnya nihil. Selama itu, İsmet tidak bisa masuk ke dalam apartment-nya dan terpaksa tinggal di rumah ayahnya. Hari berikutnya, entah jenis jin apa yang berada di rumah ayahnya, tiba-tiba İsmet melihat dompetnya tergeletak begitu saja di atas meja makan. Tapi saat ini, Ia baru sadar. Ternyata itu hanya siasat sang ayah agar bisa menduplikasi kartu tanda kepemilikan kamar İsmet saja. Jadi, sang ayah kini bisa dengan bebas keluar-masuk kamar apartment milik anak laki-lakinya itu. Memang terdengar tidak mungkin. Bagaimana bisa seseorang menduplikasi kartu tanda kepemilikan kamar? Bukankah hal seperti itu bersifat pribadi? Mungkin itu yang sempat terlintas di otak İsmet. Tapi, Mr. Koç punya segala cara untuk melakukan hal yang tidak mungkin dapat dilakukan sekalipun.

“Woah! Bahkan sensor pendeteksi kartu kepemilikan kamar tidak bisa mengklasifikasi antara kartu yang asli dan yang palsu.” Mr. Koç tersenyum kecut mendengar sambutan dari putra satu-satunya.

“Begitu ya, caramu menyambut Dad?” Sahut sang ayah, setelah putranya itu duduk bersebelahan dengannya.

“Langsung saja pada inti pembicaraan, Dad,” Kata İsmet dengan nada datar. Ia sudah mengira-ngira bahwa kedatangan sang ayah kali ini tidak lain hanya untuk mengomentari hidupnya lagi. Apa yang bisa ayahnya lakukan selain mengomentari hidupnya yang sangat tidak teratur. Hidup tanpa kepastian dan tujuan. Usaha sang ayah mengajarkan İsmet tentang cara hidup baik dirasa sudah gagal total.

Sejujurnya, İsmet sendiri tidak ingin hidup seperti ini. Namun, ingatan dan luka masa lalunya yang kelam masih belum bisa sembuh betul. Melihat sang Ibu yang terus-menerus merasakan penderitaan akibat kekerasan yang dilakukan sang ayah. Jika mengingat kembali peristiwa itu, İsmet selalu merasakan nyeri di bagian ulu hatinya.

Saat Ia masih kecil, Ia kerap kali ikut menangis saat melihat sang ibu menangis sendirian di dalam kamarnya. Ia juga yang menghapus air mata dan menghibur wanita berusia 35 tahun itu. Sang ibu pernah berpesan bahwa seorang pria tidak sepantasnya menangis dan İsmet tidak boleh membenci ayahnya. Ia harus menjadi orang yang berguna bagi keluarganya kelak. Pesan yang masih dan akan selalu diingat İsmet. Senyuman lembut serta suara merdu sang ibu saat mengatakannya juga tak akan bisa terlupakan.

Sadar bahwa sang ayah akan memulai pembicaraan, İsmet seketika membuang pikiran masa lalunya itu jauh-jauh.

“Aku tahu kau masih membenciku. Sangat membenciku, ‘kan? Perlakuan kasarku terhadap Mom, hingga Ia jatuh sakit dan tidak dapat tertolong lagi…”

“Cukup! Sepertinya kedatanganmu kemari hanya untuk membuatku semakin terpuruk saja,” Potong İsmet tidak sabar. Ia tahu akan kemana arah pembicaraan ini. Ia hanya ingin mendengar topik utamanya saja. Bukan cerita kelam masa lalunya.

“Putraku… tolonglah. Sekali ini saja. Dengarkan penjelasanku. Aku menyesal melakukan semua ini. Aku… sudah berkali-kali aku meminta maaf padamu. Dan kali ini, aku akan kembali memohon pengampunanmu, nak. Tidak lazim jika hubungan kita sebagai ayah dan anak seperti ini…” Mr. Koç memberi jeda sejenak. Berusaha terlihat kuat di depan putranya, “Aku hanya ingin kau menjalankan pesan terakhir Mom,” Lanjutnya.

“Pesan bahwa aku tidak boleh membencimu? Begitu?” Balas İsmet sarkastis. Sang ayah hanya bisa membisu. Tidak tahu lagi apa jawaban yang tepat untuk mengakhiri pertikaian antara keduanya. “Kau bisa dengan mudah bicara seperti itu, karena kau tidak pernah tahu bagaimana perasaanku saat itu. Saat melihat wanita yang melahirkan dan membesarkanku diperlakukan tidak baik oleh bajingan tengik seperti dirimu,” Sergah İsmet emosi. Kata-kata tajam bagaikan belati dengan mudah terlontar dari mulutnya. Ia otomatis berdiri dan membelakangi ayahnya. Ia tidak cukup kuat untuk melihat wajah sang ayah.

“Apa kau sudah puas sekarang? Jika kau ingin menghinaku lagi, silahkan saja,” Ujar Mr. Koç, setelah bangun dari duduknya. İsmet bergeming. Ia mulai menyadari bahwa apa yang dilakukannya saat ini hanya akan membuat mendiang sang ibu semakin sedih. Melihat putranya yang kurang ajar dan berani-beraninya menghina ayah kandungnya sendiri. “Kuharap semua makianmu dapat menghapus semua kesalahanku,” Sambung Mr. Koç. Sejurus kemudian, Ia berjalan menghampiri İsmet lantas menepuk pundaknya pelan.

“Kau harus menjadi orang yang berguna bagi keluargamu kelak. Begitu ‘kan kata ibumu?”

İsmet menarik napas dalam-dalam, kemudian membuangnya secara perlahan. Ia mendongak, bukan untuk melihat langit-langit kamarnya, melainkan berpikir tentang kalimat ayahnya tadi.
“Tinggalkan pekerjaanmu yang tidak berguna itu. Mulailah hidup baru. Jadilah manusia yang lebih baik. Kau tahu… umurku juga mungkin tidak akan lama lagi,” Ucap Mr. Koç, suaranya terdengar lirih.

“Biar kutebak. Kau ingin aku untuk mengurus usaha perhotelanmu dan mencari wanita untuk kunikahi. Kemudian, membentuk keluarga serta melanjutkan keturunan, guna meneruskan usahamu lagi. Begitu?” Terka İsmet dan Ia sangat yakin bahwa inti dari pembicaran ini adalah hanya untuk berhenti dari dunia fotografi yang selama ini digelutinya. Juga mencari sosok wanita yang bersedia menikahi dirinya.

“Aku tidak berharap macam-macam, karena aku sudah tua. Sedangkan kau… Kau masih sangat muda. Demi dirimu sendiri. Pikirkan hal itu. Aku hanya tidak ingin kau sengsara nantinya,” Nasihat Mr. Koç mampu membuat hati İsmet sedikit luluh. Ia sadar bahwa Ia tidak bisa terus-menerus mempertahankan keegoisannya. Bagaimanapun juga, Mr. Koç adalah ayah kandungnya. Dalam dirinya berarti mengalir darah sang ayah.

Dad, aku masih banyak urusan. Aku yakin kau juga begitu,” Kata İsmet, terdengar seperti ingin mengusir ayahnya secara halus. Namun sungguh, Ia tidak bermaksud seperti itu. Ia hanya butuh waktu untuk sendiri saat ini.

“Baiklah. Aku pergi. Semoga kau segera mendapat wanita baik-baik untuk mendampingimu.” Satu lagi kalimat Mr. Koç yang dapat membuat kepala İsmet seperti ingin pecah. Sudah terlalu banyak wanita yang dekat—atau bisa dibilang pernah bersetubuh—dengan İsmet, hingga Ia sendiri kebingungan untuk memilih satu diantara mereka. Haruskah Ia memilih Emma? Wanita yang lebih sering menghabiskan waktu bersamanya. Atau mungkin Tuhan sedang menyiapkan wanita yang lebih baik dari seorang Emeraude Toubia? Entahlah. İsmet hanya bisa menunggu sampai waktunya tiba.

Mr. Koç beralih menuju pintu dan hendak keluar dari apartment İsmet. Tidak diduga, putranya itu malah menahan tangannya.

“Maafkan aku, Dad.”

-TBC-

A/N:

Hola! Yeay, akhirnya Chapter 1 rampung juga 😀 *tepuktangan* Sebenarnya, proses pembuatan chapter kali ini lumayan sulit. Masih dalam keadaan haru karena saya secara resmi ditolak oleh pihak SNMPTN. It’s Okay *senyumsoktegar* Hahaha… And I’m officially #PejuangSBMPTN2k16 Haha 😀
Udah ah. Malah jadi curhat gini. Maafkan Author yang doyan curhat, ya kawannddd :*
Btw, Mila udah OTW Chapter 2, lho. Makasih ya, Mil. Udah mau nemenin kegilaan diriku selama ini Hehe. Love You {}
Sekian.

Ini beberapa Cast yang muncul di Part ini:

ekin-koc-kimdir3(Ini İsmet)

12715197_978672458869760_259062552756711340_n.png
(Ini Anastasia a.k.a Nasia)

PicsArt_04-30-03.32.01
(Kalo yang ini kayaknya pada tau, ya? Yup! Marc Marquez)

PicsArt_05-13-07.52.27
(Ini cabe-cabeannya İsmet Haha. Namanya Emeraude Toubia a.k.a Emma)

Advertisements

5 thoughts on “THE LAST PETAL-Chapter 1

  1. Pingback: MORE FANFICTIONS | Pink Macaroon Fanfictions

  2. Haaii… Aku suka sama cerita inii. Suka juga sama cara penulisan kamu. Ngena dan kata-katanya oke. Eh, Dani kenapa ga dikasih fotonya pas di akhir? 😦 hmm, Ismet tampan yaa… wkwkwkwk…

  3. Apa deh ini, aku telat bacanya. Maaf ya, maaf :3 Marc jadi arsitek? Wah, kebetulan suka banget sama tokoh yg profesinya arsitek. Puk puk Dani banget ya di sini. Sini Mas, tak peluk *ek. Si Ismet ini mukanya kok ngajakin ke KUA ya wkwkwkwk. Aku suka sama Nasia, well, dia itu unik ya, cuma dikasih saran yg mainstream tp bisa jdi yg anti mainstream. Hohohoho. Ya pasteslah bapaknya Ismet kek begitu, anaknya begono. Setiap orangtua pasti pengin yang terbaik buat anaknya *yagitukalik*. Oke, nextnya ditunggu ya, keep writing 🙂

    • Thanks for reading, ya kaknis:D gapapa dani kan di masa dpn bisa sama aku😻 *eh tp ismet jga calon imam masa depanku jga* wkwk aku gak ngerti otaknya nasia terbuat dr apa hehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s